Warning: Trying to access array offset on null in /home/anandap1/nusantarareview.com/wp-content/themes/nr/framework/partials.php on line 61
Warning: Trying to access array offset on null in /home/anandap1/nusantarareview.com/wp-content/themes/nr/template-parts/sections/post-slider.php on line 15
Warning: Trying to access array offset on null in /home/anandap1/nusantarareview.com/wp-content/themes/nr/template-parts/sections/post-slider.php on line 41
Warning: Trying to access array offset on null in /home/anandap1/nusantarareview.com/wp-content/themes/nr/template-parts/sections/post-slider.php on line 42
Warning: Trying to access array offset on null in /home/anandap1/nusantarareview.com/wp-content/themes/nr/framework/partials.php on line 81
Warning: Trying to access array offset on null in /home/anandap1/nusantarareview.com/wp-content/themes/nr/template-parts/sections/post-tiles.php on line 15
Jika kita membaca memoar Mayjen TNI Achmad Tirtosudiro dalam Jenderal dari Pesantren Legok, di mana ia disuruh Mayjen TNI Soeharto menghubungi CIA guna meminta bantuan kepadanya, mengubungi para duta besar asing, dan perusahaan-perusahaan besar, maka dapat dikatakan Soeharto tidak hanya membuka terjadinya political decay, state capture, dan economy control semata, namun juga telah berhianat kepada bangsa ini.
Tapi percayalah bahwa mereka yang menamakan diri Orde Baru itu, hanya merupakan sekelompok tentara yang lebih mengutamakan bisnis daripada profesionalismenya.
Karena seperti yang sudah-sudah, jabatan tinggi tanpa garis komando adalah pengucilan. Hariyadi tak ingin mengulang kasus Tan Malaka. Pemegang jabatan masa transisi berakhir tragis di bawah tekanan keras pemerintah yang dulu demikian mempercayainya.
Bij jouw, ‘t zal wel erger. Kata Soekarno kepada Soeharto. Kutukan itu dapat memiliki dua arti. ‘Bilamana anda yang mengerjakan (memimpin), keadaan akan lebih (jelek)’. Atau, ‘Anda akan mengalami hal yang lebih jelek’.
Mutiara Jiwa
Siapa akan menyapa kepada orang kalah. Semua akan berusaha melupakan, biarpun kenal dan baik pada masa lalu. Ia merasa seperti dalam suasana pepatah Jawa, suket godong dadi mungsuh.
Kemiskinan adalah waktu ibadat kita, Janganlah kita terluka karenanya, Kekurangan, kesempitan, kesulitan, dan ketidakadaan, hanyalah tempat-tempat ibadat agar kita khusuk dalam berdoa. Tidak ada yang terengut darinya, Karena ia hanya lebih memberi ruang kepada kita, untuk melompat lebih jauh dari semula.
Proposal
Sebab demokrasi itu memang asik dibicarakan untuk rakyat biasa, namun tidak asik untuk pemilik modal dan penguasa.
Keserakahan
Kalau perusahaan saya bangkrut atau saya dan keluarga saya sakit, apakah negara akan membantu saya? Biarpun selama ini saya menyumbang pajak kepada negara 250 milyar perbulan. Adil tidak itu.
Irawan Djoko Nugroho adalah seorang Filolog Jawa Kuno lulusan S1 Fakultas Sastra, Jurusan Sastra Jawa, Universitas Gajah Mada di Yogyakarta tahun 1996, serta mendalami Studi S2 Ekonomi Syariah di Universitas Azzahra Jakarta tahun 2013-2015 (tidak selesai). Irawan pernah bekerja di bidang Warehouse dan Logistik. Diantaranya: PT. Gajah Tunggal Petrochem Karawang Divisi Polyester dan PT. KYPJO (Kelsri-Yin-Promits Join Operation) di Tangguh Papua (Piping Onshore). Pada tahun 2009 hingga kini, aktif sebagai penulis dan wartawan Majalah Madani.
Beberapa karyanya yang telah terbit adalah: Meluruskan Sejarah Majapahit, dan Majapahit Peradaban Maritim, dan Bumi Tak Bertepi. Kedua buku pertama, menjadi best seller dan mampu membuka kotak pandora sejarah yang selama ini berusaha ditutupi keberadaannya.
Analisisnya yang tajam tentang teks mampu memberikan masukan berharga bagi pemahaman sejarah yang sebenarnya, sambil menutup era kajian teks sejarah generasi lama. Seperti: Majapahit adalah negara federal, Gajah Mada ada 2, Raden Patah sebagai putra dari Putri Cina dan Raja Brawijaya V hanyalah rekaan pujangga Mataram. Selain itu juga mampu memberikan masukan tentang luas wilayah Majapahit yang meliputi Kekaisaran Dinasti Ming berdasar teks Dinasti Ming, dimana dalam teks tersebut Kaisar Cina menyatakan dirinya rakyat Majapahit. Disamping itu pula mampu mereplikakan Kapal Majapahit yang tidak dapat dilakukan para arkeolog nasional dan dunia, serta memberi memberi argumentasi logis bahwa kisah Cheng Ho hanya rekaan semata.
WA : 0813 8814 5819 | Email : [email protected]