Bumi Manusia kini telah difilmkan. Rencananya film yang mendasarkan pada salah satu novel dari Tetralogi karya Pramoedya Ananta Toer ini, akan dibuatkan sequelnya.

Bumi Manusia adalah sebuah novel yang unik. Dari yang terlarang dibaca di masa ORBA kini dapat disaksikan siapa saja. Suatu perubahan yang tentu sangat radikal, bagi yang pernah melihat perjalanan sejarahnya. Film yang diadopsi dari novel Bumi Manusia ini, di twitter telah dihangatkan sebagai film yang mampu melahirkan nilai kebangsaan. Terlebih, ia juga dirilis pada hari kemerdekaan nasional ke-74.

Kesamaan Tetralogi dan Siti Nurbaya

Sayangnya, anggapan tersebut jauh panggang dari api. Tetralogi Pramoedya Ananta Toer, ternyata tidak lebih dari karya-karya yang diterbitkan oleh Balai Pustaka. Karya yang mendapat sensor ketat Belanda menyangkut rasa nasionalisme dan kesadaran kebangsaan. Kesamaan ini, lebih khususnya lagi dengan Siti Nurbaya karya Marah Rusli.

Secara garis besarnya, point of view Pramoedya dan Marah Rusli memiliki kesamaan yang sangat kuat. Mereka sama-sama mematikan tokoh pejuang nasionalnya, memenangkan tokoh kolaboratornya, dan akhirnya pihak asing yaitu Belanda dicatatkan paling mendapat banyak keuntungan. Dalam Tetralogi Pramoedya, tokoh pejuang nasional adalah Minke dan tokoh kolaborator adalah Pangemanann. Dalam Siti Nurbaya, tokoh pejuang nasional adalah Datuk Maringgih dan tokoh kolaborator adalah Syamsyulbahri.

Pramoedya Dan ORBA

Dengan adanya kesamaan tegas antara Tetralogi Pramoedya dengan Siti Nurbaya, maka pencitraan bahwa film Bumi Manusia mampu menghadirkan semangat kebangsaan, pantas dipertanyakan. Sebab mereka ternyata hanya mengarusutamakan kepentingan asing atau Belanda daripada bangsa sendiri. Jika pada era Balai Pustaka hal tersebut masih dianggap wajar, karena syarat terbit sebuah karya pada waktu itu harus mengunggulkan Belanda atau tidak bertentangan dengan kepentingan Belanda sebagai bagian utama sensor yang ada, bagaimana dengan era Pramoedya.

Tetralogi Pramoedya Ananta Toer lahir pada era ORBA. Sekalipun lahir di era ORBA, Pramoedya dipandang memiliki pandangan politik yang berlawanan dengan ORBA. Karenanya, ia kemudian dijadikan sebagai tahanan politik. Namun sekalipun bertentangan, sangat menarik ternyata dalam karya Tetraloginya, Pramoedya memiliki pandangan yang sama dengan ORBA. Jika ORBA mengarusutamakan asing dalam kebijakannya, Tetralogi Pramoedya ternyata sama. Mereka sama-sama memenangkan asing terhadap bangsa sendiri, sama-sama memasukkan chip mental inlander pada pikiran anak bangsa dengan kemenangan asing atas perjuangan anak bangsa.

Jadi, masih percaya film Bumi Manusia melahirkan semangat kebangsaan?

Sumber gambar:

  1. https://zetizen.jawapos.com/show/14888/review-film-bumi-manusia-jawaban-atas-segala-keraguan

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*