Pada masa lalu, kesenjangan pendidikan antara masyarakat wilayah Nusantara dengan wilayah Jawa terjadi. Dari kesenjangan ini, maka Majapahit kemudian memberi beasiswa bagi pemuda Nusantara untuk di didik di Universitas di Majapahit. Para pengajar bagi program tersebut dipilih yang terbaik. Hal ini karena para praktisi seperti Raja Majapahit dan Mahapatih Gajah Mada, dicatat sebagai bagian dari staf pengajar, khususnya bidang ilmu pemerintahan dan hukum.

Bidang studi yang ditawarkan untuk para mahasiswa Nusantara pun beragam. Selain ilmu pemerintahan, terdapat Academi Militer Majapahit atau West Point Amerika Serikat untuk masa kini. Diluar 2 bidang studi tersebut, sangat dimungkin adanya bidang studi lain. Baik itu misalnya: tehnologi perkapalan, ekonomi serta kedokteran.

Sangat menarik jika keberadaan Universitas Majapahit tersebut, dicatat ditemukan dalam catatan para mahasiswa Nusantara yang pernah belajar di Universitas Majapahit. Seperti misalnya Kroniek van Kutai atau Hikayat Hang Tuah. Catatan tersebut menunjukkan jika keberadaan Universitas Majapahit tidak sekedar klaim sepihak dan juga memiliki bobot sejarah yang sangat tinggi.

Universitas Studi Ilmu Pemerintahan

Salah satu catatan yang cukup lengkap bagaimana mahasiswa Nusantara memperoleh pendidikan di Majapahit adalah Kroniek van Kutai. Di dalam Kroniek van Kutai, para mahasiswa yang dicatat belajar ke Majapahit adalah Maharaja Sakti dan Maharaja Sultan dari Kutai Karta Nagara. Mereka memilih belajar ke Jawa sebagai tujuan belajar karena adat dan tatakerama terbaik pada masa itu.

Maka kata Maharadja Sakti: “Sebenarnja kata adinda itoe akan tetapinja yang kakanda dengar wartanja negeri jang baik ‘adatnja dan tatakeramanja kepada radja dan kepada menteri kepada orang toea-toea hanjalah tanah negeri Djawa ratoe Madjapahit itoelah radja jang koeasa teroes tanpa ningal sidik tanpa pangoetjap itoelah radja patoet akan memegang perdjandjian kita serta memberi kita ‘adat tatakrama akan tetapinja adapoen kakanda semoea ini lagi hendak mendjoemenangkan adinda sang ratoe djika telah selesai dari pada pekerdjaan kakanda semoea ini maka baharoelah kita berpikir pergi”, (Constantinus Alting Mees, 1935: 191).

Pendidikan yang diterima diantaranya adalah berbagai tata kelola pemerintahan dan adat yang berlaku di Majapahit. Mahasiswa yang belajar dibedakan untuk pendidikan raja atau menteri.

Pelajaran tata kelola pemerintahan yang untuk pendidikan raja itu misalnya adalah sebagai berikut. Itoelah wasiat Maharadja Berma Widjaja kepada Maharadja Soeltan kemudian poela Maharadja Soeltan: “Berapa perkara tempat patik bolėh memboenoeh seperti anak radja-radja seperti orang besar-besar dan seperti orang ketjil kesalahannja jang boleh memboenoeh”. Maka sahoet sang ratoe: “Adapoen jang tempat radja bolėh memboenoeh anak radja-radja dan kedoea orang besar-besar ketiga orang ketjil-ketjil pertama-tama salah didalam roemah radja dan kedoea mendoeai keradjaan dan ketiga menjalangi hati radja dan keempat mematoek lidah radja kelima menteri menggoelinga tata keenam toemenggoeng malap boemi ketoedjoeh satria mengamoek itoelah jang tempat radja itoe bolėh tempat radja memboenoeh potong kepalanja dan digantoeng dialoen-aloen anak bininja dirampas diambil kedalam jadi ‘abdi radja”, (Constantinus Alting Mees, 1935: 209).

Pelajaran tata kelola pemerintahan yang untuk pendidikan menteri itu misalnya sebagai berikut. Soedah itu maka bertanja lagi Maharadja Sakti kepada Patih Gadjah Mada katanja: “Berapa perkara jang kita peliharakan menghadap radja itoe”. Maka kata Patih: “Adapoen jang peliharakan kita menghadap radja itoe hendaklah ia menoedoengi betis kiri dan kanan serta hendaklah ia menoendoekkan kepalanja serta mengoelpoelkan kedoea djarinja tangannja merendahkan dadanja serta ia hendak menerangkan telinganja kalau-kalau ia dilawan radja berkata-kata serta djanganlah ia berbisik-bisik djikalau ia menghadap radjanja”, (Constantinus Alting Mees, 1935: 222).

Pemberian Ijazah di Akhir Studi

Setelah menempuh pelajaran di Universits di Majapahit, mahasiswa akan memperoleh ijazah dan dapat pulang ketempat asalnya. Disana Mahasiswa tersebut dapat menerapkan pelajaran yang diperoleh di Majapahit.

Maka Maharadja Soeltanpoen menjembah laloe menghadap sang ratoe berhadapan maka sang ratoe Maharadja Berma Widjajapoen memberilah ‘adat oedoe negaro kepada padoeka anakanda Maharadja Soeltan serta ia menjoeroehkan ia segera poelang, (Constantinus Alting Mees, 1935: 223).

Sumber:

  1. Constantinus Alting Mees De Kroniek Van Koetai. Santpoort: N.V. Uitgeverij V/H C.A. Mees, 1935.
  2. Kasim Ahmad, M.A   Hikayat Hang Tuah. Menurut Naskhah Dewan Bahasa dan Pustaka. Kuala Lumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka Kementrian Pelajaran Kuala Lumpur, 1964.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*