Heboh tradisi ritual mencari pesugihan di Gunung Kemukus terus mengemuka. Tradisi ini mensyaratkan sebuah “laku” yang unik, yaitu melakukan hubungan seks dengan pasangan tidak sah pada malam Jum’at Pon atau Jum’at Kliwon. Tradisi kemukus menjadi heboh setelah Patrick Abboud, jurnalis video dari program TV SBS, Dateline mengangkatnya di media internasional.

Gunung Kemukus sendiri adalah sebuah gunung yang terletak di Desa Pendem, Kecamatan Sumber Lawang, Kabupaten Sragen, 30 km sebelah utara Kota Solo. Guna mencapai wilayah tersebut, dapat start dari kota Solo kemudian naik bus jurusan Purwodadi dan turun di Belawan. Di Belawan, terletak di sebelah kiri jalan akan tampak pintu gerbang yang bertuliskan “Daerah Wisata Gunung Kemukus”. Dari pintu gerbang ini dengan naik ojek atau berjalan kaki kemudian menuju tempat penyeberangan dengan perahu menuju Gunung Kemukus.

Sejarah Tradisi Kemukus

Kisah tradisi Kemukus disematkan kepada legenda Pangeran Samudro. Menurut legenda pula, Pangeran Samudro berasal dari kerajaan Majapahit. Namun ada juga yang menduga ia dari zaman Pajang.

Dalam legenda tersebut, dikisahkan jika Pangeran Samudro jatuh cinta kepada ibunya sendiri (Dewi Ontrowulan). Ayahanda Pangeran Samudro yang mengetahui hubungan anak-ibu tersebut menjadi murka dan kemudian mengusir Pangeran Samudro.

Dalam kenestapaannya, Pangeran Samudro mencoba melupakan kesedihannya dengan melanglang buana, akhirnya ia sampai ke Gunung Kemukus. Tak lama kemudian sang ibunda menyusul anaknya ke Gunung Kemukus untuk melepaskan kerinduan.

Namun sial, sebelum sempat ibu dan anak ini melalukan hubungan intim, penduduk sekitar memergoki mereka berdua yang kemudian merajamnya secara beramai-ramai hingga keduanya meninggal dunia. Keduanya kemudian dikubur dalam satu liang lahat di gunung itu juga.

Menurut cerita, sebelum menghembuskan nafasnya yang terakhir Pangeran Samudro sempat meninggalkan sebuah pesan yaitu kepada siapa saja yang dapat melanjutkan hubungan suami-istrinya yang tidak sempat terlaksana itu, ia akan terkabul semua permintaannya.

Tradisi Anti Mataram

Penyematan tradisi Kemukus kepada Majapahit dan Pajang, pada dasarnya merupakan tradisi yang tidak memiliki sumber acuan pasti. Namun demikian tradisi ini bila diamati secara lebih teliti ternyata memiliki kesamaan dengan tradisi Mataram lain yaitu Nyi Rara Kidul. Sang Ratu Laut Selatan.

Keduanya sama-sama dinisbatkan dengan lautan. Pangeran Samudro dalam arti harfiahnya berarti pangeran lautan atau penguasa lautan. Sedangkan Nyi Rara Kidul yang dalam arti harfiahnya berarti putri dari selatan dinisbatkan sebagai penguasa Laut Selatan.

Namun demikian keduanya ternyata memiliki fungsi yang ternyata berbeda. Ketika Mataram dicatat menutup diri pada era Panembahan Senapati dan Panembahan Seda ing Krapyak, armada laut Jawa yang besar era Majapahit, Demak dan Pajang berakhir. Orientasi Mataram politik Mataram menjadi daratan. Karena itu Mataram kemudian menakut-nakuti masyarakatnya untuk tidak melaut dengan memunculkan kisah Nyi Rara Kidul yang suka meminta tumbal.

Kisah Pangeran Samudro seakan menentang kisah resmi Mataram. Jika ingin kaya harus datang ke Pangeran Samudro. Harus berani kembali ke lautan atau harus menjadi penguasa lautan (Pangeran di Lautan) seperti pada era Majapahit. Hanya sayangnya, kisah ini ternyata kemudian dimaknai secara harfiah dan diselewengkan. Jika ingin kaya harus datang ke makam pangeran Samudro. Akibatnya nilai outward looking yang harus dikembangkan tidak ada. Nilai ini berubah menjadi tradisi yang keliru dan salah.*

 

 

 

 

 

Sumber

  1. http://otakberita.blogspot.com/2012/10/asal-usul-ritual-mesum-pesugihan-gunung.html#ixzz3MhtF74B3
  2. http://otakberita.blogspot.com/2012/10/asal-usul-ritual-mesum-pesugihan-gunung.html
  3. https://doerycmd.wordpress.com/2014/11/19/sejarah-ritual-seks-gunung-kemukus/

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*