1. Pengantar

Dalam lini facebook Meluruskan Sejarah Majapahit, Dede Iman Purnomo menanyakan tentang teknologi era Majapahit. Pertanyaan yang kesannya sederhana ini, ternyata tidak sesederhana dalam menjawabnya. Hal ini karena banyak acuan harus dilihat kembali untuk membantu menjawabnya.

Membahas teknologi Majapahit pada dasarnya tidak lepas dari penerapan Etika Jawa Kuna yang diterapkan masyarakat Jawa Kuna termasuk Majapahit. Etika ini menekankan pada filsafat rasionalisme yang diusung masyarakat Jawa Kuna masa itu. Penekanan filsafat ini berbeda dengan filsafat yang diusung masyarakat Asia pada umumnya, seperti India, Cina, Korea, Jepang, dan bahkan bangsa Eropa. Masyarakat Asia dicatat mengadopsi filsafat determinisme yang berbasis karma atas pekerjaan yang dilakukan. Sebagai akibatnya, bangsa Asia tersebut tidak dicatat sebagai pembawa obor pengetahuan dan teknologi untuk kemajuan dunia pada masa itu. (1)

Hal tersebut dapat dilihat dengan tidak adanya catatan sejarah mengenai peran penting mereka dalam perdagangan dunia. India sekalipun sebagai pemilik agama Hindu dan Budha dicatat tidak memiliki peran dalam perdagangan yang mampu membawa kemajuan teknologi terbaik pada masanya seperti teknologi perkapalan. Demikian pula tidak adanya peran penting bangsa-bangsa lain seperti Cina, Jepang, Korea, atau Asia Tenggara lain, serta Eropa pra abad ke-15.

Dalam Catatan Dinasti Cina (2), Jawalah yang dicatat mengirim armada dagang ke Cina untuk pertama kalinya dari Nusantara. Duta Jawa dicatat dalam Sejarah Liu Song (420-479). Setelah Jawa, diikuti Sumatera sebagaimana yang dicatat dalam Sejarah Dinasti Liang (502-557). (3) Baru kemudian ikuti negara lain di Nusantara. Dan sekalipun bangsa-bangsa di Nusantara juga kemudian dicatat melakukan perdagangan yang sama, namun tetap tidak ada yang seintens sebagaimana yang dilakukan Jawa. Termasuk tentu saja yang dilaksanakan oleh Majapahit. Tidak dicatat juga hubungan sebaliknya dalam artian armada dagang Cina ke Nusantara. Armada Cina tidak dicatat dalam Catatan Dinasti Cina mengirim armada dagang ke Nusantara. Kedatangan Dinasti Cina di Nusantara dilakukan oleh para pendetanya dengan kapal Nusantara dan bukan kapal Cina. Tidak dicatat pula adanya kapal-kapal Jepang dan Korea yang mengangkut perdagangan kala itu. (4) Semua itu menunjukkan jika teknologi perkapalan dunia selain Nusantara dengan utamanya Jawa,  tidak berkembang.

Armada perdagangan yang dilakukan Jawa, dicatat dilakukan secara besar-besaran. Armada perdagangan tersebut tidak hanya dilakukan ke Cina. Terkait perdagangan ini, Marco Polo mencatat tentang Jawa: Kemudian, dari tempat itulah para pedagang dari Zai-tun dan Manji mengimpor logam mulia, yang menurut ukuran impor masa kini, jumlahnya sangat besar”. (5) Hal senada juga disampaikan oleh Omar Thaib salah seorang sarjana Turki. Sebelum dikuasai orang Eropa, perdagangan telah dilakukan secara-besar-besaran. Penguasaan perdagangan oleh Eropa kemudian membuat kemunduran ekonomi Kerajaan Usmaniyah pada tahun 1628. (6)

  1. Teknologi Majapahit

Teknologi pada dasarnya tercipta untuk memberi kemudahan pekerjaan bagi manusia. Semakin membuat pekerjaan manusia menjadi mudah maka teknologi yang diterapkan dapat dikatakan sebagai teknologi yang terbaik. Misalnya saja teknologi pesawat. Dengan mampu membuat kemudahan mengangkut manusia atau barang dalam satu wilayah ke wilayah lain dengan jarak yang sangat jauh dalam waktu yang relatif singkat, maka teknologi pesawat menjadi teknologi terbaik dibanding teknologi angkutan lain pada umumnya.

Teknologi pesawat terlebih pesawat besar pada dasarnya tidak dapat berdiri sendiri. Ia demikian kompleks. Ia didukung oleh pendidikan yang fokus terhadap perkembangan teknologi tersebut. Ia juga didukung oleh teknologi lain sebagai teknologi pendukung dengan jenjang pendidikannya masing-masing. Ia juga didukung oleh entrepreneur yang membuatnya terus digunakan sebagai sarana angkutan terbaik dan utama dan menghasilkan hasil maksimal sampingan terkait keberadaannya. Demikian juga teknologi perkapalan pada masa lalu. Majapahit sebagai pemegang lisensi perkapalan utama dunia, karena mampu melakukan perdagangan skala besar dibanding negara lain di dunia, juga memiliki konsep sama terkait teknologi perkapalan yang menjadi satu-satunya teknologi terbesar dan terbaik pada masanya. Teknologi perkapalan kala itu menjadi sebuah teknologi yang sangat kompleks seperti teknologi pesawat pada saat ini.

Berbagai disiplin ilmu hadir dalam teknologi perkapalan kala itu. Baik teknologi perkapalannya sendiri, teknologi navigasi, teknologi peta, teknologi perapatan papan tanpa menimbulkan kebocoran, teknologi logam pendukung agar tidak mudah karat saat terendam lama di lautan, teknologi persenjataan, teknologi handling dan logistik, maupun disiplin ilmu yang melahirkan entrepreneur, sebagai contohnya. Semua harus sebagaimana teknologi perkapalan yang ada, selaras dengan teknologi perkapalan yang dimiliki. Dan ternyata sebagaimana catatan teknologi perkapalan yang dimiliki, teknologi pendukung tersebut berdasar data yang ada, memiliki kesesuaiannya.

2.1 Teknologi Perkapalan

Kapal di Majapahit terdiri dari tiga tipe. Jung, Malangbang, dan Kelulus. Kapal ini ternyata memiliki kemiripan dengan data Portugis tentang kapal Demak. Menurut data Portugis, kapal Demak dicatat juga memiliki 3 tipe. Junco, Pangajava, dan Lancharas. Adanya kemiripan pengucapan dan ketiga tipe kapal tersebut, sangat dimungkinkan jika kapal Demak merupakan kapal kelanjutan dari kapal Majapahit. Dalam catatan Portugis, teknologi kapal Junco sangat istimewa. (7)  Keistimewaan tersebut adalah sebagai berikut.

  1. Kapal tipe Jong dicatat Gaspar Correia seorang penulis sejarah Portugis pada awal abad ke 16, lebih besar dari kapal tertinggi dan terbesar Portugis yaitu Flor de la Mar. Gaspar Correia melukiskan tingginya Jong dengan menyebut bagian belakang kapal Flor de la Mar yang sangat tinggi hampir tidak dapat mencapai jembatan kapal Jong.
  2. Kapal Jong itu dicatat berani menghadapi skuadron kapal pengiring Gubernur Portugis yang terdiri dari 40 kapal secara sendirian dan mampu melakukan perang sengit selama 2 hari 2 malam.
  3. Salah satu tehnologi utama Jong adalah dimilikinya tehnologi yang dapat merapatkan kayu pada kapal layar raksasa. Dengan teknologi ini pula, lambung kapal menjadi sangat kuat terhadap tembakan meriam besar dari Portugis. Sebagai perbandingan, meriam Portugis dicatat Hikayat Hang Tuah mampu menghancurkan jembatan besar dan kokoh Malaka.
  4. Kuatnya teknologi merekatkan kayu pada kapal layar semakin unggul karena dinding kapal Jong terdiri dari 4 papan kayu tebal atau empat papan penutup, saling tumpuk.
  5. Teknologi kapal Jong semakin istimewa karena menggunakan sistem tehnologi knock down. Di mana saat kapal itu menua, papan-papan lama dapat diperbaiki dengan papan baru.
  6. Panjang kapal Jong dibanding kapal Flor de La Mar diperkirakan sepanjang 313,2 m – 391,5 m. (8) Panjang kapal ini lebih besar dari kapal Titanic yang karam pada awal abad 20. Bahkan setara dengan kapal Induk AS pada saat ini. Bangsa Eropa kiranya tidak mampu mengadopsi tehnologinya, termasuk bangsa lain di Asia. Karena kapal Amerika Serikat abad ke-19 bernama Great Republik pun belum mampu memecahkan sistem tehnologi Jong, dan hanya mampu membuat kapal sepanjang 100,5 m. (9)

2.2 Teknologi Navigasi

Sebelum kedatangan bangsa Eropa, Majapahit dicatat telah melakukan pelayaran ke seluruh dunia sebagaimana masa-masa sebelumnya. Mengingat pelayaran tersebut menggunakan angin, maka teknologi navigasi menjadi sangat penting untuk dimiliki.  Sayangnya catatan teknologi navigasi Majapahit tidak tercatat. Hanya saja pada era Demak, Demak dicatat memiliki teknologi navigasi kompas sebelum bangsa Eropa datang. Berhubung pelayaran samudera telah dilakukan jauh sebelum Demak, maka dimungkinkan teknologi navigasi Demak merupakan kelanjutan teknologi navigasi Majapahit. Keunggulan teknologi navigasi era Demak diantaranya adalah sebagai berikut.

  1. Mengenal kompas. (10)
  2. Kapal-kapal Portugis yang pertama berlayar di perairan Indonesia dicatat menggunakan mualim setempat untuk mengantarkannya ke tempat tujuan. Dalam ekspedisi Magelhaens pada 1521 misalnya, d’Elcano dicatat menculik dua perahu pandu laut setempat untuk mengantarkan kapal-kapalnya dari Filipina ke Tidore. Pada pelayaran pertama oleh orang-orang Belanda dipimpin Cornelis de Houtman, mereka selain menggunakan orang Portugis yang pernah datang di Indonesia, juga memanfaatkan pengetahuan dan pengalaman mualim-mualim setempat, misalnya pelayaran di Selat Sunda sampai Banten. Kapal-kapal Belanda yang pertama menerima tawaran adalah dari para juragan perahu yang dijumpainya di selat Sunda, untuk mengantarkannya ke Banten dengan sewa 5 real. (11)

2.3 Teknologi Kartografi

Peta memiliki peran penting dalam dunia pelayaran selain kompas. Peta lahir dari hadirnya ilmu teknologi kartografi. Menurut data Portugis, peta yang terbaik yang pernah ada pada masa itu yaitu tahun 1512 adalah Peta Jawa.  Peta Jawa dicatat dikirim Gubernur Alfonso d’ Albuquerque pada 1 April 1512 kepada rajanya Raja Manuel. (12) Menurut pengakuannya, peta itu adalah peta terbaik yang pernah ia lihat. Dan karena pelayaran kapal layar telah dilakukan jauh sebelum Demak, maka dimungkinkan teknologi kartografi Demak juga merupakan kelanjutan teknologi kartografi Majapahit. Secara umum keunggulan teknologi Demak atau Majapahit adalah sebagai berikut.

  1. Menurut Gubernur Alfonso d’ Albuquerque, teknologi peta Jawa terbaik yang pernah ada pada masa itu.

2.4 Teknologi Logistik, Infrastruktur, dan Entrepreneur

Dalam mengelola teknologi perkapalan, tidak bisa tidak harus terkait dengan pengelolaan pelabuhan. Sebab pelabuhan merupakan pusat titik bertemunya teknologi perkapalan dengan manusia dan barang di sebuah wilayah. Memiliki teknologi perkapalan yang canggih di masanya harus diikuti dengan hadirnya entrepreneur dan infrastruktur pelabuhan serta handling dan logistik yang tercanggih yang mendukungnya. Keunggulan Teknologi Logistik, Infrastruktur, dan Entrepreneur yang ada di Majapahit diantaranya adalah sebagai berikut.

  1. Memiliki pelabuhan internasional terbanyak di dunia. Dalam prasasti Trawulan (1358), dicatat adanya banyak pelabuhan yang ada di Jawa, dimana dicatat sekitar 78 buah. Sementara itu menurut Tome Pires, sekalipun ia hanya mencatat pelabuhan di pantai utara Jawa, pelabuhan di Jawa dicatat sebanyak 25 buah. (13) Banyaknya pelabuhan ini menunjukkan infrastruktur Majapahit terbaik di dunia. Hal ini karena rata-rata negara di dunia kala itu, hanya memiliki 1-3 pelabuhan internasional.
  2. Pelabuhan internasional yang ada di Jawa dicatat terlengkap dan terbaik di dunia, karena menghadirkan barang-barang perniagaan utama dunia pada masanya. Hal ini disampaikan dalam catatan Ibn Battuta dan Ma Huan. (14)

2.5 Teknologi Logam

Teknologi logam sangat penting karena sangat mendukung teknologi perkapalan. Dengan hadirnya teknologi ini, maka banyak dapat dibuat barang-barang yang tidak berkarat saat terpapar air laut yang sangat lama. Keunggulan teknologi logam di Jawa diantaranya adalah sebagai berikut.

A. Lebih unggul dari teknologi logam India

Jika pada saat ini, banyak jenis logam ditemukan di mana setidaknya ada 20 jenis logam yang telah dikenal, namun pada masa lalu, belum seperti saat ini. Pada saat ini, beberapa jenis logam yang telah dikenal adalah sebagai berikut. Litium (Li), Natrium (Na), Kalium (K), Magnesium (Mg), Kalsium (Ca), Stronsium (Sr), Barium (Ba), Scandium (Sc), Titanium (Ti), Vanadium (V), Krom (Cr), Mangan (Mn), Besi (Fe), Kobalt (Co), Nikel (Ni), Tembaga (Cu), Seng (Zn), Aluminium (Al), Perak (Ag), Emas (Au), Kadmium (Cd), Air Raksa (Hg). Pada masa lalu, hanya sedikit dari jenis logam yang dikenal dan digunakan masyarakat. Menurut tradisi India, dikenal adanya 8 logam yang penting atau astalohamaya. Delapan logam tersebut adalah: suvara (emas), rajata (perak), tamra (tembaga), paittala (kuningan), kamsya (perunggu), ayasa (besi), saisaka (timah hitam), trapusa (timah putih).

Di dalam tradisi India, semua logam memiliki kedudukan yang berbeda. Berikut kedudukan logam dari yang tinggi sampai yang rendah, yaitu sebagai berikut. Suvarna (emas), rupya (perak), loha (besi), tamra (tembaga), trapu (timah putih), vangaja (seng), sisaka (timah hitam), dan riti (kuningan). Di India pula, dikenal adanya paduan logam. Paduan logam itu dikenal dengan istilah ‘asthadhatu’ dan ‘pañcaloha’ terutama untuk membuat arca. Asthadhatu adalah paduan logam terdiri dari 8 jenis logam pembuat perunggu yaitu: emas, tembaga, timah, perak, kuningan, timbal, besi, ditambah air raksa. Adapun pañcaloha adalah paduan logam dengan 5 unsur yaitu: emas, tembaga, timah, perak, dan timbal (sisaka). (15)

Di Jawa Kuna, berbagai logam yang terdapat di India juga dikenal. Misalnya: suvarna disebut dengan ĕmas atau mas (AW 19.11, Sut 80.2, RY 2.37), rajata (perak) disebut dengan pirak (Udy 28, RY 16.9, SD 32.11), tamra (tembaga) disebut dengan tāmra (Sut 30.13, OJO 23.7) atau tambaga (RY 16.38, Kor 180) serta sayang (Adg 42.18), paittala (kuningan) disebut dengan riti (TK 62), kamsya (perunggu) disebut dengan kangśa (OJO 23.7), ayasa (besi) disebut dengan wĕsi (OJO 23.7). Hanya saja di Jawa Kuna tidak mengenal padanan kata saisaka (timah hitam) dan trapusa (timah putih). Tehnologi logam di Jawa Kuna hanya mengenal istilah timah (RY 9.85). Tidak terdapat keterangan timah hitam atau timah putih. Namun demikian sangat dimungkinkan timah yang dikenal di Jawa Kuna adalah timah hitam dan timah putih sekaligus. Dalam RY 9.85 disebutkan: tar pawyat sang Hanūmān kadi wĕsi pinupuh ring mudgara timah. Uraian RY tersebut menunjukkan jika kekerasan logam timah lebih lunak dari logam besi.

Dibandingkan dengan India, Jawa Kuna mengenal logam yang lebih banyak dari di India. Beberapa logam tersebut adalah berbagai jenis baja. Yaitu, waja ‘baja’ (Kor 26, 192), malela ‘baja’ (Kor 26, KS 2. 134), waja tumpĕng ‘?’ (Kor 192) . Selain itu juga logam purasani ‘nama jenis besi’ (Kor 192) dan dhātu ‘hasil tambang, logam, terutama hasil tambang yang berwarna merah’ (TK 62, BY 23.6). Namun karena dhātu merupakan bahasa Sansekerta, maka dapat dikatakan jika logam dhātu sebenarnya juga dikenal di India. Hanya saja wujudnya seperti apa, belum diketahui pada saat ini.

Menurut Childe, pemanfaatan teknologi logam dalam kehidupan manusia dijadikan salah satu tolok ukur tinggi-rendahnya peradaban suatu bangsa. Dengan adanya waja, malela, dan waja tumpĕng maka dapat dikatakan jika teknologi logam Jawa pada masa lalu telah sangat maju. Tehnologi ini bahkan dapat dikatakan lebih baik dari tehnologi logam di India sendiri. Hal ini karena Jawa mampu membuat logam yang lebih keras dari yang telah ada sebelumnya. Mengacu pendapat Childe pula, dapat dikatakan jika peradaban Jawa sebenarnya lebih maju dari peradaban India.

B. Baja Produk Industri Utama Majapahit selain Pertambangan, Pertanian, dan Perikanan

Di dalam Yingya Shenglan (1416), dicatat jika produk utama Majapahit diantaranya adalah  kayu secang, intan, kayu cendana putih, lada, merica, baja, serta tempurung penyu, baik yang sudah diolah maupun yang mentah. (16) Produk-produk yang dicatat tidak dimiliki oleh Cina pada masa lalu. Hingga jaman Demak, teknologi baja juga dicatat keberadaannya, sebagaimana dicatat oleh Duarte Barbosa. They make in this country many guns and long muskets, and many other fireworks. And in all other parts they are much esteemed for this and as artillerymen. They have got many ships and great navigation, and many rowing galleys. They are great corsairs and mariners, and they make many kinds of arms of good temper and of good steel, wrought with very pretty inlaid work of gold and ivory. (17)

2.6 Teknologi Persenjataan 

Menurut catatan Yingya Shenglan (1416), prajurit Majapahit adalah prajurit terbaik  dari semua negara-negara barbar. (18) Negara-negara barbar di sini adalah istilah Cina untuk menyebut negara lain di dunia selain Cina. Pernyataan ini tidak berlebihan, karena Majapahitlah satu-satunya negara yang mampu mengalahkan Mongol bahkan membunuh Khubilai Khan sehingga menyebabkan Mongol runtuh. Keunggulan prajurit tersebut tidak hanya dalam kecakapan personilnya semata. Namun juga didukung teknologi persenjataan. Teknologi persenjataan yang dimiliki dan diproduksi Majapahit adalah sebagai berikut.

  1. Běḍil ‘senapan, senjata api model kuno’. Sumber. Kidung : KHWj 2.39; 2.61; K.S 1.48; 2.87, RL 1.54; 9.79.
  2. Běsar ‘besar (meriam?)’. Dalam contoh kata adalah běḍil běsar (senapan, meriam?)’. Sumber. Kidung : K.S 2.87.
  3. Brahmasara ‘senjata api’. Sumber. Kidung : K.P 4.260, K.S 2.111, K.R 7.26.
  4. Mimis ‘peluru kecil’. Sumber. Kidung : K.P 4.239, K.S 2.87, Ww 2.45.

2.6.1 Catatan Tentang Meriam Majapahit

Meriam Majapahit dalam catatan teks sangat unik. Majapahit tidak disebut langsung memiliki meriam. Dalam Kidung Sunda, běsar (meriam) dimiliki oleh Sunda. K.S 2.87: munggw ing banawa akeh punang wong Sunḍa, jurumodya ning běḍil běsar ing bahitra. Demikian pula dalam Hikayat Hang Tuah. Bedil dan meriam dimiliki oleh Malaka. HHT VI: Maka segala tunggul panji-panji pun terkembanglah dan meriam pun di-pasang orang-lah pada segala kelengkapan itu, terlalu gempita bunyi-nya. (19)

Sekalipun tidak dicatat langsung memiliki, namun istilah běḍil, běsar adalah istilah Jawa Kuna. Ini berarti Jawa Kuna dalam hal ini Majapahit mengetahuinya dengan pasti dan diperkirakan juga memilikinya. Dalam HHT pun, Majapahit tidak dicatat secara langsung memiliki bedil dan meriam. HHT hanya menyebut Majapahit juga mengirimkan sebuah kapal yang berisi senjata (20), saat menyambut kapal Malaka. Karena kapal Malaka memiliki bedil dan meriam, maka diperkirakan kapal Majapahit yang dikirim memiliki persenjataan yang sama. Sangat menarik kembali, istilah bedil yang digunakan Malaka ternyata merupakan istilah Jawa Kuna. Ini menunjukkan jika asal bedil sangat dimungkinkan asal usulnya berasal dari teknologi Majapahit. Hal ini karena Malaka saat baru datang ke Majapahit menurut HHT merupakan negara baru berdiri. Teknologi pembuatan senjata api dicatat Duarte Barbosa masih dimiliki oleh Demak. (21)

Catatan

  1. Lihat Etika Jawa Kuna, Irawan Djoko Nugroho, Etika Jawa Kuna, nusantarareview.com
  2. Lihat P. Groeneveldt, Nusantara dalam Catatan Tionghoa. Jakarta. Komunitas Bambu, 2009.
  3. P Groeneveldt mencatat, pada masa pemerintahan Kaisar Xiaowu dari Dinasti Song (454-464), raja negara Kandali, yakni Sa-ba-la-na-lin-da, mengirimkan seorang pejabat tinggi yang bernama Da-ru-da. Sang pejabat membawa barang-barang berharga yang terbuat dari emas dan perak. Lihat W.P Groeneveldt, 2009: 86. Namun pengisahan itu berlangsung pada masa Sejarah Dinasti Liang (502-557). Karena itu, kami menganggap pencatatan tertua tentang Sumatera terjadi pada masa Sejarah Dinasti Liang. Jawa, dalam menjalin hubungan dengan Cina, dicatat dalam Berita Cina, juga lebih awal daripada Sumatera. Jawa dicatat pada tahun 435, sedangkan Sumatera pada 454-464, atau sekitar 20 tahun kemudian setelah Jawa menjalin hubungan dengan Cina bila mengacu kisah Sa-ba-la-na-lin-da, mengirimkan seorang pejabat tinggi yang bernama Da-ru-da.
  4. Terkait Jepang (Jampon), Tome Pires mengatakan: They do not often trade in China because it is far off and they have no junks, nor are they seafaring men. Artinya, “Mereka tidak sering melakukan perdagangan di Cina karena jauh dan mereka tidak memiliki Jung (perahu besar antar pulau), tidak pula mereka memiliki pelaut. Lihat Armando Cortesao, 1967: 131
  5. The Travels of Marco Polo, via Robert Dick-Read, Penjelajah Bahari. Pengaruh Peadaban Nusantara di Afrika. Bandung: PT Mizan Pustaka, 2008, hlm. 144.
  6. Apud Bernard Lewis dalam Studies Islamica, 1958, hal 118 via C.R. Boxer, Jan Kompeni. Sejarah VOC dalam Perang dan Damai 1602-1799. Jakarta: Sinar Harapan, 1983, hlm. 46-47.
  7. Lihat Robert Dick-Reid, 2008: 69-70.
  8. Irawan Djoko Nugroho, Majapahit Peradaban Maritim, Jakarta: Yayasan Suluh Nuswantara Bakti, 2011, hlm. 307.
  9. John R. Hale, Abad Penjelajahan. Jakarta: Tira Pustaka, 1984: 86. Teknologi kapal junco Jawa kiranya tetap merupakan misteri. Mendesain kapal kayu besar tahan tembakan meriam, mampu merapatkan sambungan dan menahan merembesnya air dalam tekanan yang besar, kiranya merupakan tehnologi kapal kayu tercanggih yang pernah ada di bumi.
  10. Ludovico de Varthema, dalam perjalanannya pada 1506 dari Kalimantan ke Pulau Jawa, mengatakan ia melihat kompas telah digunakan oleh nakhoda kapal yang ditumpanginya. Selain kompas, kapal itu mempunyai sebuah peta yang penuh garis-garis memanjang dan melintang. Sementara itu, sang nakhoda bercerita bahwa jauh di sebelah selatan Pulau Jawa terdapat lautan yang besar, dan di sana, siang hari sangat pendek, hanya 4 jam. Lihat, A.M. Djuliawati Suroyo, Sejarah Maritim Indonesia 1: Menelusuri Jiwa Bahari Bangsa Indonesia Hingga Abad Ke-17. Semarang: Penerbit Jeda, 2007, hlm. 296.
  11. M. Djuliawati Suroyo, 2007: 292.
  12. Lihat, Anthony Reid, Asia Tenggara Dalam Kurun Niaga 1450-1680 Jilid 2: Jaringan Perdagangan Global, (Jakarta: Yayasan Pustaka Obor Indonesia, 2011), hlm. 55.
  13. Lihat Irawan, 2011: 235.
  14. Lihat Anthony Reid, 1992: 35, dan H.A.R. Gibb, 1983: 276.
  15. Lihat Prof. Dr. Timbul Haryono, M.Sc, Logam dan Peradaban Manusia Dalam Perspektif Historis-Arkeologis, Pidato Pengukuhan Jabatan Guru Besar pada Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, 27 April 2002.
  16. Groeneveldt, 2009: 67.
  17. Duarte Barbosa, A Description of the Coasts of East Africa and Malabar, Translated from an Early Spanish Manuscript in Barcelona Library with Note an a Preface, by The Hon. Henry E.J Stanley, London: Printed For The Hakluyt Society, 1866, hlm. 198.
  18. Groeneveldt, 2009: 56.
  19. Kassim Ahmad, MA, Hikayat Hang Tuah. Menurut Naskhah Dewan Bahasa dan Pustaka. Kuala Lumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka Kementrian Pelajaran Kuala Lumpur, 1964, hlm. 120.
  20. Kassim Ahmad, MA, 1964: 97.
  21. Lihat Duarte Barbosa, 1866: 198

Panduan Utama

  1. Irawan Djoko Nugroho, Meluruskan Sejarah Majapahit, Yogyakarta: Ragam Media, 2010.
  2. Irawan Djoko Nugroho, Majapahit Peradaban Maritim, Jakarta: Yayasan Suluh Nuswantara Bakti, 2011.
  3. Mansel Longwortth Dames, The Book Of Duarte Barbosa, Vol 1 dan 2. London: Printed for the Hakluyt Cociety, 1921.

Sumber Gambar:

  1. http://www.buysteelindonesia.com/?p=484

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*