Dalam catatan sejarah, suku Bugis dianggap para sejarawan sebagai pelaut yang memiliki sejarah maritim. Setidaknya terlihat dengan adanya hukum laut dan pelayaran Amannna Gappa.

Dalam Amannna Gappa tersebut misalnya, pada pasal pertama dijelaskan tentang sewa bagi orang-orang yang berlayar dan berdagang, antara lain seseorang yang berlayar atau berdagang dari Makassar Bugis, Paser, Sumbawa, Kaili Menyu Ace, Kedah, Kamboja, maka sewanya tujuh rial dari tiap-tiap seratusnya. Karena itu dengan adanya hukum laut tersebut, membuktikan jika  suku Bugis merupakan pelaut dan memiliki sejarah maritim.

Namun demikian, anggapan bahwa suku Bugis merupakan suku bangsa pelaut dan memiliki sejarah maritim sebagaimana yang diyakini para sejarawan, kini terus dipertanyakan. Salah satunya oleh Christian Pelras.

Pendapat Christian Pelras

Di dalam karyanya Manusia Bugis, Pelras menganggap jika suku Bugis bukan pelaut namun sebagai petani. Orang Bugis berkembang aktivitasnya di laut baru dalam abad ke-18. Di dalam buku baru Susanto Zuhdi, Orang Laut Nasionalisme Laut, Susanto Zuhdi mencatat pandangan Pelras terkait Bugis, yaitu sebagai berikut.

Bahwa orang Bugis sudah sejak dahulu kala berkarakter laut, merupakan anggapan yang diyakini oleh orang Sulawesi Selatan saat ini. Hal ini bertentangan dengan pendapat Pelras yang mengatakan bahwa sebenarnya baru dalam abad ke-18, orang Bugis berkembang aktivitasnya di laut (Pelras, 2006: 4). Pelras sendiri menyadari mengenai adanya anggapan yang telah berlangsung lama bahwa orang Bugis merupakan pelaut sudah sejak-abad-abad yang lampau. Hal ini bersumber dari banyaknya perahu Bugis yang pada abad ke-19 berlabuh di banyak pelabuhan di berbagai wilayah Nusantara, dari Singapura sampai Papua, dari bagian selatan Philipina hingga pantai barat laut Australia. Begitu pula ada yang mengatakan bahwa orang Bugis telah berlayar menyeberangi Samudera Hindia sampai ke Madagaskar. Mereka mungkin dikenal sebagai pelaut paling ulung di Asia Tenggara. Padahal kenyataannya orang Bugis pada dasarnya adalah petani, (Pelras, 2006:3-4).

Faktor pendorong orang Bugis bermigrasi keluar Sulawesi Selatan adalah ditaklukkannya Makasar dan Wajo pada akhir abad ke-17 dan pada saat Belanda berkuasa menegakkan pemerintah kolonial pada 1906. Lalu dalam sejarah Indonesia periode tahun 1950-an, akibat peristiwa Pemberontakan Kahar Muzakkar telah pula menjadi faktor pendorong orang Bugis-Makasar berpindah ke luar daerahnya (Pelras, 2006: 131).

Melihat pendapat Pelras tersebut, maka dapat disimpulkan sebagai berikut.

  1. Orang Bugis berkembang aktivitasnya di laut baru abad ke-18.
  2. Bahwa anggapan orang Bugis merupakan pelaut sudah sejak-abad-abad yang lampau, ternyata hanya bersumber dari banyaknya perahu Bugis yang pada abad ke-19 berlabuh di banyak pelabuhan di berbagai wilayah Nusantara, dari Singapura sampai Papua, dari bagian selatan Philipina hingga pantai barat laut Australia.
  3. Orang Bugis pada dasarnya adalah petani.
  4. Faktor pendorong orang Bugis-Makasar bermigrasi dimulai dari jatuhnya Makasar dan Wajo.

Tanggapan Atas Tanggapan

Pendapat Pelras mendapat dukungan dari Leonard Andaya. Menurutnya, diaspora Bugis-Makassar baru terjadi setelah ditandatanganinya perjanjian Bungaya tahun 1667, (Lihat Susanto Zuhdi, 2014: 96). Proses diaspora Bugis juga dicatat dalam Tuhfat Al-Nafiz dan Silsilah Melayu dan Bugis. Salah satu faktor keberhasilan diaspora Bugis menurut Andaya adalah karakter orang Bugis yang dapat dipercaya (bold trusty people), (Lihat Susanto Zuhdi, 2014: 97).

Gambaran bahwa suku Bugis bukan pelaut sebagaimana tersebut di atas, kiranya tidaklah keliru. Bila melihat uraian data-data Cina terkait Nusantara, suku Bugis bahkan Sulawesi tidak dicatat. Tidak ada catatan pengiriman misi dagang ke Cina oleh masyarakat Sulawesi. Bahkan dalam catatan Dinasti Ming sebagai dinasti terakhir masa klasik Cina juga tidak mencatat adanya Sulawesi.

Hal ini menunjukkan jika Bugis hingga masa akhir Dinasti Ming masih terikat di pantai-pantainya. Atau sebagai petani. Pengetahuan kelautan suku Bugis dapat dikatakan tentu berasal dari luar Bugis. Jika melihat kisah Sawerigading sebagai salah satu panglima perang yang memerangi Cina bersama Raja Sanjaya dari Mataram (Jawa), maka dapat dikatakan jika pengetahuan kapal yang memuat pasukan Sawerigading berasal dari Jawa. Mengingat sepeninggal Sawerigading, jika ia dianggap hidup di tahun 700-an, masyarakat Bugis-Makasar kembali sebagai bangsa petani, dan baru menjadi bangsa maritim setelah tahun 1667. Atau setidaknya muncul kembali pada masa Samerluki di kisaran tahun 1420-an, yang diawali setelah dinikahinya We Tappacina dari Majapahit oleh pangeran Makassar pada era sebelumnya.

Sumber:

  1. Andaya, Leonard Y, The Bugis-Makassar Diaspora, Journal of MBRAS, Vol. LXVIII Part 1, 1995.
  2. Bernard H.M. Vlekke, Nusantara Sejarah Indonesia. Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia, 2008.
  3. Irawan Djoko Nugroho, Majapahit Peradaban Maritim, Jakarta: Yayasan Suluh Nuswantara Bakti, 2011.
  4. Pelras, Christian, Manusia Bugis, Jakarta, Nalar: 2006.
  5. Pelras, Christian, The Bugis; Oxford: Blackwell, 1996.
  6. Reid, Anthony Asia Tenggara dalam Kurun Niaga 1450-1680: Tanah Dibawah Angin. Jilid 1. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, 1992.
  7. Supratikno Rahardjo, Peradaban Jawa: Dari Mataram Kuno Sampai Majapahit Akhir. Pengantar: Edi Sedyawati. Jakarta: Komunitas Bambu, 2011.
  8. Susanto Zuhdi, Nasionalisme, Laut, dan Sejarah. Depok: Komunitas Bambu, 2014.
  9. P. Groeneveldt, Nusantara dalam Catatan Tionghoa, Jakarta: Komunitas Bambu, 2009.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*