Membaca makalah Prof. Dr. Susanto Zuhdi,  berjudul Nusantara dan Kebudayaan Maritim: Suatu Perspektif Sejarah Buton, sangat menarik. Makalah ini merupakan makalah yang disampaikan dalam Diskusi Panel Serial  Kelima “Mengungkap Budaya Luhur Nusantara Menuju Peradaban Maritim Indonesia” bertema “Sistem Kemasyarakatan Dalam Budaya Maritim”, yang diselenggarakan oleh Yayasan Suluh Nuswantara Bakti, di Jakarta, Sabtu, 15 Februari 2014.

Dalam makalah ini, Susanto Zuhdi mengangkat wacana sejarah ditulis oleh sang pemenang. Kalah menang dalam periode sebelum Indonesia merdeka diukur oleh siapa yang menjadi sekutu atau seteru VOC/Belanda. Kerajaan-kerajaan yang bersekutu dengan VOC/Belanda bukan saja mereka berada di pihak yang kalah tetapi juga dilabeli sebagai “pengkhianat”. Satu di antara kerajaan Nusantara yang bersekutu dengan VOC/Belanda adalah Buton. Oleh karena itu pula maka Buton menjadi sejarah yang terabaikan.

Menurut Susanto Zuhdi kembali, pilihan Buton bersekutu dengan Kompeni pada masa itu adalah untuk keluar dari dominasi kerajaan besar yang mengapitnya yaitu: Gowa dan Ternate. Namun karena akibat sigmatisasi bahwa Buton sebagai ‘pengkhianat’ dalam sejarah Indonesia, maka mengakibatkan potensi kemaritiman orang Buton seperti terkubur atau setidaknya tersembunyi. Menjadi pertanyaan kemudian, sudah tepatkah sigmatisasi tersebut?

Sigmatisasi Sejarah Era Belanda

Sejarah sigmatisasi sebenarnya telah dimulai era Belanda. Pada masa Belanda, masyarakat Jawa pada masa lalu dilarang bercerita tentang Diponegoro. Diponegoro pun dicatat sebagai seorang perusuh oleh Belanda, yang harus disingkirkan. Demikian pula tokoh-tokoh lain penentang Belanda. Ketika Belanda kalah, sejarah yang diterima dari Belanda kemudian dibalik.

Pihak yang menentang Belanda dijadikan pahlawan dan demikian sebaliknya. Tokoh yang menerima Belanda bukan lagi pahlawan. Ketika sigmatisasi ini kembali dipertanyakan oleh Susanto Zuhdi, maka hal ini tentu sangat beresiko. Menjadi pertanyaan haruskah sigmatisasi itu kembali ke era sejarah Belanda.

Masukan Susanto Zuhdi agar sejarah masa lalu dilihat dari kacamata masa lalu sekalipun baik, namun kurang tepat bila dikaitkan dengan sejarah Belanda. Hal ini karena Belanda baru kalah selepas tahun 1949. Sehingga memori sejarah Belanda akan masih sangat kuat bila sigmatisasi itu tidak dibalik.

Sejarah Masa Lalu Tidak Berdiri Sendiri

Mempersoalkan sigmatisasi kiranya menjadikan bangsa ini terlepas dari sejarah masa lalunya. Bagaimanapun juga sejarah masa lalu merupakan bagian dari sejarah masa kini. Namun demikian, sigmatisasi seharusnya bukan ditimpakan kepada masyarakat secara luas, namun kepada pemerintah yang berkuasa ketika itu.

Bagaimana pun juga masyarakat pada saat itu tentu hanya akan tunduk kepada pemerintah yang berkuasa ketika itu. Sehingga mereka akan mengikutinya. Melihat kasus Buton, maka seharusnya sigmatisasi itu tidak ditimpakan pada masyarakat Buton secara keseluruhan. Namun demikian sigmatisasi itu tetap harus ada tapi terbatas.*

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*