(Sebuah Tanggapan Atas Pendapat Rendra)

Dalam salah satu pidato kebudayaan yang berjudul Megatruh, WS Rendra membandingkan Inggris dengan Majapahit. Rendra menyatakan: “Pada tahun 1295 Raja Edward dari Inggris memperbaiki hak-hak parlemen. Dia mengatakan bahwa hanya parlemen yang bisa mengubah hukum. Hal ini bersamaan dengan saat akhir pemerintahan Kertanegara dari Singasari dan munculnya Majapahit dibawah pimpinan Raden Wijaya. Kedua penguasa itu, boro-boro punya parlemen, punya kitab UU sebagai landasan pemerintahannya pun tidak. Sabda raja tetap unggul di atas segala-galanya”.

Pada dasarnya pernyataan WS Rendra tersebut di atas, dilandasi pengetahuannya akan sejarah yang berkembang ketika itu. Dimana Singhasari dan Majapahit masih dipandang sebagai kelanjutan dari Mataram-nya Panembahan Senapati. Dan Inggris merupakan negara dengan yang memiliki filosofi kenegaraan terbaik dibanding negara lain di dunia.

Sebenarnya, membandingkan Inggris dengan Singhasari atau Majapahit pada tahun 1295 tentu sangat berlebihan. Singhasari maupun Majapahit merupakan negara yang sangat besar dan merupakan negara yang mengembangkan seni kelautan yang kemudian dicontoh oleh Portugis. Demikian pula dalam seni pemerintahan.

Sistem Pemerintahan Majapahit

Majapahit sebagai misalnya, merupakan pusat dari kerajaan yang bernama Jawa. Majapahit merupakan kerajaan pertama di dunia yang mengembangkan sistem pemerintahan federasi. Sebagai negara federasi Majapahit telah mengenal adanya perwakilan dari negara federasi untuk membahas permasalahan negara. Perwakilan dari negara federasi tersebut dapat dikatakan sebagai bentuk awal parlemen negara juga. Perwakilan dari negara federasi tersebut diwakili oleh para patih dan para demung sebagaimana di catat dalam Nag. 10.2.

Sistem pemerintahan Majapahit pun lebih baik karena mengadopsi sistem pemerintahan aristokrasi dimana kekuasaan tidak berada hanya ditangan satu orang semata. Hal ini dapat dilihat dari penetapan hukum untuk mengganti Patih Gajah Mada yang meninggal. Penggantian itu melibatkan lembaga yang bernama Pahōm Narendra.

Selain itu sistem pemerintahan Majapahit juga lebih ke depan dengan menempatkan raja hanya sebagai kepala negara semata dan bukan sebagai kepala pemerintahan. Kepala pemerintahan berada ditangan Patih yang dipilih berdasar kemampuan yang dimiliki. Jabatan Patih juga tidak turun temurun. Penempatan raja hanya sebagai kepala negara merupakan bentuk pembatasan kekuasaan raja yang absolut. Menjadi tidak berlebihan jika kisah Pasunda Bubat kemudian dimunculkan karena tidak adanya kekuasaan absolut dari Majapahit.

Sistem Majapahit Mengacu pada Sistem Sebelumnya

Jika melihat akan sistem ketatanegaraan Majapahit, dapat dikatakan merupakan sistem yang melanjutkan sistem yang ada sebelumnya. Bahkan sistem yang diterapkan di Kadiri atau Medang. Dalam sistem ketatanegaraan Kadiri, seorang raja juga dikisahkan tidak memiliki kekuasaan yang mutlak. Ketika raja Kadiri meminta dirinya untuk disembah sebagai bentuk absolutism kekuasaan yang ia pegang, masyarakat Kadiri dapat menolaknya. Masyarakat Kadiri kemudian memilih Rajasa sebagai simbol perlawanan. Dan akhirnya raja Kadiri jatuh.

Hal tersebut menunjukkan jika keabsolutismean bukan merupakan budaya Jawa pada masa lalu. Keabsolutismean baru dimulai pada era Panembahan Senopati di Mataram. Ditunjukkan dengan dihadirkannya konsep pandhita ratu. Atau pun konsep ratu gedhe panguwasane lan jembar jajahane.

Revisi Megatruh

Dari hal tersebut maka jika WS Rendra membandingkan Majapahit dengan Inggris dalam sistem pemerintahan, maka dapat dikatakan tidak tepat. Pertama karena sabda raja tetap unggul di atas segala-galanya hanya di era Mataram dan bukan di Majapahit atau era sebelumnya. Kedua sistem parlemen dan kitab UU sebagai landasan pemerintahannya telah ada pada era Majapahit bahkan pada era sebelumnya. Jika Magna Carta lahir dari tekanan, kekuasaan raja yang diletakkan sebagai kepala negara era Majapahit bukan karena tekanan. Ia bahkan lebih dahulu dari yang ada di Inggris.

Karena itu dapat dikatakan jika pidato kebudayaan WS Rendra terkait perbandingan Inggris dengan Majapahit perlu direvisi.

 

Sumber

  1. Irawan Djoko Nugroho, Meluruskan Sejarah Majapahit, Yogyakarta, Ragam Media: 2010
  2. WS Rendra, Megatruh, Pidato Kebudayaan WS Rendra
  3. http://rendrarendra.blogspot.com/2011/04/megatruh-kambuh.html

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*