Penulis Pararaton meyebut kisah Pasundan Bubat sebagai sebuah kelicikan yang diselimuti nafsu angkara Gajah Mada untuk menundukkan Sunda setelah usahanya dalam peperangan gagal. Kisah itu kemudian mendapat tanggapan beragam bergantung suku mana ia berasal.

Sebenarnya bila kita melihat lebih jauh Kidung Sunda atau Kidung Sundayana, kasus tersebut sama sekali bukan merupakan bagian taktik (kelicikan) Gajah Mada. Gajah Mada tidak pernah berniat menundukkan Sunda dengan kekerasan. Perang itu terjadi karena perbedaan tanggapan atas protokoler istana Majapahit pada saat itu.

Pada Hikayat Banjar dikisahkan begitu datang kapal asing tiba di Canggu, Mantri Bandar mengutus stafnya menanyakan maksud kedatangan kapal itu. Setelah diketahui, Mantri Bandar mengutus staf lain ke Wiratarmas untuk meyambut kedatangan delegasi itu naik ke darat di Canggu. Ia kemudian pergi ke Majapahit menemui Patih Majapahit. Patih Majapahit kemudian menemui Raja Majapahit untuk meminta persetujuan Raja untuk diterima atau tidak. Bila Raja Majapahit berkenan menerima, Patih Majapahit menyuruh Mantri Bandar mempersilahkan delegasi asing tiba di Majapahit.

Di Majapahit yang kekuasaan ada di tangan patih, dan raja bertindak semata-mata sebagai kepala negara, perintah raja menerima duta tidak serta merta diartikan secara harfiah menerima seluruh delegasi. Disinilah peran patih Majapahit menjalankan fungsinya sebagai pengaman simbol negara dengan menolak perubahan aturan protokoler istana.

Protokoler istana Majapahit adalah tetap. Delegasi dari Banjar dan dari Cina (Cheng Ho) dll, juga diperlakukan sama. Mereka boleh bertemu dengan raja bila mereka tidak bersenjata perang selain senjata untuk melindungi diri dalam perjalanan. Kedatangan mereka yang banyak juga ditempatkan di luar Majapahit. Seperti saat ini kiranya, bila menghadap presiden semua senjata harus tidak boleh dibawa.

Kidung Sunda mengisahkan, begitu delegasi Sunda datang tiba di Canggu, sesuai protokoler istana Majapahit, rombongan raja Sunda ditempatkan di luar Majapahit, dalam kasus ini di Lapangan Bubat. Penempatan ini karena rombongan raja Sunda dilukiskan sangat banyak. Bila ditempatkan di sebuah kota oleh Gajah Mada tentu akan menimbulkan banyak gesekan. Karena itu Gajah Mada kemudian menempatkan raja Sunda di tempat itu.

Sesuai protokoler istana pula, delegasi yang boleh diterima raja harus tidak bersenjata perang. Dan tentu dalam jumlah terbatas. Dari banyaknya Utusan Cina, yang diterima oleh raja hanyalah para pendetanya. Bahkan Cheng Ho pun tidak diterima. Dari sinilah kemudian timbul perselisihan. Raja Sunda mulanya menyetujui aturan protokoler istana Majapahit tersebut. Sebagai raja ia dapat memaklumi protokoler istana kerajaan lain.

Akan tetapi para pengiringnya sangat keberatan dengan aturan protokoler tersebut. Mereka merasa datang dengan damai dengan membawa putri yang dipinang Raja Majapahit. Dari sinilah timbul masalah bermula. Gajah Mada tidak mau merubah aturan protokoler tersebut, dan pengiring raja Sunda merasa terhina dengan ketatnya aturan protokoler istana yang dianggap merendahkan rajanya dan niat baik mereka.

Sebenarnya ketatnya aturan yang diterapkan Patih Gajah Mada adalah baik. Dengan banyaknya delegasi asing masuk istana Majapahit, terlebih lagi diatas jumlah ribuan dan dengan persenjataan lengkap, dikawatirkan hal-hal tidak diinginkan terjadi. Barangkali Gajah Mada berharap tidak timbul peristiwa Kuda Troya Yunani terjadi di Majapahit. Namun niat baik itu dikisahkan menjadi malapetaka.*

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*