Ketika Vietnam dijajah Cina dengan kejam, maka pemerintah Vietnam kemudian mengirim utusannya ke Jawa agar mereka dibantu melepaskan diri dari penjajahan Cina yang kejam itu. Sesampainya di Jawa, utusan Vietnam tersebut diterima baik oleh pemerintah kerajaan Medang kala itu. Pemerintah Medang setuju membantu melepaskan Vietnam dari penjajahan Cina, agar nantinya mereka dapat merasakan kehidupan yang lebih baik. Pemerintah Medang juga berjanji akan mengirim pasukan marinir yang sangat besar guna mengalahkan Cina.

Di dalam Riwayat Kelantan pengiriman pasukan mariner tersebut terjadi pada tahun 767 M. Komandan-komandan pasukan mariner tersebut dicatat dipimpin oleh Sanjaya (Jawa-Medang I bhumi Mataram), Sang Satiaki Satirta (Sumatera-Sriwijaya?) dan Suwira Gading – Sawerigading (Sulawesi-Luwu). Seluruh pasukan marinir ini terdiri dari 577.000 marinir dengan diangkut oleh sebanyak 5,700 buah kapal dari jenis Sambao dan Ke (baca: Kelulus, kapal yang juga digunakan Majapahit dengan panjang kurang lebih 50-69 m). Kapal perang jenis sambao itu mempunyai 40 layar yang dapat bergerak pantas mengikut perubahan angin.

Jalannya Penyerangan Tahap Pertama

Kapal-kapal yang berisi marinir tersebut dicatat berlayar dengan formasi sebagai deretan pulau bergerak menuju ke Timur menyeberangi Teluk Seredah Sekebun Bunga (Teluk Siam sekarang) menuju ke kuala Sungai  Merah (Song Ka) terus menuju ke kota Ciao Chi ibukota Yuwun yaitu Hanoi sekarang.

Beberapa bulan sebelum serangan itu dilakukan, riwayat tradisi Kelantan mengisahkan adanya marinir dari Jawa yang didukung marinir Nusantara melakukan tindakan infiltrasi ke Vietnam. Atas perintah Sri Wijayandraraja (Sri Maharaja Lelesakti), para marinir tersebut dikirim dalam sejumlah kapal perdagangan ke Kota Ciao Chi dengan menyamar sebagai pedagang. Pasukan marinir tersebut berjumlah 3.000 (tiga ribu) pasukan dengan alat senjatanya. Para marinir tersebut keluar sedikit waktu malam dengan dibantu oleh orang-orang Yuwun dan kaum-kaum pemberontak Yuwun di kampung-kampung. Hal ini dapat dilakukan karena kedatangan mereka diundang pemerintah Vietnam.

Menurut riwayat Kelantan, beberapa bulan sebelum keberangkatan marinir Jawa dan Nusantara menuju Yuwun, maka tentara kerajaan dari penduduk Javadesa (Laos Utara Sekarang) bergerak menuju ke Utara. Mereka menerabas hutan belantara dan menaiki gunung-gunung memasuki wilayah Kwangsi dalam negeri Cina. Disana mereka bergabung dengan suku-suku bangsa Yuwun yang menjadi penduduk asli di pegunungan wilayah itu.

Disini menunjukkan adanya sistem penyerangan yang sangat rapi pada masa itu. Jaringan intelejen dan koordinasi setiap gerakan dilakukan dengan perhitungan yang sangat cermat.

Jalannya Penyerangan Tahap Kedua

Sewaktu seluruh armada marinir Jawa dan Nusantara mulai memasuki Kuala Sungai Merah (Song Ka), bangsa Yuwun yang dipimpin oleh Ngo Sivuong Ngan segera bertindak. Mereka memberontak di Ibukota Yuwun dan beberapa kota lain dalam wilayah Tonkin.

Berdasar riwayat tradisi Kelantan, pasukan marinir tersebut kemudian dipecah menjadi dua pasukan di kuala Song Ka. Satu pasukan bergerak di darat dan berkendaraan gajah dan kuda serta berjalan kaki maju ke ibukota. Satu pasukan lagi tetap menaiki kapal dan bergerak cepat di sepanjang sungai maju ke Ibukota Ciao Chi.

Pertempuran hebat segera terjadi di sekitar benteng Ciao Chi dengan amat dahsyat. Dahsyatnya perang menyebabkan Gubernur Tehang Po Yi dari kota Kwan-Choo (Kanton sekarang) mengirim pasukan bantuan melalui daratan dalam wilayah Tonkin. Sayangnya pasukan tersebut dihadang oleh pasukan Javadesa dan penduduk asli setempat yang juga membenci kekejaman penjajahan Cina. Karena itu pasukan bantuan Cina menjadi tidak sampai ke Ibu kota Giao Chi. Karena bala bantuan tidak datang, ibukota akhirnya jatuh setelah bertempur selama enam bulan. Vietnam lepas dari penjajahan kejam Cina.

Biaya Pengerahan Pasukan Marinir

Banyaknya pasukan marinir yang dikirim Medang tentu membutuhkan biaya yang sangat besar. Ketika pasukan cadangan Mongol sebanyak 20.000 pasukan dikirim, mereka dibekali dengan logistik untuk satu tahun dan 40.000 batang perak. Atau 2 batang untuk setiap pasukan. Bila di konversikan dengan pasukan Jawa dan Nusantara yang dikirim, kerajaan Medang selain menyiapkan logistik selama 1 tahun untuk 577.000 marinir, juga perak sebanyak 1.154.000 batang perak.

Pengiriman pasukan marinir ini demikian memerlukan biaya besar. Dalam kisah Carita Parahyangan, Sanjaya dan pasukan marinirnya dicatat kemudian menganeksasi Cina. Sehingga Cina tidak lagi ekspansif dan kejam dengan wilayah disekelilingnya. Menurut Fairbank, Cina kemudian lebih melakukan pendekatan proaktif dalam berurusan dengan negara Vietnam dan diplomatic dengan wilayah di Asia Tenggara. Pendekatan ini merupakan pendekatan baru selepas kendalinya dipegang oleh Jawa.

Sumber: 

  1. Abdul Rahman Al Ahmady, Sawerigading dalam I la Galigo. Catatannya dalam versi Kelantan dan Trengganu serta hubungannya dengan Yuwana di Semenanjung Indonesia, dalam Matulda, Dkk (Ed), Sawerigading, Folktale Sulawesi, Depertemen Pendidikan dan Kebudayaan, Direktorat Sejarah dan Nilai Tradisional Proyek Penelitian dan Pengkajian Kebudayaan Nusantara, Jakarta, 1990, hal: 222-223.
  2. John King Fairbank, A Preliminary Framework, dalam John King Fairbank (ed.), The Chinase World Order: Tradisional China’s Foreign Relations. Cambridge, Massachusetts: Harvard University Press, 1968: 2.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*