Materi disampaikan dalam “TEMU GENERASI MUDA KE-32 NSI TAHUN 2019 dengan tema’Menjadi Manusia Indonesia yang Unggul Berdasarkan Saddharmapundarika Sutra’, yang diselenggarakan di Maha Vihara Mojopahit Trowulan, Mojokerto, 5 Juli 2019. (Materi dalam bentuk PDF hubungi: irawanjk@yahoo.com)

  1. Pengantar

Majapahit atau Wilwatikta adalah sebuah sebuah nāgara yang didirikan Wijaya atas dukungan masyarakat Madura. Nāgara adalah kota yang dikelilingi benteng. Majapahit sebagai sebuah kota yang dikelilingi benteng, dapat dilihat misalnya dari kisah Kidung Ranggalawe. Di dalam kidung tersebut, dilukiskan Wijaya berusaha menjauhkan Sagara Winotan seorang mantri Daha dari dalam kuta ‘benteng di tengah kota’ Majapahit, agar tidak melihat persiapan perang yang dilakukan di dalamnya. Selain itu juga dapat dilihat melalui penjelasan Prapañca dalam Nāgarakŗtāgama 8.1-2 tentang kuta Majapahit: wārņ[n]an tingkah ikang purâdbhuta kuthanya bata bang umidĕr m[m]akandĕl aruhur, kulwan <ri> dwurawaktra manghaŗpak<ĕ>n lĕbuh agĕng i t(ĕ)ngah way edran adalĕm, ‘Akan diceritakan keadaan istana, sangat elok, bentengnya batu bata merah, melingkar, tebal, tinggi. Barat pertama-tama pintu gerbang, menghadapkan jalan raya, besar, di tengah ada sungai, melingkar dan dalam’.

Majapahit pada awalnya adalah sebidang tanah penuh hutan di tepi sungai dan tidak jauh dari Daha, (Kidung Harsawijaya). Ia merupakan daerah pemberian Jayakatwang kepada Wijaya setelah tempat kediaman Wijaya yaitu Taman Sari Bagenda (versi Kidung Harsawijaya) atau Jong Biru (versi Kidung Ranggalawe) terlalu sempit menampung Wijaya dan para pengikutnya. Penempatan Majapahit yang tidak jauh dari Daha ini dilakukan agar Jayakatwang dapat mengawasi gerak-gerik Wijaya.

Istilah nāgara dalam bahasa Jawa Kuna tidak sama dengan kerajaan. Istilah kerajaan mengacu pada kata puri. Dan nama kerajaan sendiri adalah Jawa. Ini dapat dapat dilihat dari penjelasan Nāgarakŗtāgama 16.5.1: irika tang anyabhūmi sakhahěmban in Yawapurī ‘kemudian tanah-tanah lain di mana saja, yang semuanya disatukan di Kerajaan Jawa’. Kerajaan Jawa adalah kerajaan yang terdiri dari banyak nāgara. Sakweh śrī Yawa rāja sapada madudwan nāgarâtunggalan, ekhasthāna ri Wilwatikta mangisapwi sang narêndrâdipa ‘Seluruh raja Jawa menjadi tamu, mereka berlain-lainan nāgara tetapi bersatu padu ke Wilwatikta mendukung sang raja besar’, Nāg. 6.4.3-4. Istilah nāgara tersebut, pada era Demak disebut dengan istilah Adhipati dan pada era Mataram disebut dengan istilah Bupati. Konsep nāgara atau Adhipati sendiri dalam era Mataram, tidak sepenuhnya dihapus dan ada yang tetap dipertahankan. Sebagai contohnya adalah Kadipaten Mangkunegaran dan Pakualaman.

Pada Nāgarakŗtāgama, beberapa nāgara yang dicatat era Raja Rajasanagara dan kepala negaranya memiliki hubungan dengan raja Majapahit, adalah sebagai berikut. 1. Nāgara Majapahit (Nāg. 2.2.2). 2. Nāgara Jiwana (Nāg. 2.2.4). 3. Nāgara Singhasāri (Nāg.3.2.1). 4. Nāgara Wĕngkĕr (Nāg. 4.2.1). 5. Nāgara Lasĕm (Nāg. 5.1.2). 6. Nāgara Daha (Nāg. 5.1.3). 7. Nāgara Pajang (Nāg. 5.2.2). 8. Nāgara Matahun (Nāg. 6.1.2). 9. Nāgara Paguhan (Nāg. 6.2.1). 10. Nāgara Wirabhūmi (Nāg. 6.3.1). 11. Nāgara Mataram (Nāg. 6.3.3). 12. Nāgara Pawwanawwan (Nāg. 6.4.1). 13. Nāgara Kabalan (Nāg. 7.4.1). Di samping tentu terdapat nāgara lain sekalipun kepala negaranya tidak memiliki hubungan kekerabatan dengan Majapahit. Seperti misalnya nāgara Sunda dan Madhura.

  1. Perkembangan Majapahit

Sebagai nāgara baru dan tunduk kepada Kadiri, Majapahit dicatat mampu berkembang dengan sangat pesat. Perkembangan ini tidak hanya karena mendapat dukungan penuh dari pasukan Singhasari yang berhasil kembali dari ekpedisi Pamalayu serta dukungan rakyat Madura, namun juga karena kecerdikan strategi politik yang dimiliki Wijaya. Strategi kecerdikan politik Wijaya diantaranya adalah sebagai berikut.

Strategi pertama. Memberikan janji membagi kerajaan Jawa menjadi dua kepada Arya Wiraraja jika Arya Wiraraja berhasil membantu menjadikan Wijaya sebagai penguasa kerajaan Jawa kembali. Saat kerajaan Jawa dapat dikuasai, Wijaya membuat anak Arya Wiraraja yaitu Ranggalawe terpancing emosinya untuk melawan raja. Sebagai akibatnya, kerajaan Jawa tidak jadi diberikan kepada Arya Wiraraja dan keluarganya karena mereka dicatat kemudian, sebagai perusuh negara.

Strategi kedua. Tidak mau menerima nāgara Singhasari sebagai nāgara yang diberikan kembali oleh Jayakatwang untuknya. Hal ini untuk menghilangkan image bahwa bahwa Wijaya takluk kepada Jayakatwang secara moral. Nāgara Singhasāri sendiri tetap berdiri selepas Majapahit berdiri. Hal ini dicatat dalam Nāg.3.2.1.

Strategi ketiga. Membagi hasil ekspedisi Pamalayu kepada Jayakatwang. Jayakatwang memperoleh seluruh harta rampasan sementara Wijaya mendapatkan pasukan Pamalayu sebagai pengikutnya. Dengan banyaknya pengikut tambahan tersebut, membuat tempat Wijaya di Taman Sari Bagenda (versi Kidung Harsawijaya) atau Jong Biru (versi Kidung Ranggalawe) tidak lagi muat menampung mereka. Sebagai akibatnya, Jayakatwang segera mempercepat memberikan hutan Trik sebagaimana yang dijanjikan kepada Wijaya (versi Kidung Ranggalawe), yang kemudian diberi nama Majapahit.

Strategi keempat. Wijaya memanfaatkan momentum serbuan tentara Mongol saat menyerang Daha. Wijaya menyerang Daha yang tengah berperang dengan Mongol. Serangan ini dicatat demikian cepat dan berhasil merampas seluruh harta yang ada, kemudian membakar istana. Raja Jayakatwang dikisahkan patah semangat setelah melihat istananya dibakar, sehingga ia menyerah. Tentara Mongol yang berdarah-darah dan lemah karena menghadapi tentara Daha, kemudian dihancurkan oleh Wijaya setelah menang menghadapi Daha.

Strategi kelima. Wijaya menjaga kepercayaan sebagai pewaris sah pemilik tahta kerajaan Jawa sebelumnya dengan menikahi semua putri raja Kertanegara, sehingga nāgara-nāgara di kerajaan Jawa tetap bersatu padu mendukung nāgara Majapahit sebagai pemimpin mereka, tanpa melakukan perlawanan.

Khusus dalam strategi keempat yaitu memanfaatkan momentum serbuan tentara Mongol, sekalipun dicatat dalam beberapa versi yang berbeda, namun pada dasarnya memiliki kesamaan. Mongol sendiri adalah istilah untuk suku bangsa yang disebut dalam bahasa Jawa Kuna sebagai Tatar. Jawa Kuna membedakan istilah bangsa Tatar ‘Mongol’ dengan Cina ‘Tiongkok’. Cina pada saat itu merupakan jajahan Tatar.

Versi penyerangan Mongol ke Jawa secara umum ada 3. Pertama, kidung. Meliputi Kidung Harsawijaya dan Kidung Ranggalawe. Kidung tersebut disebut sebagai versi Bali. (1)  Kedua, Sejarah Dinasti Yuan (1279-1368). Meliputi Sejarah Dinasti Yuan, Buku 210; Catatan Shi Bi, Buku 162; Catatan Gao Xing, Buku 162; serta Catatan Ike Mese, Buku 131. Sejarah Dinasti Yuan ini disebut sebagai versi Cina. Dan ketiga, prasasti. Meliputi Prasasti Gunung Butak (1294); Prasasti Kŗtarajasa (1296) atau Prasasti Penanggungan; serta Prasasti Kŗtarajasa (1305). Sumber prasasti disebut sebagai versi Jawa. (2) Dari ketiganya berdasar kajian sejarah, prasasti menjadi sumber berita utama karena waktu penulisannya lebih dekat dengan peristiwa yang terjadi dan tidak melalui proses penyalinan seperti sebuah karya sastra lain yang memungkinkan terjadi kesalahan. Berikut garis besar persamaan dan perbedaan ketiga versi tersebut.

Gambar 1.

Untuk informasi Sejarah Dinasti Yuan (1279-1368), antara: Sejarah Dinasti Yuan – Buku 210, Catatan Shi Bi – Buku 162, Catatan Gao Xing – Buku 162, serta Catatan Ike Mese – Buku 131 secara umum juga terdapat persamaan dan perbedaan. Persamaan dan perbedaan tersebut di antaranya adalah sebagai berikut.

Gambar 2.

Dari hal tersebut, informasi Jawa yaitu prasasti dicatat memiliki pembenaran dari data lainnya. Baik seperti dari data Bali atau data Cina sendiri.

  1. Wilayah Majapahit Pasca Kekalahan Daha dan Mongol

Wilayah Majapahit dicatat berkembang pesat seusai menaklukkan istana Daha dan Mongol. Menurut Kidung Harsawijaya, wilayah Majapahit meliputi sebagai berikut. Kidung Harşa-Wijaya (10) Pupuh VI. 117 b: Sakweh ing satru wus ĕnti dinon denira śrī bhūpati katĕkêng nūşântara akweh log lyan tungkul subhaktya karuhun tang Bali Tatar Tumasik Sampi Koci lan Gurun, Wandan Tañjung-Pura tan opĕn tang Đompo Palembang Makasar prapta sama mawwat sesi ni pura. ‘Seluruh musuh telah habis sama sekali diserang oleh Sri Raja hingga di Nūşântara, sangat luas, dan juga takluk, berbakti, terutama Bali, Tatar, Tumasik, Sampi, Koci, dan Gurun, Wandan, Tañjung-Pura apalagi Đompo, Palembang, Makasar, datang bersama-sama dengan persembahan segala isi negeri’.

Informasi wilayah Majapahit yang dicatat berkembang pesat dan tidak hanya menguasai Jawa seusai menaklukkan istana Daha dan Mongol, ternyata dikuatkan oleh data lain. Misalnya saja Kidung Rangga Lawe (11) dan Praśāsti  Kŗtarājasa (1305 M). (12)

Dalam Kidung Rangga Lawe, wilayah Majapahit dicatat sebagai berikut. Pupuh 7.152: Prakacita apañji Wijayakrama, sampun ingastren malih, denira sang dwija uni caturāśrama, siddângastutyakĕna ring, amĕngku Jawa, sumungkêng Maja-Pahit. Pupuh 7.153: Wasthitya tan enucap panĕngranira, śrī marāja apañji, Wijaya mottama, tinut eng sanagara, tĕkêng pwa nūşântarêring, sami kawaśa, sira añakrawarti. ‘Pupuh 7.152: Terkenal pañji Wijayakrama, telah ditahbiskan kembali, oleh sang brahmana, caturāśrama, memberkati dengan kidmat dengan upacara kepada yang menguasai Jawa, menaikkan di Majapahit: Pupuh 7.153: Mantap disebut yang mempunyai nama Sri Maharaja Pañji, Wijaya yang utama, diturut di seluruh negara, hingga di Nūşântara mengikuti, semua dikuasai, ia penakluk dunia’.

Dalam Praśāsti Kŗtarājasa (1305 M), wilayah Majapahit dicatat sebagai berikut. Pertama:rinākşa swabhuja-balāpaharana sakala Yawa-bhu-maņđala-swayam-ewa-dhipa samasta dwīpântara-bhūpada-sirang-kĕśari śrī yamāna-śāsana ‘‘yang melindungi batang tubuh dengan tangan sendiri; yang satu-satunya memegang kekuasaan di seluruh pulau Jawa; yang singgasananya dihiasi rambut-rambut raja-raja Dwīpântara’. (13) Kedua:śri kŗttarājasa jayawarddhanânānta-wikramôtungga catus dewi-ka sa-dewa-dewī śrī mahārāja mwang sira rantĕn-haji-nira mahārāja putrī catus prakara-bangil-malayu-madhura-tañjung-pura-prakŗti, paradwīpa-rā-ja-wibhara-nasika-śarana-kamala śrī Kŗttanāgara rājā-dhinata suputrika …. ‘ … Śrī Kŗtarājasa Jayawarddhana Anāntawikrama Uttungga; yang mempunyai empat permaisuri (catus dewika); yang dengan keempat permaisurinya setara dengan dewa-dewi, yang menjadi prakŗti pulau Bali, Melayu, Madhura dan Tañjungpura; yang kaki-tunjungnya dimuliakan hidung yang bengkak dari paradwīpa-rāja (raja-raja pulau lain); yang menjadi suami putra-putri Śrī Mahārāja Kŗtanagara’ … (14)

Wilayah Majapahit yang tidak hanya Jawa, juga diteruskan oleh para penggantinya. Baik oleh Jayanegara dan Tribhuwana Tunggadewi.

Dalam Prasasti Jayanegara (15), wilayah Majapahit dicatat sebagai berikut: … sakala sujana nika rahŗdaya kumuda wīkaśa niśākara, akila pratipaksa niśandha karakşa yadiwākara, wipraksatrôbhaya kula wiśuddha, śrī Suņdarapāņdyadewâdhîswara nāma rājâbhişeka, …‘ … seperti bulan yang membuka kembang tunjung-jantung dari perkampungan segala orang baik-baik; yang membinasakan segala musuh; seperti Matahari yang melenyapkan kegelapan pada waktu malam hari, yang digembirakan Wipra dan Satria, yang berbahagia dapat bertegak nama penobatan raja, berbunyi: Iswara Suņdarapandyadewa’, … (16) Dengan pemakaian gelar Sri Suņdarapandyadewa oleh Raja Jayanagara tersebut, menurut H.B. Sarkar menandakan bahwa raja kedua Majapahit itu memegang kekuasaan tinggi (suzerainty) atas Raja Pandia di India Selatan yang bernama Suņdarapandya.(17)

Pada Praśāsti  Prabhu Tribhuwana (1334 – 1350 M), (18) wilayah Majapahit dicatat sebagai berikut: …, śrī  Kŗtarājasa Jayawarddhana mahārāja-putrika,a nindita jagadi swara, sakala Yawa maņđala Balyâdi paradwipêkaccha-tra atisayadharmmajna (r)yyasesaksa Tribhuwanô Ttunggadewi Jayawişņuwarddhani nama rājabhiseka ‘ … anak putri Sri Kŗtarajasa Jayawarddhana sebagai penguasa bumi yang tak ada taranya yang mempersatukan seluruh daerah Jawa, Bali dan pulau-pulau lain dibawah setangkai payung, yang sangat luas dan dalam pengetahuannya tentang hak dan kewajiban, yang memusnahkan sisa-sisa …, yang bertegak gelar kerajaan: Tribhuwana Utungga-Dewi Jayawişņuwarddhani’. (19)

Sangat menarik jika informasi-informasi tersebut bertentangan dengan informasi Pararaton. Dalam Pararaton (1535 S/1613 M), perluasan wilayah Majapahit berdasarkan pada keberhasilan sumpah Patih Gajah Mada untuk menaklukkan Nūşântara. Sebelumnya, wilayah Majapahit hanya Jawa semata. (20)

Pararaton: (21) … Sira Gajah Mada patih amangkubumi tan ayun amuktia palapa sira Gajah Mada: Lamun huwus kalah Nūşântara isun amuktia palapa, lamun kalah ri Gurun, ring Seran, Tañjungpura, ring Haru, ring Pahang, Đompo, ring Bali, Suņđa, Palembang, Tumasik samana isun amukti palapa. ‘ … Ia Gajah Mada Patih Amangkubumi tidak akan makan palapa ia Gajah Mada: Jika telah kalah Nūşântara saya akan makan palapa, jika kalah Gurun, Seran, Tañjungpura, Haru, Pahang, Đompo, Bali, Suņđa, Palembang, Tumasik, pada waktu itu saya akan makan palapa’. Dan hasilnya. (22) … Tunggalan pađompo pasuņđa, Samangkana sira Gajah Mada mukti palapa. ‘… Bersatu setelah penaklukkan Dompo dan penaklukkan Suņda. Dengan demikian ia Gajah Mada makan palapa’. (23)

Berbeda dengan Pararaton, dalam Nāgarakŗtāgama (1365 M) karya Prapañca, jasa Gajah Mada dalam meluaskan Majapahit dicatat hanya di Bali dan Saḍeng. (24) Sekalipun demikian, Prapañca mencatat Gajah Mada merupakan Kepala Pemerintahan. (25) Sementara itu Raja Rajasanagara sebagai Kepala Negara. (26) Wilayah Majapahit era Raja Rajasanagara selepas Patih Gajah Mada meninggal, juga tetap dicatat meliputi daerah yang sangat luas. Ini menunjukkan jika informasi Pararaton, yang juga sebagai sastra Bali diragukan. Terlebih Pararaton ditulis tahun 1613 M atau berselang 248 tahun dari penulisan Nāgarakŗtāgama.

Menurut āśīr Nāgarakŗtāgama, wilayah Majapahit meliputi sebagai berikut. Nāg.  1.3.2-4: sang śrī natha ri Wilwatikta haji Rājasanagara wiśesa bhupati, sākşat janma bhaţāra nātha sira n anghilangakĕn i kalangka ning praja, hĕnty ang bhumi Jawâtibhakti manukūla tumuluy i těkeng Digantara. ‘Sang Sri Raja di Wilwatikta Raja Rājasanagara, raja yang sangat berkuasa, Semata-mata penjelmaan bhaţāra nātha (raja dewa), ia membinasakan noda seluruh makhluk, (Seakan) diamlah bumi Jawa, sangat berbakti, tunduk hingga sampai Digantara’.

Jawa yang dimaksud adalah seluruh tanah Jawa: na lwir sāděgirêkanang sayawabhūmi Jawa tĕluk umungkul adara. ‘Terbukti selama beliau memerintah seluruh tanah Jawa takluk, tunduk, hormat’, Nāg. 1.5.2. Pada Nāg. 42.2.4, pengertian seluruh tanah Jawa tidak hanya meliputi daerah yang didiami suku Jawa semata melainkan juga meliputi Madhura dan Suņđa: ndatan lingĕn i Suņđa len Madhura pan satanah i Yawa. ‘Tidak disebut Suņđa dan Madhura sebab setanah Jawa’.

Sementara pengertian Digantara dijelaskan dalam corpus Nāgarakŗtāgama. Pertama. Untuk daerah yang meminta perlindungan atau angaśraya, disebut Nūşântara. Mwang Nūşântara sarwa maņdalika araşţra angaśraya akweh maŗk. ‘Dan Nūşântara, wilayah yang melingkari meminta perlindungan, banyak menghadap,’ Nāg.  12.6.4. Wilayah yang meminta perlindungan tersebut, dirinci satu persatu pada pupuh 13-14. Kedua. Wilayah yang dilindungi atau kachaya Majapahit disebut Deśântara. Nahan lwir ning Deśântara kachaya de śŗi narapatī. ‘Lihat keadaan dari Deśântara yang dilindungi oleh Sri Raja’, Nāg. 15.1.1. Daerah-daerah yang dicatat sebagai daerah dilindungi tersebut, dicatat pada pupuh 15.1.2-4 dengan perkecualian Yawana. Ketiga. Wilayah yang disebut mengabdi atau sumiwi kepada Majapahit disebut Dwīpântara. Huwus rabdha ng Dwīpântara sumiwi ri śŗi narapati. ‘Akhirnya bertambah, Dwīpântara mengabdi kepada Sri Raja’, Nāg. 15.3.1. Wilayah Dwīpântara bukan merupakan wilayah Nūşântara dan Deśântara. Wilayah ini dicatat dalam pupuh 83.4. Daerah yang mengirim bhikşu mwang wipra ‘Bhiksu dan Wipra’ untuk melakukan stuti kepada Rajasanagara. Wilayah ini adalah Jambudwipa ‘India (Pigeaud IV, 1962: 36), Cina ‘China’ (Pigeaud IV, 1962: 36), ‘Karnataka’ India Selatan (Pigeaud IV, 1962: 36), Goda ‘India Timur’ (Pigeaud IV, 1962: 36).

Selain itu, Prapañca dalam Nāgarakŗtāgama mencatat Majapahit memiliki sekutu tetap yaitu Yawana. Ri Cāmpā Kāmbojânyat i Yawana mitrêka satatā. ‘Campa, Kamboja. Yang lain adalah Yawana yang merupakan sekutu tetap’, Nāg.15.1.4.

Berikut wilayah Majapahit menurut Nāgarakŗtāgama.

Gambar 3.

 4. Majapahit Akhir

Secara garis besarnya, Majapahit akhir dicatat oleh beberapa sumber. Misalnya saja prasasti, data Portugis, Pararaton (1613 M), Hikayat Hang Tuah (1676-1700 M), (27) dan Babad Tanah Jawi (1722 M). Semua sumber tersebut pada dasarnya saling melengkapi. Namun dari banyaknya sumber tersebut, Babad Tanah Jawi (1722 M) menduduki peran sentral. Raden Patah, Brawijaya, Sunan Kudus, dan Sunan Kalijaga yang ada dalam sejarah modern saat ini, berasal dari data Babad Tanah Jawi. Kisah-kisah Babad Tanah Jawi juga kemudian diadopsi oleh karya-karya sejenis yang lebih muda. Misalnya Babad Demak dan Serat Darmagandul. Babad Demak mengadopsi dan mengembangkan kisah Babad Tanah Jawi khusus episode Demak. Sementara itu Serat Darmagandul mengadopsi dan mengembangkan kisah Raja Brawijaya pada hari-hari terakhir pemerintahannya menjadi kisah realistis. (28)

Di dalam Babad Tanah Jawi, runtuhnya kerajaan Majapahit dicatat dengan sengkalan Sirna Ilang Kertaning Bumi ‘Hilang Lenyap Kemakmuran Dunia’ (1400 S). Sengkalan yang bernuansa sangat dramatis. Ini dimaklumi karena runtuhnya kerajaan Majapahit ini disebut karena adanya serbuan Raden Patah putra Raja Brawijaya. Kisah ini demikian popular dan memposisikan Raden Patah sebagai pihak yang menghancurkan Majapahit.

Jika dilihat lebih lanjut, kisah ini pada dasarnya dibuat oleh pujangga Mataram secara perlambang. (29) Di mana kedatangan pasukan ke Majapahit tidak ada yang menyambutnya. Raden Patah dengan mudah kemudian duduk di istana, karena istana kosong. Dari menara, Raja Brawijaya V kemudian melihat putranya. Setelah itu, ia moksa. Sangat menarik moksanya Raja Brawijaya V dan kosongnya istana sebagaimana informasi Babad Tanah Jawi tersebut, ternyata memiliki kemiripan dengan penulisan Hikayat Hang Tuah terkait Raja Majapahit. Dalam Hikayat Hang Tuah, dikisahkan kerajaan kosong saat Radin Bahar masuk Majapahit. Raden Bahar adalah putri tertua Raja Majapahit yang menikah dengan Sultan Malaka. Dalam Hikayat Hang Tuah pergantian Raja Majapahit ke Raden Bahar tanpa proses peperangan. Radin Bahar diminta naik tahta karena diminta mengganti Raja Majapahit yang telah meninggal.

Kisah jatuhnya Majapahit tanpa kekerasan dicatat pula dalam Pararaton. Dalam Pararaton, jatuhnya Majapahit ditandai dengan sengkalan Sunya Nora Yuganing Wong ‘Kosong Tanpa Anak Orang/Raja’ (1400 S). Sebuah sengkalan yang bernuansa tanpa kekerasan. Sengkalan yang memiliki kesamaan dengan informasi Hikayat Hang Tuah. Di mana anak Raja Majapahit tertua memang tidak ada di istana karena ikut suaminya sebagai istri Sultan Malaka. Di sini dapat dikatakan jika informasi Hikayat Hang Tuah dengan Pararaton sebagai informasi yang lebih tua daripada Babad Tanah Jawi memiliki kesamaan dan menolak informasi Babad Tanah Jawi. (30) Informasi Babad Tanah Jawi dicatat menggunakan informasi keduanya dan kemudian merubahnya dengan tujuan tertentu.

Tujuan perubahan yang dilakukan pujangga Mataram tersebut, memiliki tujuan yang jelas. Intinya, adalah untuk menaikkan leluhur Mataram di atas leluhur Demak. Sebagaimana diketahui, leluhur Demak dalam Babad Tanah Jawi dilukiskan sebagai Putri Cina dari awalnya adalah Putri tertua Betara Majapahit menurut Hikayat Hang Tuah, sementara itu leluhur Mataram dilukiskan sebagai Putri Wandan. Dalam kisah yang dibuat pujangga Mataram kemudian, leluhur Putri Wandan lebih tinggi dari Putri Cina, sebab putri Cina adalah putri yang telah ditrimankan sehingga turun derajatnya dibandingkan Putri Wandan. Leluhur Demak juga dilukiskan bertindak nggege mangsa yang tidak sesuai dengan adat Jawa, dari kisah awalnya kedatangan Leluhur Demak karena undangan sebab Betara Majapahit telah meninggal. Dari hal tersebut, maka dapat diketahui jika penyerbuan Demak yang berakibat pada jatuhnya Majapahit, adalah sebuah gubahan baru.

4.1 Wilayah Majapahit Akhir Dan Realitas Sejarah

Wilayah Majapahit selepas kematian Gajah Mada menurut para sejarawan dicatat menyusut. Terlebih setelah terjadinya Perang Paregreg dan terjadinya Penyerangan Demak ke Majapahit. Namun pada kenyataannya pendapat para sejarawan tersebut tidak lebih dari sebuah hipotesa. Hal ini karena realitas sejarah menunjukkan hal sebaliknya. Berikut, Majapahit Akhir antara Hipotesa dan Realitas Sejarah.

  1. Hipotesa Majapahit Akhir runtuh selepas perang Paregreg dan realitas sejarahnya

Gambar 4.

  1. Hipotesa Majapahit Akhir runtuh selepas Penyerbuan Demak dan realitas sejarahnya

Gambar 5.

  1. Persamaan Raden Patah, Radin Bahar, dan Ranawijaya Sebagai Tokoh Yang Sama

Gambar 6.

  1. Sejarah Majapahit Sebagai Sumber Renaissance

Saat Eropa mengalami kemunduran atau abad kegelapan, para pemikir Eropa kemudian menghadirkan sebuah energi untuk membangkitkan semangat untuk kemajuan Eropa. Hadirlah kemudian gerakan budaya yang bernama Renaissance. Gerakan ini bertujuan mengganti kebudayaan tradisional yang sepenuhnya diwarnai oleh ajaran Kristiani yang dianggap gagal menjadi kebudayaan baru yaitu Yunani-Romawi. Gerakan yang awalnya sebagai gerakan budaya ini, kemudian berkembang ke ranah lainnya terutama dalam bidang ilmu pengetahuan dan intelektual. Sangat menarik, gerakan budaya yang bertumpu pada kekuatan sejarah ini, berhasil membangkitkan kemajuan Eropa sehingga meninggalkan abad kegelapannya dan bahkan dapat mempengaruhi dunia.

Kekuatan gerakan budaya yang bertumpu pada kekuatan sejarah inilah yang perlu dipahami oleh para generasi muda Indonesia. Bahwa sejarah mampu menjadi jantung kebangkitan sebuah bangsa, jika dikelola dengan baik. Dengan tentu saja jika ia dikembangkan terutama dalam bidang ilmu pengetahuan dan intelektual. Tanpa itu, kekuatan sejarah tidak akan mampu memberi kekuatan yang diharapkan.

Sebagai contohnya adalah gerakan renaissance Jawa yang dilakukan oleh para pujangga Kartasura dan Surakarta. Gerakan tersebut dimulai dengan menjarwakan kembali teks-teks yang disebut sebagai teks Kawi. Misalnya saja Rama Jarwa (R.Ng. Yasadipura 1 [1729-1803]) dan Bratayuda Jarwa (R.Ng, Yasadipura). Gerakan tersebut gagal dalam memberi hasil yang diharapkan. Semua itu terjadi karena gerakan tersebut, terus sebagai gerakan budaya semata.

Dari sinilah, kini sangat ditunggu peran generasi muda guna membawa sejarah ke dalam ranah bidang ilmu pengetahuan dan intelektual dan tidak hanya semata-mata sebagai penggerak pelestari budaya. Jika ini mampu dilakukan, kemajuan bangsa akan mampu bersemi kembali. Ada banyak bahan sejarah yang dapat dijadikan basic renaissance guna dibawa di ke ranah bidang ilmu pengetahuan dan intelektual yang tidak hanya merah-putih, bhayangkara, serta bhinneka tunggal ika. Di mana diantaranya adalah sebagai berikut.

Sejarah Majapahit Yang Dapat Dijadikan Basic Renaisance  

1.  Sejarah Pemerintah Majapahit membuat kebijakan untuk mengurangi perpecahan dalam masyarakat

Yawapuri (Majapahit) terdiri dari berbagai suku dan agama. Pemerintah kemudian mengaksesnya dengan mengedepankan kebersamaan dan kesetaraan dalam segala bidang. Kebersamaan dan kesetaraan itu misalnya ditunjukkan dengan terpilihnya Raja Majapahit yang beragama Hindu dan Patih Majapahit yaitu Gajah Mada yang beragama Buddha. Kebersamaan dan kesetaraan tersebut tidak dijumpai di mana pun di dunia dalam berbangsa dan bernegara. Dalam tradisi India, begitu pemerintah yang berkuasa kelompok Buddha, maka kelompok Hindu akan disingkirkan. Demikian pula sebaliknya.

Namun demikian, pemerintah selalu menyadari bila potensi konflik selalu ada. Untuk meredam itu, pemerintah salah satunya menurut Prapañca sekalipun menganut falsafah Bhinneka Tunggal Ika, tidak mengijinkan pendeta agama Buddha mengajar ke wilayah masyarakat yang mayoritas beragama selain Buddha. Nag (16.2.2-4): apituwin ajña hajya tan asing <saparanan> tikā, <hinila-hila n> sakulwan ikanang tanah Jawa kabeh, taya ring usāna Boddha mara rakwa sambhawa tinūt. ‘Bahwasanya kendati ada perintah dari raja kita, tak boleh kita pergi ke sembarang tempat, Dilarang bepergian ke bagian barat dari kerajaan Jawa semuanya, Tak pernah ada sebelumnya dimasa lampau ada seorang penganut Buddha yang pergi ke sana kabarnya, sehingga kecil kemungkinan ia dapat diikuti. Larangan ini dilakukan untuk menghindari adanya konflik horizontal di Majapahit.

2. Sejarah Pemerintah Majapahit menyediakan infrastruktur jalan terbaik.

Dalam Nāgarakŗtāgama (88), selain dicatat adanya perintah Raja Wěngkěr yang mengintruksikan untuk memelihara dengan baik jembatan-jembatan, jalan-jalan, waringin, rumah-rumah, dan tugu-tugu suci, serta sawah sehingga semua yang ditanam akan berbuah, terlindungi dan terpelihara, dicatat juga adanya perjalanan Raja Hayam Wuruk ke berbagai wilayah di Jawa, Nag., 17.4-71. Perjalanan yang dilakukan hampir setiap tahun setelah musim penghujan (bhadrapadamasa) ini sekalipun lebih berorientasi pada perjalanan keagamaan, namun karena perjalanan yang dilakukan melalui darat dengan banyak kereta, menunjukkan jalan-jalan di Jawa pada masa itu sangat baik. Jalan–jalan itu juga mampu menghubungkan daerah-daerah yang tidak memiliki infrastruktur sungai dan laut agar hasil pertanian dapat segera didistribusikan dengan baik. Bahkan perjalanan darat antara Sunda Kalapa ke Majapahit lewat darat dimungkinkan telah ada. Mengingat masa Mataram jalan tersebut telah ada, dan terlihat bukan dibangun Mataram.

3. Sejarah Pemerintah Majapahit menyediakan pelabuhan internasional terbanyak dan terbaik di dunia.

Dalam prasasti Trawulan (1358), dicatat banyak sekali pelabuhan-pelabuhan yang ada di Jawa. Banyaknya pelabuhan-pelabuhan tersebut, tercatat berjumlah sekitar 78 buah. Seandainya kepingan IV dan VI serta VII dari prasasti Trawulan tidak hilang, maka jumlah pelabuhan yang ada di Jawa akan lebih banyak lagi. Sebuah catatan Tome Pires sekalipun hanya mencatat pelabuhan di pantai utara Jawa, pelabuhan di Jawa dicatat sebanyak 25 buah. (34) Jumlah ini merupakan jumlah pelabuhan terbanyak yang dimiliki oleh sebuah negara di Asia. Bila mengacu prasasti Trawulan (1358) yang memasukkan pelabuhan selain pantai utara Jawa, dapat dikatakan Majapahit memiliki pelabuhan terbanyak di dunia.

Pelabuhan yang ada di Majapahit, sebagaimana dicatat Ma Huan memiliki fasilitas terlengkap. Anthony Reid berdasar keterangan Ma Huan mencatat sebagai berikut. Karena terbiasa dengan variasi sayuran dalam makanan mereka, ekspedisi Cheng Ho dari Cina tidak puas dengan jumlah sayuran yang tersedia di pelabuhan-pelabuhan Asia Tenggara umumnya: timun, bawang, jahe dan berbagai labu serta semangka itulah yang paling banyak terdapat, (Ma Huan 1433: 82,107,112). Hanya di Jawa mereka menjumpai semua yang mereka inginkan, di samping berbagai bahan langka yang hanya ada di daerah tropis. “Di sini terdapat segala macam labu dan sayuran. Yang tidak ada hanya buah persik, buah prem, dan buah lika,” (Ibid: 92). (35)

Mengingat keterangan Ma Huan tidak merujuk pada satu pelabuhan namun merujuk pada Jawa, maka menunjukkan bahwa kualitas pelayanan pelabuhan di seluruh Jawa pada masa itu, mengacu pada prasasti Trawulan (1358), memiliki fasilitas terlengkap pada masanya. Hal yang sama juga dikemukakan Ibn Battuta dalam catatan perjalanannya tahun 1325-1354. Begitu tiba di Jawa, ia mengatakan: In the territories of the sultan of Sumutra there is only incense, camphor, and little cloves and Indian aloes, whereas the largest quantity of these is found in Mul-Jáwa. (36) Keterangan-keterangan tersebut menunjukkan Jawa dapat dikatakan, menyediakan pelabuhan internasional terbanyak dan terbaik di dunia pada masanya.

4. Sejarah Pemerintah Majapahit melindungi perekonomian masyarakat, dengan memberlakukan biaya impor namun biaya ekspor mendapat subsidi negara.

Nāgarakŗtāgama 88.5.3 mencatat perintah Raja Hayam Wuruk untuk memberlakukan pajak impor. Prapañca mencatat, “yan hana rajakaryya palawang makadi nika tan hanan nlewata.” Rajakaryya dan palawang merupakan bentuk-bentuk biaya pajak impor. Namun demikian dalam pada prasasti Trawulan (1358), Majapahit mencatat adanya pembebasan pajak bagi pengiriman barang melalui pelayaran.

Prasasti Trawulan (1358) kepingan V mencatat diberlakukan hak swatantra bagi pengiriman barang melalui pelayaran. Dalam kepingan VIII, bagian depan dicatat sebagai berikut. Segala pikulan, sebuah bagi tiap-tiap yang dijual; barang-barang yang serupa itu tidaklah dikenakan cukai raja. Tetapi apabila melampaui jumlah yang telah ditetapkan, maka kelebihan di atas ketetapan itu dikenakan cukai yang dipungut oleh pegawai istimewa, tetapi pegawai pemungut cukai raja tidaklah mempunyai kekuasaan atasnya. (37) Dua keterangan tersebut menunjukkan pemerintah berorientasi pada ekspor dengan memberi keringanan biaya ekspor. Karena tidak dikenai cukai, maka harga barang di Jawa menjadi lebih murah. Tidak berlebihan bila kemudian Yingya Shenglan (1416) mencatat tentang Jawa: Unggas, kambing, ikan dan sayuran sangat murah di sini. (38) Dengan murahnya barang-barang di Jawa, maka ketika mereka diekspor harga yang ditawarkan akan dapat bersaing dengan harga barang dari negara lain.

5. Sejarah Pemerintah Majapahit memberi kepastian hukum kepada masyarakat.

Dalam Decree Jaya Song ± tahun 1350 M, (39) dicatat adanya perselisihan hukum terkait tanah antara masyarakat pemilik lahan dan pemilik modal. Perselisihan itu mempermasalahkan keabsahan kepemilikan lahan tahun 997 M. Pemerintah Majapahit dicatat kemudian memenangkan pemilik lahan, karena terbukti data yang mereka miliki lebih valid daripada data pemilik modal. Pemenangan hukum bagi pemilik lahan ini, menunjukkan bila pemerintah Majapahit telah memberi kepastian hukum kepada siapa pun.

6. Sejarah Pemerintah Majapahit Pemerintah mengembangkan industri nasional

Banjirnya sutra India (wdihan bwat kling) (40) serta sutra Cina dan Siam (raņđi) (41) ke Jawa tentu membuat pendapatan negara turun, karena pembelian barang impor menjadi besar. Terlebih harga sutra sangat mahal. Untuk mengurangi dampak tersebut, Sejarah Dinasti Song (960-1279) mencatat Jawa kemudian membangun industri sutra nasional, Penduduknya juga memelihara ulat sutera dan membuat sutera. Mereka menenun sutera tipis, sutera kuning dan kain yang terbuat dari katun. (42) Di Jawa kemudian dikenal 3 istilah sutra, wdihan bwat kling, raņđi dan bsar (bĕsar). Istilah bsar (bĕsar) ‘sutra’ sekalipun secara umum dapat mengacu pada wdihan bwat kling dan raņđi, namun istilah ini kiranya lebih mengacu pula pada sutra produksi Jawa. Mengingat sutra India dan Cina dalam setiap penggunaannya selalu disebut secara spesifik dalam prasasti atau teks Jawa Kuna. Dengan adanya industri sutra, dampak impor sutra dapat diminimalisir, terlebih sutra juga di ekspor Jawa ke Suez sebagaimana catatan Duarte Barbosa.

7. Sejarah Pemerintah Majapahit mengembangkan tehnologi logam terbaik pada masanya

Duarte Barbosa pada abad ke-16 mencatat: Mereka juga membawa kesini banyak senjata untuk dijual, ada tombak, belati dan pedang-pedang yang dibuat dari campuran logam dan terbuat dari baja yang sangat bagus, mereka juga membawa pewarna kuning yang mereka namakan cazumba (Kasumba), dan emas, yang diproduksi di Jawa. Informasi ini menunjukkan bila Jawa dapat dikatakan memiliki tehnologi pengolahan logam terbaik di dunia hingga abad ke-16. Dikuasainya tehnologi logam itu dengan baik, menjadikan Jawa selain mampu mandiri dalam pengadaan alutsista, juga mampu menjadi pemasok utama senjata ke Timur Tengah. Dengan penguasaan tehnologi logam ini pula, Jawa sekalipun dicatat menggunakan senjata terbaru seperti bĕdil ‘senjata api’, bĕsar ‘meriam’, waju rante ‘baju yang terdiri atas rantai-rantai besi’, kawaca ‘baju baja’, karambalangan ‘lapis logam di depan dada,’ rukuh ‘topi baja’ dan sebagainya tidak perlu mengimpor dari negara lain.

8. Sejarah Pemerintah Majapahit mengembangkan tehnologi perkapalan terbaik pada masanya

Dalam Sejarah Dinasti Liu Song (420-479), Jawa dicatat mengirim armada perdagangan mendahului armada perdagangan lain di Nusantara. Tidak dicatat adanya pengiriman armada perdagangan sebaliknya yaitu dari Cina ke Jawa sejak masa Dinasti Liu Song (420-479) hingga Dinasti Yuan (1279-1368). Hal ini menunjukkan bila Jawa lebih dahulu dalam menguasai tehnologi kapal. Tehnologi kapal Jawa pada abad ke-3 dicatat memiliki panjang 61 m, dengan tinggi dari permukaan air 9 m, serta mampu memuat 600 orang dan barang 10.000 ho (1 ho setara dengan 10 sekop jagung). Tehnologi ini lebih maju dari pada tehnologi kapal Mongol pada abad ke-13, dan tehnologi kapal Melaka pada awal abad ke 15 serta tehnologi kapal Eropa pada akhir abad ke-15.

Teknologi kapal Jawa pada abad ke-16 bahkan lebih maju. Berdasar informasi Duarte Barbosa dan Gaspar Correia, kapal Jawa sangat besar dan memiliki panjang sekitar 313 m. (43) Kapal ini terbuat dari kayu yang sangat tebal sehingga mampu menahan tembakan meriam dalam jarak dekat. Papan kayu itu terdiri dari empat lapis papan, serta kapal dibuat dengan sistem knock down karena bila kapal menua, mereka hanya perlu memperbaikinya dengan papan-papan baru. (44) Dengan adanya tehnologi kapal besar dan tebal ini, Jawa memiliki tehnologi merapatkan sambungan dan mengatasi merembesnya air yang tidak dimiliki bahkan oleh AS pada abad ke-19. (45) Dengan dikuasainya tehnologi kapal besar, maka harga jual akan dapat bersaing karena barang yang dikirim dapat banyak namun biaya pengiriman menjadi murah.

9. Sejarah Pemerintah Majapahit menerapkan kapitalisme negara, bukan kapitalisme pemodal.

Permintaan Kaisar Cina (46) dan juga raja Malaka Xaquerin Darxa (47) kepada Raja Majapahit berkenaan dengan armada dagang Majapahit, menunjukkan bila armada dagang Majapahit sepenuhnya dalam kendali Raja Majapahit atau pemerintah. Raja Majapahit kiranya dapat disebut sebagai pedagang atau le Prince est marchand sebagaimana Sultan Iskandar Muda. Istilah le Prince est marchand menunjukkan kapitalisme pada masa itu dikuasai oleh pemerintah yang merupakan repesentatif negara. Konsep le Prince est marchand dapat dikatakan tidak hanya dilakukan oleh Majapahit dan Aceh. Semua negara di Nusantara melakukannya. Sekalipun masyarakat umum dapat melakukan perdagangan sebagaimana yang dicatat oleh saudagar Ampu Jatmaka dalam Hikayat Banjar, namun kapasitas mereka tidak dapat dikatakan besar sebagaimana yang dikelola pemerintah. Hal ini karena perdagangan jarak jauh, pada masa lalu perlu mendapat pengawalan dari pasukan terlatih. Semua itu tentu hanya dapat dilakukan oleh negara. Karena dalam Hikayat Hang Tuah dicatat bahwa pelayaran jarak jauh pada masa itu penuh bahaya, “Lagi pula negeri Rom itu terlalu amat jauh pelayaran-nya, banyak permusohan di-jalan, khabar-nya”. (48).

10. Sejarah Pemerintah Majapahit menyatukan wilayah Jawa, Nusantara, Desantara dan Dwipantara melalui pendekatan kepentingan bersama, bukan kekuasaan.

Prasasti Nāgarakŗtāgama mencatat Majapahit menyatukan Jawa, Nusantara, Desantara (Indocina) dan Dwipantara (India dan Cina). Hubungan Majapahit dengan Jawa, Nusantara, Desantara dan Dwipantara dicatat dengan istilah sapađa ‘sebagai tamu’, angaśraya ‘meminta perlindungan’, kachaya ‘dilindungi’ dan sumiwi ‘mengabdi’. (49) Ikatan tersebut bukan didasarkan pada kekuasaan semata. Namun karena kepentingan bersama serta karena pendekatan budaya yang dilakukan Majapahit.

Pendekatan kepentingan bersama, misalnya dapat dilihat dari penyatuan negara yang baru didirikan yaitu, Malaka. Raja Malaka  yang baru Xaquerin Darxa (Iskandar Syah) mengirimkan dutanya ke Majapahit, memohon agar para pedagang Jawa mau berdagang ke Bandar Malaka sebagai bandar baru (Malaka muncul pada awal abad ke XV), disamping berdagang ke Pasai. Perdagangan Jawa dicatat mendapat keistimewaan yakni dibebaskan dari cukai impor ekspor. (50) Kepentingan bersama tersebut adalah pasar Malaka terbantukan dengan datangnya pedagang Jawa dan Majapahit mendapat pasar baru.

Raja Malaka yang baru menurut Hikayat Hang Tuah bahkan dengan suka hati menjadi kawula negara Majapahit atau wilayah angaśraya dengan tanpa paksaan. Maka Raja Melaka pun bertitah, “Ada pun kita ini hendak menjadi hamba ka-bawah Duli Paduka Betara. Ada pun yang kita harap ini hanya-lah paman pateh akan jadi ayah bonda; kita datang ka-Majapahit ini tiada dengan sa-tahu ayah bonda kita”. (51)

Karena itu dalam Nāgarakŗtāgama penyerangan ekspedisi militer ke luar Jawa dicatat berlangsung karena ada pelanggaran perjanjian bukan karena semangat penaklukkan, pituwi sing ājñalanghyana dinon wiśirņna sahana ‘kendati ada para pelanggar perjanjian, mereka diserang oleh tentara yang dikirim ke luar negeri dan dihancurkan semuanya.’ Hal ini karena negara yang telah menyatakan bergabung ke Majapahit, dan diterima sebagai bagian Majapahit, tidak dapat keluar dari perjanjian sesuka hatinya. Ada hak dan kewajiban yang harus diikuti. Irawan menilai ikatan angaśraya merupakan ikatan final dan mengikat bagi kerangka administratif Majapahit. (52)

Setelah Panembahan Senapati yang mengisolasi Jawa dari dunia luar meninggal, dan pemerintah Jawa dipegang oleh Panembahan Agung yang kemudian menamakan dirinya sebagai Sultan Agung, negara-negara di Nusantara sekali lagi meminta bergabung kepada Jawa sebagaimana dicatat pada Babad Sultan Agung pupuh XVI-XVIII. (53) Permintaan ini sebagaimana keterangan Hikayat Hang Tuah menunjukkan penyatuan terutama Nusantara oleh Jawa bukan karena penaklukkan.

 

Kesimpulan

 

  1. Majapahit adalah sebuah nagara yang merupakan pusat dari Kerajaan Jawa.
  2. Kerajaan Jawa sudah berdiri jauh sebelum Majapahit.
  3. Sebagai sebuah nagara, Majapahit berkembang dengan cepat karena mampu memanfaatkan momentum penyerangan Mongol ke Gelang-Gelang, dan kemudian membunuh Kaisar Khubilai Khan.
  4. Majapahit runtuh karena diserang Demak adalah rekaan pujangga Mataram untuk menaikkan leluhur Mataram atas leluhur Demak.
  5. Sejarah Majapahit dapat dijadikan sebagai energi Renaissance jika dikembangkan ke ranah bidang Ilmu Pengetahuan dan intelektual.

 

Catatan

 

[1] Disebut versi Bali karena penulis teks cerita berpihak kepada Raja Jayakatwang. Dengan menuduh Wijaya telah berhianat kepada pelindungnya yaitu Raja Jayakatwang. Tidak ada kisah penghianatan Ardaraja anak Raja Jayakatwang yang juga menantu Kertanagara kepada Kertanagara dan pasukan Wijaya.

2 Disebut versi Jawa karena penulis teks cerita berpihak kepada Wijaya. Di dalamnya memuat kisah penghianatan Ardaraja anak Raja Jayakatwang yang juga menantu Kertanagara kepada Kertanagara dan kepada pasukan Wijaya.

3 şamangkana nikang digantara paḍangabhaya maŗk i jὄng nareśwara, ikang sakahawat Pahang sakahawat malayu paḍā manungkul ādara, muwah sakahawat gurun sakahawat bakulapura mangaśrayomaŗk, ndatan lingěn i suņḍa len maḍura pan satanah i yawa bhakti tan salah (Nag.42.2).

4 Sebelum adanya penyerangan ke Jawa, sebuah catatan Cina mencatat bila pada kuartal ketiga abad ke-12 atau pada masa Kediri, Jawa dicatat sebagai wilayah yang sangat kaya di dunia. Penulis Cina itu mengatakan, “Dari semua kerajaan asing yang kaya raya yang memiliki simpanan barang-barang berharga dan banyak macamnya (cadangan devisa red.), tidak ada yang melebihi bangsa Ta-shih (Arab). Posisi kedua ditempati oleh She-p’o (Jawa), sementara San-fo-chi (Sriwijaya) di tempat ketiga (K.Hall, via Robert Dick-Read, 2008:104). Dan pada abad 13, Jawa sebagaimana catatan Marco Polo, bergeser menempati peringkat pertama sebagai negara terkaya di dunia. Marco Polo mengatakan tentang Jawa: “Jumlah emas yang dikumpulkan di sana lebih banyak daripada yang dapat dihitung dan hampir tak dapat dipercaya. Kemudian, dari tempat itulah para pedagang dari Zai-tun dan Manji mengimpor logam mulia, yang menurut ukuran impor masa kini, jumlahnya sangat besar,” (The Travels of Marco Polo, via Robert Dick-Read, 2008:143-144).

5 M. Yamin I, 1960: 211.

6 W.P. Groeneveldt, 2009: 42.

7 Pernyataan tersebut juga menunjukkan sesungguhnya pasukan Ike Mese dan 2 panglima lainnya hanyalah pasukan cadangan. Kalimat “Setibanya di Jawa, kalian harus mengirimkan pembawa pesan untuk memberi tahu aku” menunjukkan Kaisar Khubilai Khan akan bukan berada di Cina. Sebab dalam era pelayaran masa lalu yang berdasarkan angin, perjalanan dari Cina ke Jawa atau sebaliknya tidak bisa dilakukan sewaktu-waktu dan dilakukan sekitar 6 bulan atau setahun sekali. Tiba di Jawa kemudian langsung kembali ke Cina menginformasikan bahwa mereka telah tiba di Jawa kepada Kaisar, adalah tidak mungkin. Terakhir, Prasasti menyebut Raja Mongol sebagai raja bertentara besar. Dengan hanya datang sebanyak 20.000 prajurit sementara itu prajurit Da-ha ada 100.000, maka informasi kedatangan prajurit sebanyak 20.000 bukan merupakan pasukan yang besar, dan berbeda dengan informasi prasasti. Sangat dimungkinkan ada pasukan lain yang lebih besar yang minta tambahan prajurit sebanyak 20.000 orang guna menyerang Jawa.

8 M.Yamin I, 1960: 246-247. Dalam Nāgarakŗtāgama pupuh LXIV: 4, Prapanca melukiskan jalannya peperangan melawan Raja Jayakatwang adalah sebagai berikut: ārdđa mwang twang <wwang>  tatar mmamŗpi haji jayakatwang bhraşţa sahana. Slametmulyana menterjemahkan dengan kalimat: ‘Bersekutu dengan bangsa Tatar, menyerang melebur Jayakatwang’. Kata ārdđa menurut kamus OJED: 60 berarti bersama-sama dan bukan bersekutu. Sekutu sendiri dalam bahasa Jawa Kuna adalah mitra. Dengan demikian artinya adalah ‘Bersama-sama dengan orang Tatar’, …. Pilihan kata Prapanca ini harus diterjemahkan bila penyerangan yang dilakukan Wijaya sebagaimana keterangan prasasti-prasasti yang dikeluarkan Wijaya, bahwa Wijaya menyerang Jayakatwang memanfaatkan situasi yaitu bersamaan dengan penyerangan Mongol ke Daha. Bukan mengadakan kesepakatan dulu dengan Mongol kemudian menyerang Daha sebagaimana catatan Kidung. Dengan demikian tidak ada istilah bantuan Mongol untuk Wijaya.

9 M.Yamin I, 1960: 246-247. Dalam Prasasti Kŗtarajasa 1296, kematian Kubilai Khan, Raja Mongol, dalam peperangannya di Jawa, dilukiskan sebagai kematian Raja Kangsa dibunuh oleh Kresna yang masih muda. Raja Kangsa merupakan raja yang menginginkan kematian Kresna semenjak ia masih bayi. Karena itu, untuk menghindari pasukan pembunuh Raja Kangsa, bayi Kresna dikisahkan disembunyikan di sebuah desa terpencil di Gobajra “tempat peternakan” di Magadha dan menitipkan mereka kepada perawatan dan perhatian Antagupta, kepala para gembala itu serta istrinya, Ayaswādhā.  Ketika Kresna dewasa, ia kemudian melawan Raja Kangsa. Raja Kangsa pada saat Kresna melawannya tentu telah menua. Dengan disamakannya Kubilai Khan sebagai Raja Kangsa, berarti, pada masa penyerangan ke Jawa, Kubilai Khan dicatat memang telah tua. John Man mencatat, pada 1236, Kubilai Khan telah berusia 21 tahun. Lihat John Man, 2010: 24-25. Pada 1293, Kubilai Khan tentu telah berusia 78 tahun. Usia yang sangat tua untuk pergi berperang. Namun, karena masa kelahiran Kubilai Khan tidak diketahui secara pasti, ada kemungkinan usia 78 terlalu berlebihan. Yang pasti, Kubilai Khan memang telah tua, tapi tidak setua itu dan masih mampu memimpin pasukan menaklukkan Jawa. Dari hal tersebut, dapat dikatakan jika data prasasti mengetahui dengan baik keadaan diri Kubilai Khan.

10 C.C. Berg, 1931: 76.

11 C.C. Berg, 1930: 81.

12 Muhammad Yamin I, 1962: 255-256.

13 Muhammad Yamin I, 1962: 260.

14 Muhammad Yamin I, 1962: 260.

15 Lihat Muhammad Yamin II, 1962: 43.

16 Muhammad Yamin II, 1962: 49.

17 H.B. Sarkar, Journal GIS, Djuli 1935: 132 via Muhammad Yamin II,  1962: 59.

18 Lihat Muhammad Yamin II, 1962: 67.

19 Muhammad Yamin II, 1962: 69.

20 Figur Gajah Mada menjadi besar pada dasarnya merupakan jasa peneliti Belanda yaitu Kern dan Krom. Pengangkatan Gajah Mada sebagai Pemersatu Nusantara ala Pararaton dilakukan oleh mereka. Sekalipun mereka (para penulis sejarah awal Majapahit) itu menolak data Pararaton, namun dalam akhir kesimpulannya, data tersebut digunakan. Sekalipun disadari jika hal tersebut, adalah rancu. Tujuan akhir tulisan Kern dan Krom sebenarnya jelas yaitu Majapahit pernah besar namun sementara. Kebesaran Majapahit diperoleh dengan kekerasan sebagaimana penjelasan di Pararaton, dengan kata lain Jawa menjajah luar Jawa.

21 J.L.A. Brandes, 1920: 36.

22 J.L.A. Brandes, 1920: 37

23 Pengarang Pararaton memasukkan Suņđa sebagai daerah Nūşântara merupakan peristiwa yang menarik. Dalam semua catatan teks Melayu dan Jawa Kuna, Suņđa tidak dimasukkan sebagai bagian Nūşântara. Hikayat Hang Tuah mencatat rute dari Malaka ke Majapahit melalui Jayakarta. Jayakarta (wilayah Suņđa) dicatat sebagai Jawa dan bukan Nūşântara. Nāgarakŗtāgama mencatat Suņđa, Jawa dan Madhura adalah satu kesatuan. Barang kali pengarang Pararaton kurang  menguasai pembagian wilayah di Majapahit.

24 rasika sahakārī wŗddyāning yawāwani ring dangū, ri bali ri saḍeng wyaktinyantuknikānayakĕn musuh, Nāg.70.3.3-4.

25 … sang Gajahmada patih ring Tiktawilwâdhikā, mantrī wīra wicaksaņêng naya matangwan satya bhakty aprabhū, wāgmī wāk <apadu> sārj(j)awopasama <dhīrotsāha tan lālana, <rājâdyakşa> rumakşa ri sthiti narendrā n cakrawartti ng jagat, ‘… sang Gajah Mada, patih Majapahit; Seorang mantri, gagah berani, cerdas, dapat dipercaya, setia dan taat kepada sang raja; Fasih bicara, tajam ucapannya, jujur, bersahaja, ulet dalam berusaha dan tidak berlambat-lambat, Pengawas istana, bertanggung jawab atas kelanggengan sang raja sebagai penguasa dunia’, Nāg. 12.4.

26 Prapañca menyebut kedudukan raja Majapahit pada āśīr Nāgarakŗtāgama sebagai bhaţāra nātha. Makna itu harus dimaknai sebagai konsep kepercayaan, sebab setelah raja Majapahit dan juga raja Singashari wafat, mereka biasanya didharmakan disebuah candi dalam wujud dewa. Konsep ini bisa bermakna raja bertindak sebagaimana bhaţāra, sehingga tidak mengurusi masalah yang tidak layak bagi sifat kebhaţāraannya. Pada ilmu politik modern kalimat tersebut disetarakan dengan ungkapan: the king can do no wrong. Can do no wrong-nya ini karena raja tidak terlibat aktif pada pemerintahan, sehingga raja tidak bisa berbuat salah. Dalam tradisi penguasa-penguasa Mataram istilah bhaţāra nātha dimaknai dengan istilah ratu gung binathoro ‘raja besar seperti dewa’. Konsep itu dibawa ke area kenegaraan, sehingga raja berkuasa seperti dewa. Pembawaan keranah kenegaraan itu menjadikan kekuasaan raja seperti yang dimiliki raja Perancis Louis XIV. Ungkapan yang terkenalnya adalah: l’état, c’est moi ‘negara adalah saya’. Tidak terlalunya bersinggungan langsung dengan politik kenegaraan, menjadikan posisi raja lebih banyak berperan di bidang keagamaan. Raja Rājasanagara misalnya, dilukiskan melakukan perjalanan keagamaan ke dharma-dharma di seluruh negeri dengan meninggalkan pemerintahan hingga waktu lama setiap tahun. Semua ini hanya dapat dilakukan karena perannya di pemerintahan memang kurang. Perjalanan kenegaraan Raja Rājasanagara setiap tahun yang ada pada ‘akhir musim dingin’, bukanlah merupakan perjalanan untuk mencari hiburan melainkan perjalanan keagamaan. Sekalipun setelah perjalanan keagamaan itu selesai ia kemudian mencari hiburan, namun itu bukan merupakan tujuan utama perjalanan itu. Dalam salah satu perjalanan yang disertai Prapañca, Prapañca melukiskannya sebagai berikut: nŗpati huwus mamuspa ri dalĕm sudharma sakatustaning tĕwas ginöng,hana ri kĕdhung bhiru ri kaśurāngganān mwang i burĕng langönyênitung,  (Nāg. 35.4.3-4). ‘Raja telah melakukan puja bhakti dalam dharma, kini mencari hiburan, kadang-kadang di Kĕdhung Biru, di Kaśurāngganān, atau di Burĕng ….’

27 Keberadaan teks Hikayat Hang Tuah telah disebutkan dalam Oud en Nieuw Oost-Indien karangan François Valentijn pada tahun 1726.

28 Kisah ini kemudian dibuat lebih realistis pada Serat Dharmagandul. Dalam Serat Dharmagandul dikisahkan hingga peristiwa penangkapan Brawijaya dan pengislamannya oleh Sunan Kalijaga. Islamnya Brawijaya membuat marah pengiringnya, ia kemudian moksa.

29 Perlambang pada mulanya merupakan istilah yang diberikan oleh R. Ng. Suradipura, (R. Ng. Suradipura, 1990: 53). R. Ng. Suradipura merupakan salah seorang ahli untuk memahami sejarah Jawa yang ditulis dalam genre ‘babad’. Ia mengatakan bahwa: “Para penulis babad tidak boleh menyembunyikan kenyataan peristiwa sejarah (dengan kata lain data sejarah adalah benar, red), akan tetapi dalam penyusunan peristiwa yang dianggap tabu untuk dikemukakan dibuatlah kisah perlambang atau kiasan dari peristiwa yang sebenarnya”. Perlambang atau kiasan tersebut dapat utuh atau hanya sebagian. Perlambang utuh adalah perlambang sebuah fragmen cerita yang benar-benar berbeda dengan kisah sebenarnya. Perlambang sebagian adalah perlambang sebuah fragmen cerita yang mengikuti alur kisah sebenarnya, namun di bagian-bagian tertentu dibuat perlambang.

30 Dalam kajian filologi, teks yang lebih tua dapat merevisi teks muda dan bukan sebaliknya.

31 WP. Groeneveldt, 2009: 54-55

32 Mansel Longworth Dames, The Book of Duarte Barbosa vol II. Second Series No. XLIX , London: The Hakluyt Society. 1921,  hal: 175.

33 Pada prasasti Jiwu I (OJO XCII) dan JIWU III (OJO XC10), Ranawijaya dicatat sebagai Mahārāja Majapahit dan berkuasa selepas tahun 1478 M. Ia bergelar Paduka Śrī Mahārāja Battara i Kling (Keling). Keling menurut HHT 6:80 merupakan daerah di Malaka dan bukan di daerah Jawa, sehingga sangat dimungkinkan Ranawijaya adalah Radin Bahar atau Raden Patah menurut BTJ.

34 Lihat Irawan, 2011: 235.

35 Anthony Reid, 1992: 35.

36 H.A.R. Gibb, 1983: 276.

37 Irawan, 2011: 238-239.

38 W.P. Groeneveldt, 2009: 65.

39 Lihat, Pigeaud, 1960: 104-107.

40 Istilah wdihan bwat kling ‘kain buatan India’ serta ken bwat lor ‘kain buatan daerah utara’ mengacu pada sutra buatan India yang sangat terkenal. Wdihan bwat kling dicatat dalam prasasti Turryan 929 M dan ken bwat lor dicatat dalam prasasti Sarangan 929 M. Pada abad ke-17, tren masyarakat Eropa kembali menyukai kain India sebagaimana Jawa abad ke 10, sehingga C.R. Boxer mengungkapkannya dengan istilah ‘Gila India,’ Lihat Irawan, 2011: 55-57.

41 Zoetmulder, menterjemahkan raņđi dengan kain sutra Cina atau Siam, lihat Zoetmulder, 1995: 918.

42 W.P. Groeneveldt, 2009: 23. Dalam Śarasamuccaya 481 dicatat: nā ng ulĕr magawe bĕsar …. , lihat Zoetmulder, 1995: 122. Keterangan ini menunjukkan Jawa telah mengenal pemanfaatan ulat sutra untuk dibuat sutra.

43 Irawan, 2011: 307.

44 Duarte Barbosa mengatakan: ‘Saat kapal itu menua, mereka memperbaikinya dengan papan-papan baru dan dalam gaya seperti ini, mereka memiliki empat papan penutup, saling tumpuk; layarnya terbuat dari osier, talinya pun terbuat dari bahan yang sama’, lihat Paul Michel Munoz, 2009: 396-397.

45 Kapal kayu modern terbesar dunia milik AS pada tahun 1853 yaitu Great Republic memiliki panjang 100,5 m. Lihat, John R. Hale, 1984: 86.

46 WP. Groeneveldt, 2009: 54-55.

47 Ibid., hal: 97.

48 HHT, XXV: 438

49 Irawan, 2010: 206.

50 A.M. Djuliati Suroyo, 2007: 97.

51 HHT, VI: 123.

52 Irawan, 2010: 231.

53 Ibid., hal: 233.

 

 

Daftar Pustaka

 

A.M. Djuliati Suroyo, dkk       Sejarah Maritim Indonesia 1: Menelusuri Jiwa Bahari Bangsa Indonesia Hingga Abad Ke-17. Semarang: Penerbit Jeda, 2007.

Ani Triastanti                           Perdagangan Internasional pada Masa Jawa Kuno: Tinjauan Terhadap Data Tertulis Abad X-XII. Skripsi Fakultas Ilmu Budaya. Universitas Gadjah Mada Yogyakarta, 2007.

Armando Cortesao                   The Suma Oriental of Tome Pires. London, Hakluyt Society: 1944.

Arthur N. Waldron                   The Mongol Period History of the Muslim Word. USA: Markus Wiener, 1994.

Berg, CC                                  “Kidung Sunda, Inleiding, Tekst, Vertaling en Aantekeningen”. BKI (83): 1-161, 1927.

______________                    Kidung Sundayana (Kidung Sunda C) voor Schoolgebruik Uitgegeven, en Voorzien van Aantekeningen, een Woordenlijstje en een Inleiding tot de Studie van het Out-Javaansch. Soerakarta: Drukkerij “De Bliksem”, 1928.

______________                    Rangga Lawe, Middeljavaansche Historische Roman. BJ 1. Weltevreden: Albert & Co, 1930.

_______________                  “Kidung Harsa-Wijaya”. BKI (88): 1-238, 1931.

Bernard H.M. Vlekke              Nusantara Sejarah Indonesia. Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia, 2008.

Brandes, J.L.A                         “Nagarakrtagama, Lofdicht van Prapanca op Koning Rajasanagara, Hayam Wuruk, van Majapahit naar het Eenige daarvan Bekende Handschrift Aangetroffen in de Puri te Tjakranagara op Lombok”. VBG 54 (1): 1-98, 1902

______________                    Pararaton (Ken Arok) of het Boek der Koningen van Tumapel en van Majapahit. VBG 62, ‘s-Gravenhage: Martinus Nijhoff, 1920.

Ekadjati, E.S.                           Babad (Karya Sastra Sejarah) Sebagai Obyek Studi Lapangan Sastra, Sejarah, dan Antropologi. Dokumentasi Lembaga Kebudayaan Universitas Padjadjaran Bandung, 1970.

Fruin-Mees, W                         Babad Tanah Djawi, Ingkang Andjawekaken R. Ng. Poerbatjaraka. Jilid 1, Weltevreden : Balai Pustaka, 1921.

  1. Coedes Les Etats Hindouises d’Indhochine et d’Indonesie. Paris: De Boccard, 1989.

Gibb, H.A.R                            Ibn Battuta Travels in Asia and Africa 1325-1354. London: Darf Publishers LTD, 1983.

Gina dan Dirgo Sabariyanto     Babad Demak I. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Proyek Penerbitan Buku Sastra Indonesia dan Daerah, 1981.

Groeneveldt, W.P                    Nusantara dalam Catatan Tionghoa. Jakarta. Komunitas Bambu, 2009.

Hall, D.G.E                              A History of Southeast Asia. New York: Max Millan, 1968.

Hall, R. Kenneth                      Maritime Trade and State Development in Early Southeast Asia. Honolulu: University of Hawaii Press, 1985.

Hasan Djafar                           Girindrawarddhana Beberapa Masalah Majapahit Akhir. Jakarta: Direktorat Pembinaan Penelitian dan Pengabdian pada Masyarakat Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1978.

Hill, A.H.                                 “Hikayat Raja-raja Pasai a Revised Romanished Version of Raffles MS 67, Together with an English Translation”. Journal Malayan Branch [vol. 33. Pt.2, 1960], Royal Asiatic Society: 1-335.

Ibn Battuta                               Travels in Asia and Africa 1325-1354. London: Darft Plubhishers LTD, 1986.

Irawan Djoko Nugroho            Meluruskan Sejarah Majapahit, Yogyakarta: Ragam Media, 2010.

______________                Majapahit Peradaban Maritim, Jakarta: Yayasan Suluh Nuswantara Bakti,  2011.

______________                    Tata Kelola Negara Hingga Abad ke-16 Sebuah Tinjauan Sejarah. Makalah ini disampaikan dalam rangka Peringatan Dies Natalis ke-53 ITB, yang diselenggarakan ITB bekerjasama dengan Yayasan Suluh Nuswantara Bakti, di Aula Barat ITB, Bandung tanggal 31 Maret 2012.

______________              Hubungan Mancanegara Era Majapahit. Makalah ini disampaikan dalam Diskusi Panel Serial ke-7 yang diselenggarakan Yayasan Suluh Nuswantara Bakti di Jakarta tanggal 5 April 2013.

John Man,                                Kublilai Khan. Legenda Sang Penguasa Terbesar dalam Sejarah. Tangerang: Pustaka Alfabet: 2010.

Kasim Ahmad, M.A                 Hikayat Hang Tuah. Menurut Naskhah Dewan Bahasa dan Pustaka. Kuala Lumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka Kementrian Pelajaran Kuala Lumpur, 1964.

Kern, H                                    “De Nagarakrtagama. Oudjavaansche Lofdicht op Koning Hayam Wuruk van Majapahit”. VG VII: 249-320; VG VIII: 1-132, 1917.

______________                    Verspreide Geschriften. ‘s-Gravenhage, 1917-1922.

Ki J. Padmapuspita                  Pararaton Teks Bahasa Kawi dan Terjemahan Bahasa Indonesia. Yogyakarta: Penerbit Taman Siswa, 1966..

Kong Yuanzhi,                        Muslim Tionghoa Cheng Ho. Misteri Perjalanan Muhibah di Nusantara. Jakarta: Pustaka Populer Obor, 2005.

Krom, N.J.                               Oud-Javaansche Lofdicht Nagarakrtagama van Prapanca (1365 A.D). Meet Aantekeningen van N.J. Krom. ‘s-Gravenhage: Martinus Nijhoff, 1919.

Made Suastika, I                      Calon Arang dalam Tradisi Bali, Yogyakarta: Duta Wacana University Press, 1997.

Marwati Djoned P &                Sejarah Nasional Indonesia 1-4. Jakarta: Balai Pustaka, 1984.

Nugroho Notosusanto

_______________                  Sejarah Nasional Indonesia 1-4. Cetakan Ke-4. Jakarta: Balai Pustaka, 1992.

Muhammad Yamin                  Tatanegara Majapahit. Sapta Parwa. Vol. I-III. Jakarta: Yayasan Prapanca, 1962.

Paul Michel Munoz                  Kerajaan-kerajaan Awal Kepulauan Indonesia dan Semenanjung Malaysia. Yogyakarta: Mitra Abadi, 2009.

Pigeaud, Th.G.Th                     Java in the 14th Century, A Study in Cultural History I-III. The Hague, 1960.

_______________                  Java in the 14th Century, A Study in Cultural History IV. The Hague, 1962.

Reid, Anthony                         Asia Tenggara dalam Kurun Niaga 1450-1680: Tanah Dibawah Angin. Jilid 1. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, 1992.

Robert Dick-Read                    Penjelajah Bahari. Pengaruh Peadaban Nusantara di Afrika. Bandung: PT Mizan Pustaka, 2008.

Sartono Kartodirdjo, dkk         Sejarah Nasional Indonesia 1-4. Cetakan Pertama. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1975.

Sartono Kartodirdjo, dkk         700 tahun Majapahit (1293- 1993), Suatu Bunga Rampai. Jakarta: Balai Pustaka, 1995.

Slametmuljana                         Runtuhnya Kerajaan Hindu-Jawa dan Timbulnya Negara-negara Islam di Nusantara. Jakarta: Bhratara, 1968.

______________                    Nagarakrtagama dan Tafsir Sejarahnya. Jakarta: Bhratara Karya Aksara, 1979.

Suradipura, R. Ng                    Serat Tembung Andhupara. Semarang: Dahara Prize, 1990.

Tan Ta Sen,                             Cheng Ho Penyebar Islam dari China ke Nusantara. Jakarta: Kompas, 2010.

Teeuw, A & S.O Robson         Kunjarakarna Dharmakathana: Liberation Throught the Law of the Buddha. An Old Javanese Poem by Mpu Dusun. The Hague: Martinus Nijhoff.

Zoetmulder, P.J.                       Kalangwan: Sastra Jawa Kuno Selayang Pandang. Terjemahan Dick Hartoko. Cetakan Kedua. Jakarta: Penerbit Djambatan, 1985.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*