Teori Dongson adalah sebuah teori yang intinya menyebutkan bahwa bangsa Indonesia berasal dari Yunnan. Teori ini muncul setelah ditemukannya sebuah temuan di Dong Son pada tahun 1924. Temuan itu menimbulkan teori adanya kebudayaan Dong Son. Dan kebudayaan inilah yang kemudian dianggap membawa pengaruh utama prasejarah di Indonesia, terutama pada masa perundagian. Temuan benda perunggu seperti nekara, kampak, bejana, senjata tajam (seperti belati, pisau, maupun pedang) dan perhiasan kemudian, juga dianggap sama dengan tipe Dong Son.

Dianggapnya sama dengan tipe Dong Son terjadi karena temuan Dong Song pada masa itu dianggap temuan yang tertua di Asia Tenggara. Kebudayaan Dong Son dicatat dimulai pada 1500 SM hingga 500 SM. Karena itu jika ditemukan adanya temuan perunggu di atas tahun itu, maka dapat dikatakan jika teori Dong Son keliru. Dan penyebaran bangsa dari Yunnan batal.

Temuan Perunggu 3000 SM di Jawa

Dalam sebuah makalahnya, Agus Aris Munandar Guru Besar Arkeologi UI mencatat temuan menarik terkait ditemukannya temuan topeng perunggu di situs Goa Made, Jombang Jawa Timur. Menurutnya, tidak semua artefak perunggu yang ditemukan di situs Goa Made berasal dari era Majapahit. Ternyata terdapat juga artefak perunggu yang berasal dari periode yang lebih tua, dalam zaman prasejarah Indonesia (Munandar 2010: 11).

Dalam sebuah uji laboratorium tahun 1999 di laboratorium Arcadia di Milano diketahui tabung perunggu dengan puncak berhiaskan kepala manusia, kronologi yang didapatkan dari artefak tersebut adalah tahun 3000 SM, (Munandar 2010: 12). Tahun yang lebih tua dari temuan perunggu Dong Son.

Dari hal tersebut maka Agus Aris Munandar kemudian menyimpulkan bahwa prasejarah Indonesia justru menghasilkan kebudayaan perunggu, kemudian kebudayaan perunggu itu mempengaruhi perkembangan kebudayaan perunggu di Asia Tenggara, ((Munandar 2010: 23). Dengan kata lain, teori Dong Son keliru. Penyebaran manusia bukan dari Yunnan ke Indonesia namun dari Jawa lah atau Indonesia lah yang ke Yunnan.

Teori Dong Son Ditinggalkan

Dalam sebuah makalahnya terkait jaringan pelayaran dan perdagangan penutur Austronesia, Daud Aris Tanudirjo Guru Besar Arkeologi UGM, menyatakan sebagai berikut. “Hingga kini, setidaknya ada empat kawasan yang pernah dianggap sebagai tempat asal penutur Austronesia, yaitu Melanesia, Yunnan, Kepulauan Nusantara, dan Taiwan. Kini, kemungkinan Melanesia dan Yunnan sebagai tempat asal penutur Austronesia hamper tidak mendapat dukungan lagi”, (Daud Aris Tanudirjo, 2010: 1).

Informasi ini menunjukkan jika teori Dong Son dan Yunnan sebagai asal manusia Indonesia telah diakui para ahli arkeologi sebagai teori yang salah. Teori yang dianggap mati, karena teori tersebut telah terpatahkan. Setelah matinya teori Dong Son, kini tinggal 2 kandidat teori yang dianggap sebagai asal penutur Austronesia yang masih kuat, yaitu kepulauan Nusantara dan Taiwan.

Effect Dong Son

Sebuah teori boleh keliru. Boleh salah. Namun kekekeliruan teori Dong Son tentu sangat menyedihkan. Sebagian besar rakyat Indonesia yang pernah belajar sejarah hingga tahun 2010 tentu pernah dijejali oleh teori Dong Son ini. Mereka kemudian menganggap bangsa Indonesia sebenarnya adalah bangsa asing di wilayah yang ditempatinya. Anggapan yang sangat keliru ini kiranya by design.

Teori ini kiranya dibuat untuk melegalkan keberadaan Belanda pada masa lalu. Sesama bangsa asing di wilayah yang ditempati saat itu (Indonesia), bukankah tidak boleh menganggap paling memiliki wilayah yang ditempati. Belanda merupakan bangsa asing dan Yunnan pun merupakan bangsa asing. Sehingga hak atas wilayah bukan kepemilikan tapi usaha. Karena usaha Belanda lebih besar kala itu, maka ia lebih berhak untuk memiliki Indonesia bukan keturunan bangsa asing Yunnan.

Karena itu matinya teori Dong Son kiranya perlu disosialisasikan. Para siswa atau orang yang mempelajari sejarah harus mendapat pelajaran bahwa teori Dong Son keliru. Matinya teori Dong Son wajib menjadi pelajaran ke depan, agar para ahli jangan asal mengeluarkan teori. Terakhir, sangat mengejutkan jika banyak para ahli yang memposisikan diri sebagai pendukung teori Dong Son. Mereka kiranya telah bekerja keras demi sebuah kesalahan.*

 

Sumber:

  1. Agus Aris Munandar, Peninggalan-Peninggalan Arkeologis Tertua di Nusantara.
  2. Agus Aris Munandar, “Bronze Masks Discovered in Made Cave and Its Surrounding”, Research Report for Hettabrezt Spa via Emilia Ponente 130-40133, Bologna, Italy (Unpublish), 2010.
  3. Daud Aris Tanudirjo, Jaringan Pelayaran Dan Perdagangan Penutur Austronesia, Makalah disampaikan dalam Diskusi Pengaruh Peradaban Nusantara di Dunia, Sabtu 23 Oktober 2010 di Sultan Hotel, Jakarta, diselenggarakan oleh Suluh Nuswantara Bakti.

Website:

  1. http://owltwelvesc-twoone.blogspot.com/2013/01/asal-usul-dan-persebaran-manusia-di.html
  2. http://www.primasiswa.com/posts/398/semester-2-bab-3-persebaran-manusia-di-indonesia
  3. http://books.google.co.id/books?id=bZ7T7OJiVnEC&pg=PA2&lpg=PA2&dq=teori+dongson&source=bl&ots=ZRW5O90Cnk&sig=iIGELRb8c8LbLwF6dzF-MhnygyM&hl=id&sa=X&ei=FbwSVKznJtGgugSTv4GoDg&redir_esc=y#v=onepage&q=teori%20dongson&f=false
  4. http://geologi.iagi.or.id/2008/11/18/%E2%80%9Cout-of-sundaland%E2%80%9D-oppenheimer-1998-perdebatan-terbaru-2008/
  5. http://artikel-sekolah.blogspot.com/2012/09/kebudayaan-dong-son.html
  6. http://www.donisetyawan.com/kebudayaan-dongson-dan-pengaruhnya/

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*