1. Pengantar (1)

Meilink Roelofsz menuliskan dalam karyanya mengenai perdagangan Asia sebelum kedatangan Eropa, dan sejauh mana perdagangan yang dilakukan oleh orang-orang Eropa di Asia mempunyai pengaruh terhadap kemajuan perdagangan di Asia. Ia menyebutkan, ketika bangsa-bangsa Eropa datang ke Asia, perdagangan sudah bersifat besar-besaran. Dengan menggunakan data, baik dari VOC maupun dari Portugis, ia membuktikan adanya perdagangan beras dan lada yang menggunakan kapal-kapal besar.

Dengan dokumen-dokumen yang lebih lengkap tersebut, Meilink Roelofsz melengkapi karya Van Leur mengenai sejarah maritim Indonesia, bahkan ia mengoreksi pendapat Van Leur, yang mengatakan bahwa perubahan besar dalam struktur perdagangan di Asia Tenggara baru terjadi dengan datangnya bangsa Belanda di Indonesia. (2) Menurut sumber Portugis yang digunakan Meilink Roelofsz, perubahan itu sudah terjadi ketika Portugis menduduki Malaka pada 1511. (3)

Informasi Meilink Roelofsz tersebut menunjukkan bila sejarah maritim Indonesia yang dibuat Belanda tidak lengkap. Harus digunakan banyak data dalam menyusun sejarah maritim Indonesia dengan tepat. Sekalipun hanya didasarkan hingga jaman Portugis, namun ide Meilink Roelofsz sangat menarik. Menjadi pertanyaan kemudian, seperti apa sejarah maritim Indonesia pada era pra Portugis.

  1. Studi Kasus Maritim Majapahit

Penulisan-penulisan sejarah maritim Indonesia baik yang dilakukan para ahli sejarah dan arkeologi, ternyata memiliki kesamaan dengan cara pandang yang dilakukan oleh Van Leur. Dimana data yang dikaji tidak menggunakan data yang lengkap.  Hal ini kemudian menjadikan sejarah maritim Indonesia menjadi kurang akurat.

Banyak kasus menunjukkan ketidaklengkapan data pendukung yang digunakan dalam menyusun sejarah maritim Indonesia, salah satunya adalah sejarah Majapahit.

Contoh Kasus Pertama.

Para sarjana sejarah Eropa dalam membahas sejarah Asia Tenggara yang didalamnya menyangkut Majapahit, selalu mendasarkan pembahasannya pada ‘epos’ Dinasti Ming. Anthony Reid salah satunya. Seluruh kajiannya (4) bahkan disandarkan pada ‘epos’ tersebut. Ia juga mencatat sebagai berikut. Kaisar Hongwu segera mengirim utusan ke semua wilayah yang dikenalnya di Asia Tenggara untuk menyatakan bahwa fe (kebijakan) Cina telah dipulihkan kembali di bawah sebuah dinasti Cina dan semua kerajaan di Selatan harus berkembang dibawah naungannya (Wang 1968: 43-48). Utusan-utusan mengalir kembali secara teratur ke semua negara di masa pemerintahan kaisar tersebut. Dimasa pemerintahan putranya Vongle (1402-1424), hubungan itu makin meningkat dengan dikirimkannya sebuah armada yang sangat besar dengan pimpinan seorang Muslim, yaitu Cheng Ho, untuk memastikan agar semua negara di Selatan takluk dalam perlindungan Putra Surga. (5)

Bila Anthony Reid menggunakan data sebagaimana yang disarankan oleh Meilink Roelofsz, yaitu data yang lengkap, maka pembahasannya tentu akan berbeda. Sebab, ‘epos’ yang dihembuskan para sarjana sejarah Eropa demikian tidak berdasar. ‘Epos’ besar itu tidak didukung teks Melayu, Jawa dan Bali. Hingga tahun 1443 Cina sebagaimana pernyataan Kaisar Cina sendiri, merupakan bagian dari wilayah Majapahit dan Kaisar Cina merupakan rakyat Raja Majapahit. Karena itu Putra Surga, Hongwu dan Vongle yang di ‘epos’kan para sarjana sejarah Eropa juga hanya sebagai rakyat Raja Majapahit. Apabila Anthony Reid kemudian mendasarkan pada teks asli Cina sendiri, maka bangunan sejarah yang dijalinnya seketika runtuh.

Contoh Kasus Kedua

Bambang Budi Utomo dalam makalahnya (6) Majapahit Dalam Lintas Pelayaran dan Perdagangan Nusantara, menyebut kesatuan Nusantara dengan Majapahit dengan istilah Desantara kacaya. Serta negara Ayudhyapura, Dharmanagari, Marutma, Rajapura, Singanagari, Campa, Kamboja dan Yawana dalam hubungannya dengan Majapahit disebut dengan mitra satata.

Penyebutan Nusantara sama dengan Desantara, serta negara-negara di Asia Tenggara daratan ditambah Yawana (Arab) dengan mitra satata kiranya tidak berdasar pada teks asli Nagarakrtagama. Bila Bambang Budi Utomo membaca ulang teks Nagarakrtagama berdasar Kamus Zoetmulder (7), maka pengertian nusantara, desantara tidak dapat diseragamkan. Demikian pula mitra, tidak merujuk kepada selain Yawana (Arab).

Misalnya:

1.Nag. 12.6.4  mencatat: mwang Nūşântara sarw[w]a <maņđalikârāşţrângaśrayâkweh> maŗk.

Artinya: ‘Dan Nūşântara, wilayah yang melingkari, meminta perlindungan, banyak yang menghadap.

2. Nag.15.1.1-2 mencatat: <nahan> lwir ning Deśântara kac[h]aya de śrī narapatī, tuhun tang Syangkâyodhyapura kimutang <Dharm[m]anagarī>

Artinya: ‘Lihat keadaan dari Deśântara yang dilindungi oleh Sri Raja. Bahwasanya dia adalah: Syangka, Ayodyapura bersama dengan Dharmanagari,

3.Nag.15.1.4 mencatat: ri <Cāmpā> Kāmbojânyat i Yawana mitrêka satatā.

Artinya: ‘Cāmpā, Kāmboja. Yang lain adalah: Yawana, yang merupakan sekutu tetap’.

Dari pembacaan berdasar Kamus Jawa Kuna Zoetmulder tersebut, Nusantara dalam hubungannya dengan Majapahit disebut angaśraya ‘meminta perlindungan’. Desantara dalam hubungannya dengan Majapahit disebut kachaya ‘dilindungi’. Dan khusus Yawana (Arab) disebut mitra ‘sekutu’. Dengan demikian Ayudhyapura, Dharmanagari, Marutma, Rajapura, Singanagari, Campa, Kamboja tidak dapat disebut mitra. Akan tetapi disebut Desantara yang kachaya atau dilindungi. Selain itu, Nusantara dan Desantara tidak memiliki pengertian yang sama.

Contoh Kasus Ketiga

Paul Michel Munoz mencatat adanya migrasi Indo-Scythe melalui India ke Indonesia. Indo-Scythe itu dikenal sebagai bangsa Shaka. (8) Migrasi bangsa Shaka tersebut, kemudian memunculkan kalender Saka yang digunakan di Jawa.

Sebenarnya bila Paul Michel Munoz menggunakan data yang lebih lengkap, tidak ada suku bangsa Shaka terlebih kemudian tinggal di Jawa. Kisah Aji Saka yang menjadi dasar pemahamannya, memiliki relevansi dengan kisah yang diceritakan dalam Sejarah Dinasti Liang (502-557). Dalam Sejarah Dinasti Liang, penduduk Lang-ga (Medang/Jawa), menyebut Kerajaan Lang-ga sekitar 400 tahun yang lalu diperintah oleh saudara raja dari Jawa yang pernah diusir ke India. (9) Karena itu sebenarnya, tidak ada pemindahan suku bangsa Shaka ke Jawa. Namun dari Jawa kembali lagi ke Jawa.

  1. Metodologi Studi Majapahit

Di dalam melakukan penelitian tentang Majapahit atau yang berhubungan dengan Majapahit, para sejarawan menerapkan metodologi yang berbeda-beda.  Pertama, sejarawan dalam melihat Sejarah Majapahit, meninggalkan menggunakan data prasasti dan naskah sastra, namun menggunakan data lain yang dipilih. Misalnya kajian Anthony Reid dalam Asia Tenggara Dalam Kurun Niaga 1450 – 1680 jilid 2: Jaringan Perdagangan Global. Data yang digunakannya lebih banyak berupa catatan-catatan Eropa dan bukan melihat pada sumber teks aslinya di Asia. Demikian pula dalam pembahasannya yang berhubungan dengan Majapahit. Sejarah Majapahit bahkan menjadi subordinat sejarah negara lain setelah menggunakan data yang dipilih. Kajian ini tentu di luar kajian baku penulisan sejarah nasional Indonesia umumnya dan memiliki sifat memanipulasi sejarah.

Kedua, sejarawan Australia dalam melakukan penelitiannya menafikan untuk sementara prasasti dan naskah sastra namun menggunakan data lain yang bersifat umum. Misalnya kajian Martin O’Hare. Martin O’Hare dalam menyusun pengaruh Majapahit atas Wwanin dicatat menafikan data Jawa dan menggunakan sepenuhnya data Cina dan Eropa (10) secara umum untuk melihat hubungan dari keduanya. Beruntung, hasil kajiannya ternyata tetap mendukung data dari Jawa, yaitu Majapahit memiliki pengaruh hingga Wwanin sebagaimana catatan Prapanca dalam Nagarakrtagama pupuh 14.

Ketiga, sejarawan Indonesia dalam menyusun Sejarah Majapahit ditulis dengan tetap fokus dalam menggunakan data prasasti dan naskah sastra namun kurang mengoptimalkan data lain (asing). Misalnya Agus Aris Munandar.  Dalam karya penelitiannya yaitu Gajah Mada: Biografi Politik, Agus mencatat sebagai berikut. “Gajah Mada sebagai abdi negara Majapahit mendapat getahnya sampai sekarang, ia selalu dihujat bahwa sebagai patih amangkubhumi Majapahit yang digjaya, diakhir kariernya justru kejeblos dalam peristiwa Bubat yang tidak popular itu”. (11) Dari pernyataannya tersebut, Agus jelas mengutamakan data muda yaitu Pararaton dan Kidung Sunda di atas data yang memiliki sejarah lebih tua, yaitu prasasti dan Nagarakrtagama. Hal ini karena dalam prasasti dan Nagarakrtagama, tidak dicatat adanya peristiwa Bubat. Menurut kajian filologi, metodologi yang diterapkan Agus Aris Munandar, sangat tidak tepat. Seharusnya, teks yang lebih tua yang dapat merevisi teks muda, bukan sebaliknya.

  1. Maritim Pra Portugis

Tradisi maritim Portugis dimulai akhir abad 15. Kapal-kapal perintis Portugis dicatat sangat kecil begitu tiba di Nusantara. (12) Bernard H.M. Vlakke juga mencatat bila Vasco da Gama datang ke perairan India tidak untuk membuka perdagangan baru, namun membawa perintah dari Raja Portugis untuk menghentikan semua pelayaran Arab antara Mesopotamia dan India. Setelah beberapa pertempuran dahsyat, dia berhasil mengontrol bagian barat Samudra Indonesia bagi rajanya. (13)

Catatan Bernard H.M. Vlakke menunjukkan bila telah ada jalinan perdagangan pra Portugis. Jalinan perdagangan tersebut bahkan dilakukan secara besar-besaran. Marco Polo mencatat tentang Jawa: Kemudian, dari tempat itulah para pedagang dari Zai-tun dan Manji mengimpor logam mulia, yang menurut ukuran impor masa kini, jumlahnya sangat besar”. (14) Hal senada juga disampaikan oleh Omar Thaib salah seorang sarjana Turki. Sebelum dikuasai orang Eropa, perdagangan telah dilakukan secara-besar-besaran. Penguasaan perdagangan oleh Eropa  membuat kemunduran ekonomi Kerajaan Usmaniyah pada tahun 1628. (15)

Bila mengacu pendapat Omar Thaib, kemunduran perdagangan yang dikelola Nusantara terutama Jawa pada tahun 1628 bukan karena pengaruh superioritas Portugis atau Eropa atas Nusantara terutama Jawa, namun karena Jawa dengan sengaja meninggalkan politik maritimnya. Terutama pada masa Panembahan Senapati penguasa baru Mataram. Namun dengan adanya wilayah Jawa yang merdeka lepas dari Mataram, yaitu wilayah di Jawa Timur, perdagangan hingga Arab dilakukan di luar Mataram. Perdagangan dengan Arab benar-benar selesai setelah Sultan Agung dengan cerdik menundukkan Jawa Timur dan kemudian membuat perjanjian dengan Belanda.

Perjanjian Sultan Agung dan Belanda, berisi larangan bagi rakyat Mataram berdagang di sebelah timur Makasar atau barat Malaka. Sebagai gantinya, Belanda membayar biaya kompensasi setiap tahun sebesar 60.000 gulden. (16) Perjanjian ini merupakan great design besar untuk meneruskan politik Panembahan Senapati. Tanpa perjanjian itu Eropa tidak akan pernah menguasai perdagangan dunia. Menjadi tidak berlebihan bila Bernard H.M. Vlekke kemudian mengatakan: “Sampai awal abad ke-17, kehadiran orang Eropa di Kepulauan Indonesia membawa perubahan kecil dalam konstelasi politik di wilayah itu”. (17)

  1. Maritim Majapahit Diantara Maritim Nusantara

Menurut Prapanca (Nāg.16.5.1), Majapahit tergabung kedalam kerajaan yang disebut Jawa ‘Yawapuri’. Majapahit merupakan induk dari kerajaan Jawa tersebut. Sebagai bagian dari kerajaan Jawa, maritim Majapahit menjadi tidak dapat lepas dari sejarah maritim Jawa secara umum.

Dalam Catatan Dinasti Cina (18), Jawa mengirim armada dagang ke Cina untuk pertama kalinya di Nusantara. Duta Jawa dicatat dalam Sejarah Liu Song (420-479). Setelah Jawa, diikuti Sumatera sebagaimana yang dicatat dalam Sejarah Dinasti Liang (502-557). (19) Baru kemudian ikuti negara lain di Nusantara.

Tidak dicatat hubungan sebaliknya dalam artian armada dagang Cina ke Nusantara. Armada Cina tidak dicatat dalam Catatan Dinasti Cina mengirim armada dagang ke Nusantara. Kedatangan Dinasti di Cina di Nusantara dilakukan oleh para pendetanya dengan kapal Nusantara dan bukan kapal Cina.

Kapal Cina baru dicatat mulai masa Khubilai Khan. Kapal yang digunakan pada waktu itupun dapat dikatakan sangat kecil.  Kapal Cina dalam ukuran besar mulai dicatat digunakan Cheng Ho. Namun masa penggunaan kapal besar Cina itu tidak lama.  Pada era kedatangan Portugis, Tome Pires tidak mencatat peran armada Cina di Nusantara. (20) Catatan Tome Pires ini sesuai dengan catatan Melayu yang tidak mencatat peran armada dagang Cina di Nusantara.

Dalam Catatan Dinasti Cina, armada dagang yang dikirim ke Cina oleh negara-negara di Nusantara termasuk Jawa, dicatat sebagai menyerahkan upeti ke Kaisar Cina. Namun demikian kisah pemberian upeti tersebut tidak dapat digunakan sebagai dasar Nusantara dan Jawa tunduk kepada Cina.

Kisah pemberian upeti selain dicatat dalam Catatan Dinasti Cina, juga dicatat dalam Hikayat Hang Tuah (HHT.XIX: 364-371). Demikian pula Hikayat Banjar, yakni Sultan Suryanu’llah mengirimkan upeti ke Demak, dan dibalas oleh Demak dengan mengirim hasil produksi Demak. Tiap-tiap tahun Sultan Suryanu’llah itu menyuruh menteri besar maaturkan persembah kepada Sultan Damak itu. Lamun kembali suruhan itu masih dibalasi lawan garabat Jawa itu. (HB. 14.4).

Pemberian upeti seperti hal tersebut, tidak menunjukkan negara yang memberi upeti tunduk kepada negara yang mendapat upeti. Dalam Sejarah Melayu dicatat bila raja Cina mengutus seseorang pergi ke Malaka dengan memberikan upeti jarum dalam sebuah perahu tipe pilu. Oleh Malaka, ketika pulang, pilu tersebut dibalasi dengan pemberian dari Malaka. Telah kedengaranlah kabar kebesaran raja Malaka itu kebenua Cina, maka raja Cinapun mengutus ke Malaka; bingkisnya jarum, sarat sabuah pilu, lain daripada itu sutera benang emas kamka dewangga, dengan beberapa benda yang gharib … Setelah sultan Mansyur Syah menengar bunyi surat itu, maka bagindapun tersenyum; maka disuruh baginda ambil segala jarum itu, maka pilu itu disuruh baginda isi dengan sagu rendang sampai sarat. (SM. 15.1 dan 15.2).

Sebagai bentuk ketidak-tundukan, upeti kemudian dimintakan oleh Kaisar Cina kepada Raja Majapahit cukup 3 tahun sekali. Hal ini karena pengiriman kapal-kapal Majapahit yang besar telah membuat kas kerajaan Cina kosong. Pada tahun 1443, Gubernur Canton melaporkan bahwa utusan Indonesia memakan biaya negara terlalu banyak, sehingga Kaisar Cina memohon agar dalam menyampaikan upeti cukup satu kali dalam 3 tahun sekali. (21)

Berikut Perbandingan Informasi Nūşântara dalam Catatan Cina

NO CATATAN CINA IDENTIFIKASI SUMBER
1 Jawa Jawa Sejarah Liu Song, Liang, Tang (Lama), Tang (Baru), Song, Yuan, Ming, Yingya Shenglan,Xingcha Shenglan
2 Sunda Sunda atau Sin-t’o  

Tidak dicatat berhubungan langsung dengan Cina

3 Bali Seluruh Pulau Bali  

Sejarah Dinasti Tang (Lama)

4 Sumatera Sriwijaya, Palembang, Indragiri, Belitung, Pulau Gao-Lan, Bangka, Lingga, Poli, Sumatra, Aceh, Aru, Nakur, Litai, Lambri, Pulau Ambergris  

Sejarah Dinasti Liang, Sui, Song, Tang (Baru), Ming dan Yingya Shenglan, Xingcha Shenglan

 

5 Kalimantan Brunai, Sulu, Banjarmasin, Puni, Karimata  

Sejarah Dinasti Tang, Song, dan Ming

6 Timor dan Maluku Timor dan Maluku  

Sejarah Dinasti Ming, Xingcha  Shenglan

9 Semenanjung Malaya  

Dun-Sun, Kala, Melaka, Johor, Pahang, Kelantan, Pulu Sembilan, Tong, Si-Tiok

 

Sejarah Dinasti Liang, Tang (Baru), Ming, Yingya Shenglan dan Xingcha Shenglan

10 Sulawesi Sulawesi  

Tidak dicatat berhubungan langsung dengan Cina dan tidak dicatat dalam Sejarah Dinasti Cina

 

Dari perbandingan menurut Data Cina tersebut, dapat dikatakan bila Jawa merupakan negara maritim utama di Nusantara. Sebagai negara maritim utama, tehnologi kapal Jawa dicatat paling maju di Nusantara bahkan dunia. Hal ini karena tehnologi kapal Jawalah, yang menjadi perintis perdagangan di dunia, salah satunya di Cina. Dibandingkan dengan daerah lain, Jawa juga melakukan kontak lebih aktif. Sulawesi dengan suku Bajo, Makasar dan Bugis ternyata tidak memiliki peran sebagai negara maritim. Hal ini karena Sulawesi tidak dicatat melakukan perdagangan dengan Cina. Armada Sulawesi baru dicatat aktif dilingkup Nusantara pada masa Malaka tahun 1420-an, dengan dicatatnya Armada Samerluki di Sejarah Melayu.

Aktifnya Jawa sebagai negara maritim, juga ditunjukkan dengan banyaknya konflik maritim yang melibatkan Jawa. Seperti misalnya gesekan perebutan dominasi di seluruh zona komersial di Asia. Menurut Hall terdapat lima zona komersial di Asia Tenggara pada abad ke-14 dan awal abad ke-15. Pertama, zona Teluk Benggala, yang mencakup India Selatan, Sri Lanka, Birma, dan pantai utara Sumatera. Zona komersial yang kedua adalah kawasan Selat Malaka. Zona ketiga adalah kawasan Laut Cina Selatan, yang mencakup pantai timur Semenanjung Malaysia, Thailand, dan Vietnam Selatan. Adapun zona keempat adalah kawasan Sulu, yang mencakup daerah Pantai Barat Luzon, Mindoro, Cebu, Mindanau, dan pantai utara Kalimantan. Lalu, zona yang terakhir adalah kawasan Laut Jawa, yang melibatkan kawasan Kalimantan Selatan, Jawa, Sulawesi, Sumatera dan Nusa Tenggara. (22)

Terkait Laut Jawa, Houben mengatakan bila ia merupakan laut inti bagi Asia Tenggara. Karena itu, Laut Jawa memiliki fungsi kohesif yang mengintegrasikan berbagai elemen kehidupan masyarakat yang melingkunginya. (23) Peranan kawasan Laut Jawa dan jaringan Laut Jawa masih dapat dilihat sampai saat ini. Dapat dikatakan Laut Jawa merupakan “mediterranean sea” (laut tengah) bagi Indonesia, bahkan bagi Asia Tenggara. Sebagai “laut tengah” bagi kepulauan Indonesia dan Asia Tenggara, Laut Jawa menjadi jembatan yang menghubungkan berbagai komunitas yang berada di sekitarnya, baik dalam kegiatan budaya, politik, maupun ekonomi. (24)

Selain 5 zona komersial tersebut, Irawan mencatat ada 2 zona lain yang juga sangat penting bagi jalinan perdagangan dunia masa lalu. Pertama, zona  kawasan Laut Arab, yang mencakup Cochin, Malabar Oman, dan Aden. Dan kedua, zona kawasan Laut Merah, yang mencakup Mombasa, Mogadishu, Muza, Berenike, yang berujung ke Alexandria. Hal ini karena produk akhir dari kawasan Asia Tenggara pada akhirnya bermuara ke kawasan Laut Merah untuk kemudian didistribusikan ke seluruh Eropa. (25)

Dari ke-7 zona itu, Jawa dicatat mendominasi seluruh kawasan. Hal ini karena Jawa satu-satunya negara yang dicatat menjadi pemenang konfik diseluruh kawasan zona komersial. Misalnya Jawa dicatat menang dalam  konflik terbuka antara Mongol dengan Jawa, India dengan Jawa, Khmer dengan Jawa, serta Jawa dengan Sumatera, Jawa dengan Kalimantan. Jawa dengan Sulu, dan Jawa dengan Sulawesi. Demikian pula Jawa dicatat menang dalam konflik tertutup antara Arab dan Jawa. (26)

  1. Capaian Negara Maritim Majapahit

Raja Melaka mengatakan kepada Patih Gajah Mada, bahwa ia berniat menjadi hamba Raja Majapahit. Raja Melaka berkata: “Ada pun kita ini hendak menjadi hamba ka-bawah Duli Paduka Betara, (HHT: VI: 123). Pernyataan resmi Raja Malaka ini menunjukkan kedudukan Malaka terhadap Majapahit tidak dalam kedudukan setara. Malaka yang berdiri tahun 1400-an lebih, dan belum dicatat di Nagarakrtagama dapat dikatakan kemudian menjadi bagian dari Majapahit.

Selain Raja Malaka, Kaisar Cina Dinasti Ming juga mencatatkan dirinya sebagai rakyat Raja Majapahit. Pernyataan Kaisar Cina ini dilayangkan melalui suratnya kepada Raja Majapahit. Surat itu berbunyi: “Berbagai negara di seberang lautan semuanya harus membawa upeti tiga tahun sekali; Anda, oh, Raja, harus mengasihi rakyatmu dan melaksanakan pengaturan ini.” (27) Pernyataan: “Anda, oh, Raja, harus mengasihi rakyatmu dan melaksanakan pengaturan ini,” merupakan permintaan negara yang disatukan dibawah Majapahit. (28) Permintaan yang bernada memohon dari seorang rakyat kepada pemimpin yang sebenarnya, karena Kaisar Cina tidak dapat memutuskan secara sepihak permasalahan yang melibatkan Raja Majapahit. Kaisar Cina menanggalkan kedudukannya sebagai Putera Surga dan kemudian menundukkan dirinya sebagai rakyat Majapahit dihadapan Raja Majapahit.

Kedua pernyataan tersebut, menunjukkan bila informasi Majapahit memiliki daerah yang demikian luas sebagaimana catatan Prapanca, terbukti memiliki legitimasi kuat. Sekalipun belum ditemukan bukti legitimasi lainnya, namun dua legitimasi dari Malaka dan Cina itu sangat penting karena langsung disampaikan raja masing-masing sesuai jamannya. Legitimasi yang ada selama ini lebih bersifat penjelasan bahwa Majapahit dicatat oleh sumber non Majapahit menyatukan wilayah di luar Majapahit. Seperti misalnya Hikayat Banjar, Hikayat Raja-Raja Pasai.

Dengan adanya legitimasi atas pernyataan Prapanca dimana Majapahit menyatukan Jawa, Nusantara, Desantara dan Dwipantara, maka hal itu dapat dikatakan menjadi salah satu capaian terbesar Majapahit. Hal ini karena kawasan 7 zona komersial di Asia, selepas Majapahit tidak dapat lagi dikontrol oleh satu negara. Namun dibagi oleh banyak negara secara bersamaan seperti Inggris, Belanda, Portugis, Spanyol, dan Perancis.  Demikian pula kontrol zona kawasan pendukung seperti Amerika. Bila sebagaimana laporan Albulquerque, jalinan perdagangan Jawa dicatat mengontrol hingga benua Amerika, (29) maka selepas hal itu kontrol Amerika juga dilakukan oleh banyak bangsa.

Sebagai salah satu capaian terbesar, maka diperlukan sarana guna mencapainya. Baik itu tehnologi, sistem pemerintahan serta kontrol administrasi yang effisien dan terbaik di jamannya. Dan kemakmuran negara pun dicatat juga menyertai capaian negara tersebut. Sebagai salah satu bentuk kontrol atas wilayah Majapahit yang luas, Majapahit kemudian memiliki kapal terbanyak dibanding negara lain.

Jumlah Perahu yang Dimiliki Negara-Negara di Asia dalam Satu Ekspedisi

NEGARA EKSPEDISI JUMLAH

PERAHU

Majapahit Ekspedisi ke Pasai (30) 2.800
Makassar Ekspedisi Semerluki (31)  200
Siam Ekspedisi ke Pasai (32)  100
Cina Ekspedisi mengantar Hang Li Po (33)  100
Singapura Ekspedisi melamar ke Majapahit (34)  100
Sungai Raya Ekspedisi melamar ke Majapahit (35)  100
Portugis Ekspedisi ke Melaka (36)  43
Malaka Ekspedisi melamar ke Majapahit (37)  7

Khusus untuk kapal jong Majapahit yang besar, ia dicatat sebanyak bahkan lebih dari kapal VOC, EIC dan Spanyol serta Portugis dalam masa keemasannya digabung  menjadi satu. (38)

  1. Tehnologi Jong Majapahit

Para penulis sejarah baik Eropa maupun Indonesia mencatat jong/jung dimiliki oleh berbagai negara di Asia. Jong bahkan dianggap sebagai kapal Cina. (39) Namun berdasar teks Melayu, kapal Jong hanya dimiliki oleh Jawa. Dalam teks Melayu, kapal Cina disebut Pilu dan Wangkang. Penyebutan tipe kapal itu tidak menunjukkan kelebihtinggiannya atas kapal Jong.

Kapal tipe Jong dicatat Gaspar Correia seorang penulis sejarah Portugis pada awal abad ke 16, lebih besar dari kapal tertinggi dan terbesar Portugis yaitu Flor de la Mar. Kapal Jong itu dicatat berani menghadapi skuadron kapal pengiring Gubernur Portugis yang terdiri dari 40 kapal. (40) Sekalipun dalam peperangannya, Kapten Jong melakukan tindakan diluar prosedur resmi sehingga kalah, namun tehnologi Jong dicatat sebagai tehnologi kapal kayu terbaik yang dimiliki dunia.

Beberapa tehnologi kapal jong tersebut, adalah adanya tehnologi yang merekatkan kayu pada kapal kayu raksasa. Kuat terhadap tembakan meriam besar dan dindingnya terdiri dari 4 papan kayu tebal. Dengan dimilikinya 4 lapis dinding dan kuatnya terhadap tembakan meriam, tehnologi jong tidak menggunakan teknologi penyambungan antar-papan dengan teknik papan ikat dan kupingan pengikat (sewn-plank and lashen-lug technique) yang biasa digunakan kapal di Asia umumnya. Bahkan menurut Duarte Barosa kapal Jong menggunakan sistem tehnologi knock down. “Saat kapal itu menua, mereka memperbaikinya dengan papan-papan baru dan dalam gaya seperti ini, mereka memiliki empat papan penutup, saling tumpuk”. (41)

Menurut Irawan, kapal Jong memiliki panjang adalah 313,2 m – 391,5 m. (42) Panjang kapal ini lebih besar dari kapal Titanic yang karam pada awal abad 20. Bahkan setara dengan kapal Induk AS pada saat ini. Bangsa Eropa kiranya tidak mampu mengadopsi tehnologinya, termasuk bangsa lain di Asia. Karena kapal Amerika Serikat abad ke-19 bernama Great Republik pun belum mampu memecahkan sistem tehnologi Jong, dan hanya mampu membuat kapal sepanjang 100,5 m. (43)

Kesimpulan

  1. Kajian-kajian sejarah Majapahit yang tidak utuh akan menimbulkan kajian yang tidak akurat bahkan menyesatkan.
  2. Kajian yang tidak utuh berpotensi digunakan untuk memanipulasi sejarah yang ada.
  3. Perdagangan pra Portugis telah berlangsung secara besar-besaran. Portugis dan Eropa lainnya hanya bertindak sebagai bajak laut yang memotong perdagangan antara Jawa dengan Arab.
  4. Sejarah maritim Majapahit dan Jawa tidak dihancurkan oleh Eropa tapi oleh kebijakan sendiri yang apriori terhadap maritim. Tanpa perjanjian Mataram-Belanda yang melarang rakyat Mataram berdagang disebelah timur Makasar atau barat Malaka, kehadiran orang Eropa di Kepulauan Indonesia hanya membawa perubahan kecil dalam konstelasi politik di wilayah itu.
  5. Dibanding negara-negara di Nusantara, Jawa adalah perintis berniaga ke Cina dan perintis tehnologi kapal untuk mencapainya. Sebagai perintis perdagangan Nusantara, Jawa adalah perintis perdagangan dunia.
  6. Majapahit terbukti menyatukan Jawa, Nusantara, Desantara dan Dwipantara dan mengontrol wilayah hingga benua Amerika, secara sendirian. Kemakmuran dari penyatuan tersebut menjadikan Majapahit melebihi capaian Belanda, Inggris, Spanyol dan Portugis dalam masa keemasannya digabung menjadi satu.

Acuan :

[1] Makalah ini disampaikan dalam diskusi Arus Balik: Maritim and Spices Between Colonial and Post-Colonial di Presidential Suit Room, Gedung Batavia Lantai 1, tanggal 1 Maret 2013, pukul 15.00.

2 J.C. van Leur pada 1934 mengkaji sejarah perdagangan Asia dari masa awal hingga keterlibatan VOC di kawasan Asia Tenggara. Ia berpendapat bahwa perdagangan di masa awal lebih banyak bersifat perdagangan barang-barang mewah. Volume perdagangan ketika itu kecil, tapi memiliki nilai jual yang tinggi, seperti emas, perak, mutiara, porselen, dan kain. Di samping itu, diperdagangkan komoditas hasil bumi, seperti pala, cengkeh, lada, dan kayu cendana. Tentu saja muatan dengan volume yang kecil tapi berharga ini berhubungan dengan tingkat kemajuan teknologi perkapalan yang belum begitu sempurna sehingga ukuran kapal masih relatif kecil dan navigasi yang masih non mekanik. Aktivitas perdagangan inilah yang mampu menjelaskan proses perkembangan masyarakat Indonesia secara keseluruhan, baik di bidang politik, kebudayaan, maupun ekonomi. Lihat J.C. van Leur, Indonesian Trade and Society: Essay in Asian Social and Economic History (Dordrecht: Foris publication, 1983).

3 Lihat Meilink Roelofzs, Asian Trade and European Influence in Indonesian Archipelago between 1500 and about 1680 (The Hague: Martinus Nijhoff, 1962 via A.M. Djuliati Suroyo, dkk, 2007: 14-15).

4 Lihat Anthony Reid, Asia Tenggara Dalam Kurun Niaga 1450-1680: Jilid 2. Jaringan Perdagangan Global. Jakarta: Yayasan Pustaka Obor Indonesia. 2011.

5 Ibid., hal: 238.

6 Lihat Bambang Budi Utomo, Majapahit Dalam Lintas Pelayaran dan Perdagangan Nusantara, Jakarta, 29 Juni 2009.

7 P.J. Zoetmulder, Kamus Jawa Kuno-Indonesia. Vol. I-II. Terjemahan Darusuprapto-Sumarti Suprayitno. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama, 1995.

8 Paul Michel Munoz, Kerajaan-kerajaan Awal Kepulauan Indonesia dan Semenanjung Malaysia. Yogyakarta: Mitra Abadi, 2009, hal: 61.

9 W.P. Groeneveldt, Nusantara dalam Catatan Tionghoa. Jakarta. Komunitas Bambu, 2009, hal: 15.

10 O’Hare, Martin, Majapahit’s Influence over WWanin in New Guinea in the Fourteenth Century, 1986, Bachelor of Letters Thesis, Asian Studies, Australian National University. Lihat http://www.papuaweb.org/dlib/s123/ohare1/_bl.html

11 Agus Aris Munandar, Gajah Mada Biografi Politik, Jakarta, Komunitas Bambu, 2010, hal:150.

12 Kapal perintis Portugis yang datang ke Nusantara memiliki kapasitas penumpang 171. Kapal ini lebih kecil dari kapal Jawa yang dicatat Kerajaan Wu (abad ke-3 M). Kapal Jawa ini seperti kapal modern dengan panjangnya hingga 200 kaki, tinggi dari muka air 20-30 kaki, dan mampu memuat 600 orang dan barang 10.000 ho (satuan setara 10 sekop jagung).

13 Bernard H.M Vlakke, 2008: 97.

14 The Travels of Marco Polo, via Robert Dick-Read, 2008:144.

15 Apud Bernard Lewis dalam Studies Islamica, 1958, hal 118 via C.R. Boxer, 1983: 46-47.

16 Lihat Bernard H.M. Vlekke, 2008:182. Untuk perundingan damai, lihat H.J. de Graaf, De vijf gezantschapsreizen van Rijjklof van Goens, hal: 25-30.

17 Ibid, hal:135.

18 Berdasarkan catatan W.P. Groeneveldt.

19 W.P Groeneveldt mencatat, pada masa pemerintahan Kaisar Xiaowu dari Dinasti Song (454-464), raja negara Kandali, yakni Sa-ba-la-na-lin-da, mengirimkan seorang pejabat tinggi yang bernama Da-ru-da. Sang pejabat membawa barang-barang berharga yang terbuat dari emas dan perak. Lihat W.P Groeneveldt, 2009: 86. Namun pengisahan itu berlangsung pada masa Sejarah Dinasti Liang (502-557). Karena itu, kami anggap pencatatan tertua tentang Sumatera terjadi pada masa Sejarah Dinasti Liang. Jawa, dalam menjalin hubungan dengan Cina, dicatat dalam Berita Cina, juga lebih awal daripada Sumatera. Jawa dicatat pada tahun 435, sedangkan Sumatera pada 454-464, atau sekitar 20 tahun kemudian setelah Jawa menjalin hubungan dengan Cina bila mengacu kisah Sa-ba-la-na-lin-da, mengirimkan seorang pejabat tinggi yang bernama Da-ru-da.

20 Supratikna Rahardjo, Kota-kota Prakolonial Indonesia Pertumbuhan dan Keruntuhan. Jakarta: Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia, 1997: 70.

21 A.M. Djuliati Suroyo, 2007: 53.

22 Ibid, hal: 9

23 Ibid, hal 9-10.

24 Ibid, hal: 10

25 Lihat Irawan Djoko Nugroho, Majapahit Peradaban Maritim. Ketika Nusantara Menjadi Pengendali Perdagangan Dunia. Yayasan Suluh Nuswantara Bakti, Jakarta, 2011, hal:  14.

26 Lihat Sejarah Dinasti Song, Yuan dan Ming, Hikayat Raja-Raja Pasai, Hikayat Banjar, Nagarakrtagama, Catatan Abu  Zaid Hasan tahun 916 M, Sejarah Melayu, Hikayat Hang Tuah, Calon Arang dan Carita de Parahyangan.

27 WP. Groeneveldt, 2009: 54-55.

28 Pernyataan tersebut dapat juga berarti Anda, oh, Raja, harus mengasihi rakyatmu dan Anda, oh, Raja, harus melaksanakan pengaturan ini. Rakyat disini adalah Kaisar Cina yang merasa dirugikan dari sebab kebijakan Raja Jawa, karena itu ia berharap Raja Jawa melaksanakan pengaturan ini.

29 Lihat Anthony Reid, 2011: 55.

30 HRRP. 3: 98. Ekspedisi Majapahit ke Singapura I, SM. 5.4: 47: Maka betara Majapahitpun menitahkan hulubalangnya berlengkap perahu akan menyerang Singapura itu, seratus buah jung; lain dari itu beberapa melangbing dan kelulus, jongkong, cecuruh, tongkang, tiada terhisapkan lagi banyaknya. Ekspedisi Majapahit ke Singapura II. Sedangkan dalam SM. 10.4: 77: maka bagindapun segera menyuruh berlengkap tiga ratus buah jung, lain daripada itu kelulus, pėlang, jongkong tiada terbilang lagi.

31 SM. 19.2: 165: Maka Semerlukipun berlengkap dua ratus banyaknya kelengkapan pelbagai rupa perahunya.

32 HRRP: 66. Maka terdengar-lah warta (pada) masa itu kapada Raja Siam. Maka Raja Siam pun menyuroh melengkap perahu sa-kira-kira sa-ratus buah banyak-nya besar kechil akan mendatangi negeri Pasai itu.

33 SM. 15.6: 141: Maka raja Cina pun memberi titah pada Li Po, menyuruh berlengkap akan menghantarkan anakda baginda ke Malaka, seratus buah pilu, seorang menteri yang besar akan panglimanya, Di Po namanya.

34 SM. 14.9: 126-127: karena pada masa itu kelengkapan Singapura juga seratus Lancaran bertiang tiga.

35 SM. 14.9: 126-127: karena pada masa itu kelengkapan Singapura juga seratus Lancaran bertiang tiga, dan Sungai Raya pun demikian juga.

36 SM. 34.1: 296: Maka Alfonso Dzalberkeripun turun ke Goa, berlengkap pula di Goa tiga buah kapal, delapan buah ghalias, empat buah ghali panjang, enam buah fusta, menjadi empat puluh tiga buah semuanya.

37 HHT  V: 97

38 Lihat Irawan Djoko Nugroho, 2011: 93.

39 Umumnya sejarawan Eropa menyebut kapal-kapal Cina dengan istilah jung. Kapal-kapal Majapahit ditengerai para sarjana Eropa dan Indonesia dalam beberapa penelitian dicatat menggunakan cadik sebagaimana kapal Borobudur.

40 Robert Dick-Read, 2008: 69-70.

41 Diterjemahkan oleh H.E.J Stanley (1866): Duarte Barbosa, A Description of the Coast of East Africa and Malabar in the Beginning of the 18th Century. Duarte Barbosa adalah keponakan Magellan yang berkelana di Samudra Hindia dan Indonesia selama 15 tahun. Lihat Paul Michel Munoz, 2009: 396-397.

42 Irawan Djoko Nugroho, 2011: 307.

43 John R. Hale, 1984: 86. Tehnologi kapal junco Jawa kiranya tetap merupakan misteri. Mendesain kapal kayu besar tahan tembakan meriam, mampu merapatkan sambungan dan menahan merembesnya air dalam tekanan yang besar, kiranya merupakan tehnologi kapal kayu tercanggih yang pernah ada di bumi.

 

Daftar Pustaka

A.M. Djuliati Suroyo, dkk, Sejarah Maritim Indonesia 1: Menelusuri Jiwa Bahari Bangsa Indonesia Hingga Abad Ke-17. Semarang: Penerbit Jeda, 2007.

Agus Aris Munandar, Gajah Mada Biografi Politik, Jakarta, Komunitas Bambu, 2010

Andrian B. Lapian, Pelayaran dan Perniagaan Nusantara Abad Ke-16 dan 17. Jakarta: Komunitas Bambu, 2008.

Armando Cortesao, The Suma Oriental of Tome Pires. London, Hakluyt Society: 1944.

Bambang Budi Utomo, Majapahit Dalam Lintas Pelayaran dan Perdagangan Nusantara, Makalah disampaikan di Jakarta, 29 Juni 2009.

Berg, CC, “Kidung Sunda, Inleiding, Tekst, Vertaling en Aantekeningen”. BKI (83): 1-161, 1927.

Bernard H.M. Vlekke, Nusantara Sejarah Indonesia. Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia, 2008.

Bernard Philippe G., Indocina Persilangan Kebudayaan. Penerjemah Ida Sundari Husen. Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia, 2007.

C.R. Boxer, Jan Kompeni. Sejarah VOC dalam Perang dan Damai 1602-1799. Jakarta: Sinar Harapan, 1983.

Daud Aris Tanudirdjo, Jaringan Pelayaran dan Perdagangan Penutur Austronesia. Makalah disampaikan dalam Diskusi Pengaruh Peradaban Nusantara di Dunia, Sabtu 23 Oktober 2010 di Hotel Sultan Jakarta, diselenggarakan oleh Suluh Nuswantara Bakti.

Gibb, H.A.R, Ibn Battuta Travels in Asia and Africa 1325-1354. London: Darf Publishers LTD, 1983.

Groeneveldt, W.P, Nusantara dalam Catatan Tionghoa. Jakarta. Komunitas Bambu, 2009.

Hill, A.H., “Hikayat Raja-raja Pasai a Revised Romanished Version of Raffles MS 67, Together with an English Translation”. Journal Malayan Branch [vol. 33. Pt.2, 1960], Royal Asiatic Society: 1-335.

Ibn Battuta, Travels in Asia and Africa 1325-1354. London: Darft Plubhishers LTD, 1986.

Irawan Djoko Nugroho, Meluruskan Sejarah Majapahit, Yogyakarta: Ragam Media, 2010.

Irawan Djoko Nugroho, Majapahit Peradaban Maritim. Ketika Nusantara Menjadi Pengendali Perdagangan Dunia. Yayasan Suluh Nuswantara Bakti, Jakarta, 201

J.C. van Leur, Indonesian Trade and Society: Essay in Asian Social and Economic History. Dordrecht: Foris Publication, 1983.

John R. Hale, Abad Penjelajahan. Jakarta: Tira Pustaka, 1984.

Kasim Ahmad, M.A, Hikayat Hang Tuah. Menurut Naskhah Dewan Bahasa dan Pustaka. Kuala Lumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka Kementrian Pelajaran Kuala Lumpur, 1964.

Kong Yuanzhi, Muslim Tionghoa Cheng Ho. Misteri Perjalanan Muhibah di Nusantara. Jakarta: Pustaka Populer Obor, 2005.

O’Hare, Martin, Majapahit’s Influence over WWanin in New Guinea in the Fourteenth Century, 1986, Bachelor of Letters Thesis, Asian Studies, Australian National University. Lihat http://www.papuaweb.org/dlib/s123/ohare1/_bl.html

Paul Michel Munoz, Kerajaan-kerajaan Awal Kepulauan Indonesia dan Semenanjung Malaysia. Yogyakarta: Mitra Abadi, 2009.

Ras, J.J., Hikayat Bandjar, a Study in Malay Historiography. BI. 1. The Hague: Martinus Nijhoff, 1968.

Reid, Anthony, Asia Tenggara dalam Kurun Niaga 1450-1680: Tanah Dibawah Angin. Jilid 1. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, 1992.

Robert Dick-Read, Penjelajah Bahari. Pengaruh Peadaban Nusantara di Afrika. Bandung: PT Mizan Pustaka, 2008.

Sitor Situmorang dan A Teeuw, Sejarah Melayu. Djakarta/Amsterdam: Penerbit Djambatan.

Supratikno Rahardjo, Kota-kota Prakolonial Indonesia Pertumbuhan dan Keruntuhan. Jakarta: Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia, 1997.

Tan Ta Sen, Cheng Ho Penyebar Islam dari China ke Nusantara. Jakarta: Kompas, 2010.

Zoetmulder, P.J., Kamus Jawa Kuno-Indonesia. Vol. I-II. Terjemahan Darusuprapto-Sumarti Suprayitno. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama, 1995.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*