Kentang merupakan bahan pangan keempat dunia setelah padi, jagung, dan gandum. Kentang termasuk salah satu jenis sayuran yang dimanfaatkan bagian ubinya. Pada saat ini sentra utama kentang di Indonesia, dapat dijumpai di NAD, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Jambi, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Sulawesi Selatan, Sulawesi Utara, dan NTB.

Menurut sejarahnya kentang berasal dari lembah-lembang dataran tinggi di Chili, Peru, dan Meksiko. Jenis tersebut diperkenalkan bangsa Spanyol dari Peru ke Eropa sejak tahun 1565. Semenjak itulah, kentang menyebar ke negara-negara lain, termasuk ke Indonesia.

Menurut catatan awal di Indonesia, kentang mulai ada semenjak tahun 1794, dimulai dengan penanaman di sekitar Cimahi, (Sastrapradja dkk, 1981: 45). Semenjak itu, kentang dapat ditemui pula di Priangan dan Gunung Tengger. Pada tahun 1812, kentang sudah dikenal dan dijual di Kedu. Sedangkan, di Sumatera tumbuhan ini dikenal setahun sebelumnya, 1811. Kentang tumbuh di pegunungan dengan ketinggian antara 1000 mdpl hingga 2000 mdpl, pada tanah humus. Tanah bekas letusan gunung berapi yang berstruktur remah lebih disukai, (Sastrapradja dkk, 1981: 45).

Kĕnthang Dalam Sĕrat Cĕnthini

Dalam Sĕrat Cĕnthini (1814), kĕnthang atau kentang dimasukkan dalam kelompok sayuran. Berbagi sayuran yang dicatat dalam Sĕrat Cĕnthini adalah sebagai berikut.

Gudhĕg, jangan asĕm kalĕnthang, jangan asĕm pĕdhĕsan, jangan asĕm tungtung, jangan asĕman, jangan mĕnir, jangan bĕning, jangan bobor, jangan bubus padhamara, jangan gori, jangan kluwih, jangan klĕnthang lĕmbayung kinĕla asĕm pĕdhĕsan, jangan kluwih kinĕla asĕm pĕdhĕsan, jangan ladha, jangan lodheh, jangan loncom, jangan lompong, jangan padhamara, jangan romis, jangan turi, jangan kacang (gleyor, wuku), jangan terong, jangan turi binumbu pĕcĕlan, jangan pindang, jangan bayĕm, trancam, gudhe, kĕnthang, kuluban ceme mudha, brongkos dan pelas, (Timbul Haryono, 1998: 95).

Dengan dicatatnya kĕnthang sebagai sayuran yang ada dalam Sĕrat Cĕnthini tersebut, menimbulkan sebuah pertanyaan yang menarik. Mungkinkah Sĕrat Cĕnthini keliru memasukkannya sebagai salah satu sayuran menurut pengetahuan Jawa?

Serat Centhini pada Jilid-1, Pupuh 1, Tembang 1 (Sinom), mencatat sebagai berikut.

Sri narpadmaja sudigbya, talatahing tanah Jawi, Surakarta Adiningrat, agnya ring kang wadu carik, Sutrasna kang kinanthi, mangun reh cariteng dangu, sanggyaning kawruh Jawa, ingimpun tinrap kakawin, mrih kemba karaya dhangan kang miyarsa.

Artinya:

‘Sang putra mahkota, berwilayah tanah Jawa, Surakarta Adiningrat, memerintahkan jurutulis, Sutrasna yang dipercaya, mengumpulkan cerita lama, keseluruhan pengetahuan Jawa, digubah dalam bentuk tembang, agar mengenakkan dan menyenangkan yang mendengar.’

Jika kĕnthang bukan bagian dari pengetahuan Jawa, maka sangat tidak mungkin kĕnthang akan di catat dalam Sĕrat Cĕnthini. Sĕrat Cĕnthini tidak mencatat adanya susu beserta hasil olahannya seperti keju. Kedua terakhir tersebut merupakan pengetahuan Belanda dan bukan pengetahuan Jawa. Dari hal tersebut maka dapat dipastikan jika kĕnthang merupakan pengetahuan Jawa yang tidak diadopsi dari Belanda. Dengan kata lain Jawa sudah mengenal kentang jauh sebelum tahun 1794 sebagai tahun awal kentang masuk ke-Indonesia.

Kentang Jawa dan Kentang Belanda

Pada saat ini, bahasa Spanyol ‘kentang’ adalah patata. Istilah ini diadopsi ke dalam Inggris dengan istilah potato. Dalam bahasa Perancis, Belanda dan Jerman, kentang disebut dengan  pomme de terre, aardappel, dan kartoffel, (Setiadi, 2009: 32).

Ketika Belanda di Indonesia, sangat menarik jika istilah aardappel atau bahasa Belanda untuk kentang tidak diadopsi oleh Jawa. Kata serapan yang mirip aardappel dengan arti yang sama dilakukan oleh masyarakat Melayu (artapel), Gorontalo (alatape), Buol (artape), Buru (astael), Ternate (artapel), dan Tidore (artape), (Setiadi, 2009: 32). Disini menunjukkan jika Jawa tidak mengadopsi kentang dari Belanda. Jika pun ada istilah kentang di Jawa yang menyebut dengan istilah kentang welanda atau kentang Belanda (Setiadi, 2009: 32), maka istilah tersebut bukan menunjukkan Jawa mengadopsi kentang dari Belanda. Namun istilah itu menunjukkan adanya farietas baru kentang yang dibawa Belanda selain kentang yang ada sebelumnya. Seperti misalnya istilah Jambu Bangkok. Pada masa lalu, di Jawa sudah mengenal jambu. Hanya saja ada farietas baru yang belum ada di Jawa yaitu Jambu dari Bangkok tersebut.

Sangat menarik jika kentang di beberapa wilayah menyebut kentang dengan istilah sabrang jawa (Bali), keteki jawa, katabi jawa (Sumba) dan tuka wawa (Folres dan Sika), (Setiadi, 2009: 32). Bahkan Folres dan Sika sendiri menyebut kentang dengan dua istilah tuka wawa, tuka wolonda atau tuka Jawa dan tuka Belanda, (Setiadi, 2009: 32). Dengan demikian ada istilah lain yang setara disamping kentang Belanda. Dan kentang itu adalah kentang Jawa. Kentang yang memiliki sistem tanam tradisional ‘wukuan’ dan ‘ceboran.’

Dari sini dapat dikatakan jika sejarah kentang masuk ke Indonesia perlu direvisi. Indonesia terutama Jawa telah mengenal kentang jauh sebelum Belanda bahkan Spanyol. Beberapa wilayah yang mengadopsi istilah kentang seperti di Jawa adalah sebagai berikut. Aceh (gantang), Karo (gentang), Toba (gastang atau kantang), Sumatera Barat (kentang, ubi kantang), Minangkabau  (kantang), Lampung (kentang, kantang), dan Sunda (kentang), (Setiadi, 2009: 32).

Sumber:

  1. Timbul Haryono, Serat Centhini Sebagai Sumber Informasi Jenis Makanan Tradisional Masa Lampau, Humaniora No. 8 Juni-Agustus 1998.
  2. Setiadi, Budi Daya Kentang, Pilihan Berbagai Varietas dan Pengadaan Benih, Jakarta, Panebar Swadaya, 2009.
  3. Sastrapradja, Setijati; Soetjipto, Niniek Woelijarni; Danimihardja, Sarkat; Soejono, Rukmini (1981). Proyek Penelitian Potensi Sumber Daya Ekonomi: Ubi-Ubian. Jakarta: LIPI bekerja sama dengan Balai Pustaka.
  4. Ahmad Dimyati, Kebijakan Pemerintah dalam Pengembangan Kentang di Indonesia, http://www.unece.org/fileadmin/DAM/trade/agr/promotion/2010_Indonesia/GovernmentPolicyInIndonesia_AhmadDimyati_I.pdf
  5. Kentang, http://id.wikipedia.org/wiki/Kentang
  6. Serat Centhini, http://www.ki-demang.com/centhini/

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*