Kidung Sunda, Kidung Sundayana, dan Pararaton mengisahkan adanya perang Bubat yang terjadi antara Kerajaan Sunda dengan Majapahit. Menurut Kidung Sunda dan Kidung Sundayana peperangan tersebut terjadi karena kesalahpahaman saat keduanya melaksanakan pernikahan antara putra-putri kerajaan.

Kisah Kidung Sunda, Kidung Sundayana, dan Pararaton kemudian dimaksimalisasi oleh Belanda untuk men-devide et impera antara Jawa dengan Sunda. Kidung Sunda oleh Belanda diajarkan pada sekolah-sekolah pada saat itu. Salah satunya, AMS bagian C.

Pengajaran Kidung Sunda tersebut, perlahan tapi pasti memiliki dampak yang diharapkan oleh Belanda. Sekalipun tidak terjadi pertentangan secara terbuka, ada pertentangan secara laten yang timbul. Tidak adanya jalan bernama Gajah Mada di Bandung dipandang masyarakat Sunda di Bandung sebagai bukti jika mereka tidak menyetujui tindakan Gajah Mada atas perannya di Perang Bubat. Sejarah menjadi pembenaran atas tindakan masyarakat Sunda pada saat ini, sekalipun peristiwa yang terjadi sendiri berdimensi waktu yang sangat jauh, yaitu lebih dari 654 tahun lalu.

Sunda Menurut Tome Pires

Sangat menarik jika Kisah Kidung Sunda, Kidung Sundayana yang berakibat tidak adanya jalan bernama Gajah Mada di Bandung tidak mendapat pembenaran dari teks sejarah sebelumnya. Salah satunya, adalah sebuah catatan dari Tome Pires.

Menurut catatan Tome Pires, Jaaoa (Pulau Jawa) terdiri atas wilayah Çumda (Sunda) dan Jawa. Çumda (Sunda) dengan ibu kota Dayo, memiliki pelabuhan Bantam, pelabuhan Pontang (Pomdam), pelabuhan Cheguide, Pelabuhan Tamgaram, Pelabuhan Calapa, dan Pelabuhan Chi Manuk (Chemano). Sungai Chi Manuk merupakan batas antara kerajaan Sunda dengan Jawa. Jawa memiliki pelabuhan Cherimon (Cheroboam), Japura, Losari (Locarj), Tegal (Teteguall), Samarang (Camaram), Demak (Demaa), Tidunan (Tidumar), Japara, Rembang (Ramee), Tuban (Tobam), Sidayu (Cedayo), Grisee (Agacij), Surabaya (Curubaya), Gamda, Blambangan, Pajarakan (Pajarucam), Camtā, Panarukan (Panarunca), serta Chamd, (Armando Cortesao, 1967:166-167).

Sekalipun terbagi dalam dua wilayah, orang-orang Sunda dan Jawa menurut catatan Tome Pires bersahabat dan tidak bermusuhan (The people of Sunda and Jawa are neither friends nor enemies. They keep themselves to themselves. The trade with one another, and also if they meet on the sea as pirates, whoever is better prepared attacks, and so they use here, however great the friendship or relationship between them), (Armando Cortesao, 1967:173).

Catatan Tome Pires ini menunjukkan jika pertentangan antara Sunda dan Jawa hingga sekitar tahun 1511 tidak pernah ada. Sebagai sebuah teks yang dibuat terlebih dahulu daripada teks Kidung Sunda, Kidung Sundayana, dan Pararaton, maka teks tersebut kiranya mengkritisi kisah tambahan yang ada dalam isi teks Kidung Sunda, Kidung Sundayana, dan Pararaton. Jika Kidung Sunda, Kidung Sundayana, dan Pararaton dibuat pada era sebelum tahun 1511, maka orang-orang Sunda dan Jawa tidak bersahabat dan bermusuhan, dan catatan Tome Pires keliru.

Catatan Tome Pires Sama Dengan Catatan Bhujangga Manik

Sebagaimana catatan Tome Pires, catatan Bhujangga Manik seorang pendeta dari tanah Sunda yang berziarah ke Jawa menuturkan kisah yang sama. Dalam melaksanakan ziarahnya hingga ke Majapahit, Bhujangga Manik tidak mencatat adanya peristiwa perang Bubat.

Ziarah ke tempat-tempat ibadah di Jawa termasuk ke wilayah sekitar Majapahit oleh Bhujangga Manik menunjukkan Bhujangga Manik demikian menghormati tempat-tempat tersebut. Banyaknya tempat-tempat suci di Jawa yang dikunjungi seorang pendeta Sunda menggambarkan tidak ada permusuhan yang terjadi antara Sunda dan Jawa. Dari sini bahkan juga dapat disimpulkan jika banyaknya tempat ziarah di Jawa menunjukkan Sunda sangat menghormati Jawa.

Jika kemudian munculnya anggapan bahwa tidak adanya jalan bernama Gajah Mada di Bandung sebagai pembenaran sejarah, maka dapat dikatakan jika anggapan tersebut sangat keliru. Devide et impera Belanda sekali lagi, ternyata masih hidup di alam kemerdekaan. Bagi mereka, seyogyanya perlu melihat catatan Tome Pires atau Bhujangga Manik.*

Resensi:

  1. Armando Cortesao, The Suma Oriental of Tome Pires. London, Hakluyt Society:
  2. Berg, CC, “Kidung Sunda, Inleiding, Tekst, Vertaling en Aantekeningen”. BKI (83): 1-161, 1927.
  3. Berg, CC, Kidung Sundayana (Kidung Sunda C) voor Schoolgebruik Uitgegeven, en Voorzien van Aantekeningen, een Woordenlijstje en een Inleiding tot de Studie van het Out-Javaansch. Soerakarta: Drukkerij “De Bliksem”, 1928.
  4. Irawan Djoko Nugroho, Majapahit Peradaban Maritim, Jakarta: Yayasan Suluh Nuswantara Bakti, 2011.
  5. Noorduyn dan Teeuw, Three Old Sundanese Poems. Edited and Translated by J. Noor-duyn and A. Teeuw. Leiden: KITLV Press, 2005.
  6.  http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/9/92/Sunda_Kingdom.svg

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*