1. Pengantar

Hubungan mancanegara pada masa lalu bersifat dinamis.(1) Karena itu hubungan mancanegara masa lalu selalu diaktualisasi oleh pemerintah. Misalnya saja ketika kerajaan Vietnam meminta bantuan Jawa untuk melepaskan diri dari penjajahan Cina tahun 760 dan 762, pemerintah Jawa (Medang) dicatat mengabulkan permintaan tersebut.(2) Pemenuhan permintaan itu menjadikan kerajaan Medang kemudian mengevaluasi kebijakannya terhadap pemerintah Cina yang sebelumnya non agresi.

Demikian pula ketika kebijakan yang dibuat oleh raja baru Kmer akan merugikan kerajaan Jawa (baca Medang), Raja Jawa kemudian melakukan tindakan preemtive.(3) Langkah ini ditempuh kerajaan Medang sebagai balasan atas kebijakan yang dibuat raja baru Kmer. Kebijakan juga dilaksanakan guna menghindari kerugian yang lebih besar. Melalui kebijakan preemtive ini, Raja Kmer ditangkap pasukan Jawa dan dibunuh. Kepada para menteri Kmer semua, Raja Jawa meminta mereka agar mengangkat raja baru.(4)

Guna mendukung kebijakan mancanegara yang bersifat dinamis tersebut, pemerintah kerajaan Medang tentu memerlukan dukungan militer yang kuat dan besar. Ketika pemerintah Medang menyetujui membantu Vietnam tahun 767 M, pemerintah Medang mengirim 557.000 pasukan dengan 5577 kapal.(5) Pasukan yang dikirim pada saat itu merupakan pasukan gabungan karena dipimpin oleh tiga panglima perang utama. Raja Sanjaya, Suwira Gading dan Sang Satiaki Satirta.(6) Demikian pula ketika melakukan kebijakan preemptive, pemerintah Medang pun harus mengirimkan 1000 buah kapal ukuran sedang.(7) Dengan kekuatan ini, raja baru Kmer dapat ditangkap sebelum ia dapat mengerahkan pasukannya.

Dari sini dapat dikatakan jika pemerintah Medang selain memiliki militer yang kuat dan besar, ia juga memiliki seni diplomasi yang kuat untuk menggerakkan negara-negara yang disatukannya. Namun demikian kerajaan Medang tetap menekankan diri pada politik luar negeri yang bersifat non agresif. Jaringan intelijen yang dimiliki pemerintah Medang juga kuat. Sekalipun jaringan intelijen tidak pernah dicatat dalam data sejarah, namun informasi sejarah yang menginformasikan pasukan yang dikirimnya tidak terdeteksi oleh musuh, maka dapat dikatakan sebagai hasil dari sebuah intelijen. Jaringan intelijen ini tercatat mampu membuat pemerintah Cina gagal mengirim pasukan bantuan ke Vietnam (8) dan pemerintah Kmer gagal mendeteksi kedatangan musuh di istananya.

Pemerintah Medang juga dapat dikatakan memiliki ekonomi yang sangat kuat. Kepercayaan Vietnam untuk meminta bantuan Jawa, salah satunya tentu ditentukan oleh ekonomi Medang yang kuat. Sebagaimana Ukraina meminta bantuan Amerika Serikat menghadapi Rusia pada saat ini. Terlebih besarnya biaya perang pada masa itu pun sangat besar. Besarnya biaya perang dapat dilihat dari pengiriman pasukan cadangan pasukan Tartar saat menyerang Jawa. Dengan 20.000 pasukan yang dikirim, mereka dicatat dibekali dengan logistik untuk satu tahun dan 40.000 batang perak.(9) Atau 2 batang untuk setiap pasukan. Setiap 1 batang perak dicatat kurang lebih sebesar 1,2 kg.

Jika di konversikan dengan pasukan pasukan Medang yang dikirim, kerajaan Medang harus mampu menyiapkan logistik selama 1 tahun untuk 577.000 marinir, juga perak sebanyak 1.154.000 batang perak. Atau menyediakan logistik selama 1 tahun untuk 70.000 – 100.000 marinir dan perak sebanyak 140.000 – 200.000 batang perak, saat kerajaan Medang melakukan tindakan preemptive.

Menjadi pertanyaan kemudian, apakah kebijakan pemerintah Medang dalam menjalin hubungan mancanegara tersebut, juga dilaksanakan oleh Majapahit, terutama terkait upaya diplomasi, militer, intelijen dan ekonomi. Sejauh mana persamaan dan perbedaan yang ditempuh?

2. Hubungan Mancanegara Pada Masa Majapahit

Majapahit adalah sebuah nāgara yang didirikan tahun 1293. Sebagai sebuah nāgara, Majapahit termasuk baru. Namun sistem nāgara yang dilaksanakan pemerintahan Majapahit seusia kebudayaan Jawa itu sendiri. Hal ini karena sistem ini telah dilaksanakan oleh kerajaan Medang.(10) Dalam sistem nāgara, Majapahit terpilih menjadi pusat dari nāgara-nagara yang membentuk sebuah kerajaan bernama Jawa yang telah ada sebelumnya.

Majapahit sebagaimana keterangan Prapanca meneruskan sistem yang dilaksanakan raja Kahuripan Airlangga. Salah satunya misalnya mengenai sistem pengiriman para pendeta sebagai duta besarnya di Nusantara.(11) Dan Airlangga sendiri dicatat meneruskan sistem kerajaan Medang, karena sistem nāgara yang dilaksanakan era kerajaan Medang juga tetap dilaksanakan Kahuripan.

Sebagai nāgara yang terpilih sebagai pusat kerajaan Jawa, maka Majapahit memiliki akses meneruskan arah kebijakan kerajaan Jawa sebelumnya. Nāgara-nāgara yang tergabung dalam kerajaan Jawa, menjadi pendukung kebijakan yang ditetapkan oleh Majapahit. Karena itu wilayah Majapahit pun mampu segera mengelola zona wilayah yang sama dengan zona wilayah kerajaan sebelumnya yaitu kerajaan Medang, dalam kurun waktu yang tidak lama.

Menurut Carita De Parahyangan, kerajaan Medang dicatat mengelola 5 zona komersial di Asia Tenggara.(12) Kelima zona itu adalah pertama: Zona Teluk Benggala, yang mencakup India Selatan, Sri Lanka, Birma, dan pantai utara Sumatera. Kedua: Zona Selat Malaka. Ketiga: Zona Laut Cina Selatan, yang mencakup pantai timur Semenanjung Malaysia, Thailand, dan Vietnam Selatan. Keempat: Zona Sulu, yang mencakup daerah Pantai Barat Luzon, Mindoro, Cebu, Mindanau, dan pantai utara Kalimantan. Terakhir: Zona Laut Jawa, yang melibatkan kawasan Kalimantan Selatan, Jawa, Sulawesi, Sumatera dan Nusa Tenggara.(13)

Pada masa Majapahit dibawah pemerintahan Raja Kŗtarajasa Jayawardana, Majapahit juga dicatat mengelola zona-zona komersial Asia Tenggara.(14) Majapahit bahkan dicatat mengelola 2 zona komersial lain selain zona komersial Asia Tenggara padayaitu Zona Laut Arab, yang mencakup Cochin, Malabar Oman, dan Aden dan Zona Laut Merah, yang mencakup Mombasa, Mogadishu, Muza, Berenike, yang berujung ke Alexandria. Penguasaan 2 zona ini terjadi karena produk akhir dari kawasan Cina, India dan Asia Tenggara yang pada akhirnya bermuara ke kawasan Laut Merah untuk kemudian didistribusikan ke seluruh Eropa dilakukan oleh Jawa (baca: Majapahit).(15)

Dalam mengelola kepentingannya agar tidak mendapat gangguan dari wilayah yang disatukannya dan wilayah mancanegara, Majapahit dicatat melakukan pendekatan kebudayaan yang aktif. Kepentingan disini adalah kemampuan Majapahit dalam mengelola seluruh potensi dalam negerinya untuk dapat diakses kepada semua wilayah yang membutuhkannya. Pendekatan ini dilakukan karena hubungan dengan wilayah yang disatukannya dan wilayah mancanegara pada masa itu sangat bergantung kepada raja yang memerintah ketika itu. Ketika terjadi pergantian kepemimpinan maka sangat dimungkinkan terjadi perubahan kebijakan termasuk di dalamnya kebijakan terkait hubungannya dengan Majapahit.

Menyadari bila dalam mengelola kepentingannya agar tidak terganggu sangat beresiko karena bertumpu pada pergantian kepemimpinan suatu wilayah, maka Majapahit dicatat melakukan berbagai hal. Baik terhadap negara lain maupun wilayah yang disatukannya.

3. Hubungan Majapahit Terhadap Negara Sahabat

Negara Sahabat (mitra) menurut Prapanca adalah Yawana.(16) Yawana adalah Arab. Di dalam menjalin hubungan dengan Yawana, Majapahit melakukan pendekatan kebudayaan. Pendekatan dimana Majapahit meneruskan kerajaan Medang mengadopsi hukum utama Islam terkait muamalah agar Majapahit tetap menjadi mitra dagang utama Arab.

Adopsi hukum utama Islam terkait muamalah diantaranya adalah adopsi Hukum Larangan Makan Babi dan Minum Alkohol. Memperbolehkan makan daging sapi (17) dan tidak memberlakukan adanya riba.

Adopsi Hukum Larangan Makan Babi dan Minum Alkohol dicatat dalam Adiparwa Jawa Kuno. Dalam Adiparwa Jawa Kuno, alkohol dilarang keras untuk di minum oleh para brahmana baik secara bijaksana maupun tidak. Selain alkohol, dilarang juga makan daging babi. Pelarangan ini dilakukan oleh Bhagawan Sukra ayah Dewayani.

Mangke tambay ning brahmana tanpamangan daging ing celeng umah, tanpanginum surapana, (surapana ngaranya sajong, salwir ing sinanggah sajeng, twak waragang, badyag, twak ing tal, budur), ling ning sastra sangke bhagawan Sukra: Mohat pasyati durbuddhih. Kalinganing sabda: ikang wwang awero dening sajong durbuddhi, solah solahanya, ujar tan ujara, sangke mohanyan wareg sajong, magawe ahangkara ning buddhi, yan hana sira brahmana mpu nginum sajong, mkanimitta moha nira, nguniweh amangana daging ning celeng umah, ya abhaksa-bhaksa ngaranya, ya apeya-peya ngaranya, amangan camah anginum wastu camah, adharma ngarannya, tan dharma sang pandita ika. ‘Mulai sekarang brahmana tidak makan daging babi dan tidak minum minuman keras (yaitu: tuak, waragang, badyag; tuak pohon tal dan budur. Itulah yang disebut minuman keras). Ajaran bagawan Sukra itu: Mohat pasyati durbuddhih. Bunyinya : “orang yang mabuk karena minuman keras itu setengah gila, berbuat seakan-akan bukan perbuatannya sendiri, berkata yang tidak semestinya, karena bingung kenyang minuman keras menyebabkan nafsu buruk. Demikianlah keadaannya kalau seorang brahmana minum minuman keras yang menyebabkan mabuknya, lagi pula makan daging babi, abhyaksa-bhyaksa itu namanya larangan. Makan maupun minum, itu menyebabkan cacad. Hal yang demikian itu tidak baik (tidak menurut hukum), tidak selayaknya seorang pendeta demikian.(18) Dan bagi yang melanggarnya, ia akan mendapat kutuk dari Bhagawan Cukra. “Jmah tasmat sapapa ning brahmatya tinemunya!”’Kelak engkau (orang yang melanggar) akan mendapat hukuman yang sama dengan orang membunuh brahmana!’

Hukum ini terjadi tentu karena mendapat pengaruh kuat dari hubungan antara Arab dengan Jawa kala itu. Hal ini karena di India sendiri, sekalipun pelarangan minum alkohol ada, hanya saja ditujukan bagi mereka yang minum dengan tidak bijaksana. Dengan demikian alkohol tetap dibolehkan bila diminum dalam jumlah yang bijaksana.

“Orang akan kehilangan keluhuran budi, jika minum anggur secara tidak bijaksana. Orang yang demikian akan dikutuk. Demikian pesanku dan pesan ini akan tertulis dalam kitab-kitab suci sebagai larangan yang tidak boleh dilanggar”. (19)

Untuk pelarangan makan babi (celeng umah) yang ada di Mahabharata Jawa Kuno, tidak ditemui di Mahabharata India.(20) Demikian pula dengan riba. Tradisi pinjam meminjam di era Majapahit tidak mensyaratkan adanya riba.

Dalam Tantu Panggelaran dikisahkan jika Empu Sameget Baganjing memiliki hutang. Dan ia berjanji akan membayarnya ketika sore hari. Namun karena ia tidak tetap tidak memiliki uang guna membayar hutangnya setelah matahari terbenam, maka matahari ditahan perjalanannya, sehingga matahari bersinar terus dan malam (magrib) tertunda datangnya. Pada waktu itu Sang Raja sedang berpuasa dan akan berbuka setelah matahari terbenam. Sang Raja sudah merasa lapar sekali, tetapi matahari ternyata tetap tidak bergerak menuju peraduannya. Setelah diselidiki ternyata matahari ditahan perjalanannya oleh Empu Sameget Baganjing yang tidak dapat bayar hutang. Akhirnya Sang Raja dicatat membayarkan hutang Empu Sameget Baganjing setelah Empu Sameget Baganjing bersedia tidak menahan perjalanan matahari. Hutang yang dibayarkan untuk Empu Sameget Baganjing dicatat tidak memiliki tambahan atau riba.

Realitas tanpa riba yang dilaksanakan Majapahit, karena Tantu Panggelaran dicatat merupakan karya sastra Jawa Majapahit, menunjukkan perbedaan dengan realitas yang ada di India sendiri. Di India kuno, usury (riba) dicatat dijalankan. Riba ditemukan dalam munuskrip agama India Kuno. Jain (1929) menyajikan ringkasan dengan sangat baik tentang riba tersebut dalam karyanya Indigenous Banking in India. Dokumen yang paling awal berasal dari teks Vedic India Kuno (2000-1.400 SM), yang mana usurer (kusidin) disebut beberapa kali dan diinterpretasikan sebagai setiap orang meminjamkan dengan memungut bunga. Rujukan yang lebih sering dan rinci tentang pembayaran dengan bunga ditemukan kemudian dalam teks Sutra (700-100 SM) dalam Jakatas (600-400 SB).(21)

Pendekatan kebudayaan ini menjadikan Arab terus memberi kepercayaan atas perdagangannya dengan Majapahit karena Majapahit mampu memberi yang Arab harapkan. Pendekatan ini kiranya sebagimana Inggris saat ini dalam membuka Bank Islam di negaranya yang menganut ajaran Kristen. Pendekatan kebudayaan murni berorientasi pada ekonomi. Dengan dibukanya Bank Islam oleh Inggris dan diadopsinya hukum Islam di kerajaan Medang hingga Majapahit, maka modal dan bisnis dari Arab tidak dialihkan.

Salah satu bentuk kedakatan hubungan antara Yawana dengan Majapahit dapat dilihat dari catatan Hikayat Hang Tuah dan Ibn Battuta. Ketika salah satu negara yang disatukan Majapahit yaitu Malaka datang ke benua Rom bernama Setambul (Istambul Turki), Sultan Rom dicatat menerima kedatangan tersebut dengan baik.(22) Penerimaan ini menunjukkan Rom menghormati Raja Malaka dan Raja Majapahit yang merupakan negara yang menyatukan Malaka.(23) Demikian pula sebaliknya, ketika Ibn Battutta ke Mul-Jawa, Raja Mul-Jawa (Majapahit) dicatat menyambutnya dengan baik pula.(24)

4. Hubungan Majapahit Terhadap Negara Yang Disatukannya

Menurut Nagarakrtagama, negara yang disatukan Majapahit meliputi Jawa, Nusantara, Desantara (Asia Tenggara) dan Dwipantara (India dan Cina), Nag.13-16. Dalam melakukan hubungan terhadap negara yang disatukannya, Majapahit dicatat melakukan berbagai pendekatan. Baik itu pendekatan kebudayaan, militer, intelijen dan ekonomi.

A. Pendekatan Kebudayaan

Dalam melakukan pendekatan kebudayan, Majapahit dicatat melakukannya melalui pernikahan dan pendidikan. Pendekatan ini selain dilaksanakan guna meredam perubahan politik akibat pergantian kepemimpinan, juga untuk memperkuat hubungan dengan wilayah yang disatukan. Selain itu, seluruh potensi dalam negeri Majapahit diharap dapat diakses kepada negara yang mendapat pendekatan tersebut.

B. Pendekatan Pernikahan

Pada masa Majapahit, pendekatan melalui pernikahan sangat sering dilakukan. Misalnya saja pelaksanaan perkawinan antara Malaka dan Jawa (HHT, SM), Negara-Dipa (Kalimantan) dengan Jawa (HB), Palembang dengan Jawa (HB), Bali dengan Jawa (HB), Minangkabau dengan Jawa (HB), Bantan dengan Jawa (HB), Mangkasar dengan Jawa (HB), serta Pasai dengan Majapahit (HB). Dalam pelaksanaan pendekatan ini, Majapahit mengharap agar para pewaris tahta di Negara yang disatukan Majapahit nantinya dapat lebih akomodatif terhadap Majapahit. Resiko perubahan peta politik atas berlangsungnya suksesi di suatu negara yang disatukan Majapahit menjadi berkurang.

Namun demikian, pendekatan perkawinan ini pun memiliki resiko yang demikian besar. Hal ini karena Putri atau Pangeran yang menikah dengan negara yang disatukan Majapahit dapat mendapat pelecehan yang menyebabkan nilai Majapahit yang dibangun menjadi pudar. Karena itu untuk mengatisipasi hal tersebut, Majapahit sebagai negara utama kawasan mengeluarkan peraturan untuk dapat menghukum raja yang menyia-nyikan Putri atau Pangeran Majapahit. Terlebih bila mereka telah menjadi warga negara dari negara yang melaksanakan perkawinan kenegaraan dengan Majapahit.

Peraturan ini misalnya diterapkan Majapahit ketika mengetahui Putri Majapahit yang dinikahi Sultan Malaka dimadu. Putri Majapahit sebagai istri tua dicatat mendapat waktu kunjungan yang lebih sedikit dari waktu kunjungan Sultan Malaka ke istri muda. Raja Majapahit dengan kekuasaannya kemudian, dicatat memanggil Sultan Malaka ke Majapahit untuk dimintai pertanggungan jawab. Pemanggilan ini membuat Sultan Malaka harus datang sendiri ke Majapahit. Setiba di Majapahit, keputusan Sultan Malaka dibunuh atau tidak berada di tangan Raja Majapahit. Karena Sultan Malaka dapat menjelaskan alasannya, maka ia tidak jadi dibunuh. Namun demikian waktu kunjungan ke Putri Majapahit menjadi lebih banyak dari istri mudanya.(25)

Demikian pula ketika Putri Majapahit meninggal di negara yang melaksanakan perkawinan kenegaraan dengan Majapahit. Peraturan Majapahit menganggap hal tersebut sebagai sebuah kesalahan yang sangat besar. Majapahit memiliki alasan untuk menghancurkan negara tersebut.  Salah satu contoh kejadian yang dicatat sejarah adalah kematian Putri Majapahit ketika berencana melangsungkan pernikahan dengan Pangeran Pasai. Kematian Putri Majapahit tersebut menjadikan Pasai diserang dan dihancurkan Majapahit. Disini Majapahit tercatat sangat over protective dalam melindungi warga negaranya di wilayah negara yang disatukannya.(26)

Putri/Pangeran Majapahit ketika dilepas pemerintah Majapahit, juga dicatat tidak dalam posisi lemah. Mereka dicatat mendapat aset dari Raja Majapahit. Disini terlihat pemerintah Majapahit hanya akan mengirim duta terbaik sesuai wilayah negara yang disatukan membutuhkannya. Karena itu Putri/Pangeran Majapahit yang kemudian menjadi warga negaranya di wilayah negara yang disatukan, tetap memiliki nilai tawar tinggi.

Ketika Putri Majapahit (We Tappacina) yang dinikah Pangeran Makasar (Anak Aji), mendapat kritik nenek Pangeran Makasar, Putri Majapahit dicatat dapat pulang dengan segera ke Majapahit. Kepulangan ini menyebabkan Pangeran Makasar terpaksa harus datang ke Majapahit untuk meminta kembali istrinya pulang ke Makasar.

Secara keseluruhan, kisah Anak Aji dan We Tappacina adalah sebagai berikut. Anak laki-laki Simpurusia bernama Anak Aji. Anak Aji kemudian beristrikan Wetappacina anak Menurung di Mancapai yang bernama Lamalalae (Ayam Urwa / Hayam Wuruk). Perkawinan Anak Aji dan Wetappacina melahirkan anak yang bernama Mawattengnga Empong. Pada suatu ketika Wamattengnga Empong kecil menangis. Saat menangis itu, neneknya (dari pihak Anak Aji) menyanyi. Terjemahan nyanyian itu adalah sebagai berikut.

Anak Wamanedara, diturunkan di bambu pettung, menetes diruas bambu teleng, yang berbaring dimuka tanah, Lalibatina namamu, bukan sungai yang dilalui, Manurung di bambu pettung, muncul di busa air, tak diturunkan lagi, bukan perahu yang ditumpangi, meniti benang seutas, sutra berwarna kuning, Pasoro dengeng, gesit bagaikan anjing jadi-jadian, jangan sampai muncul di jamah, setapak kakipun tak sanggup, tak ada tanah sebungkalnya, De’e cangkuli kettenna, tak ada tai keringnya.

Nyanyian itu ternyata merupakan sindiran. Sehingga Wetappacina menjadi marah terhadap mertuanya setelah mendengar nyanyian itu. Ia segera membakar dupa-dupanya dan kemudian gaib menuju Mancapai melalui benang suteranya. Anak Aji segera mengikutinya pergi ke Mancapai. Setelah melalui proses diplomasi yang seru dengan mertuanya (raja Majapahit), barulah ia dapat kembali bersama-sama ke Luwu dengan istrinya kembali.(27)

Kisah Anak Aji  dan Wetappacina ini memberi gambaran jika menyindir Putri Majapahit sangat beresiko apalagi bila melakukan tindakan kekerasan terhadapnya. Dan perlindungan Majapahit selalu terbuka, sewaktu-waktu Putri atau Pangeran Majapahit diperlakukan tidak hormat. Majapahit pun dicatat memiliki kekuasaan untuk memanggil raja negara yang disatukannya, untuk dimintai penjelasan.

C. Pendekatan Pendidikan

Pendekatan pendidikan dilaksanakan Majapahit misalnya dengan membuka pendidikan khusus kenegaraan dan kemiliteran untuk wilayah yang disatukan Majapahit. Dalam pendidikan kenegaraan ini, semua murid mendapat pendidikan administrasi pemerintahan sebagai mana yang Majapahit lakukan. Pembukaan pendidikan ini untuk mengajarkan ilmu administrasi yang lebih efisien yang tentu didalamnya mengajarkan tata tertib berniaga antar negara. Pendidikan kenegaraan ini misalnya telah ditempuh oleh para pangeran dari Kutai.(28)

Pendidikan yang dibuka Majapahit khusus kemiliteran dilaksanakan untuk mengajarkan seni berperang dan administrasi pertahanan sebagaimana yang dimiliki oleh Majapahit. Pendidikan ini misalnya ditempuh oleh Laksamana Hang Tuah.(29)

Pendidikan-pendidikan khusus untuk siswa wilayah yang disatukan Majapahit, dimungkinkan bertambah dan bukan hanya dua macam saja. Pendidikan tehnik dan pertanian dimungkin juga ditawarkan sekalipun hingga saat ini belum ada data yang memberitakannya. Semua pendidikan khusus ini dilakukan Majapahit untuk memperkuat image Majapahit dimata wilayah yang disatukannya. Sekalipun tidak langsung, pendidikan khusus di Majapahit dapat mendongkrak ekonomi Majapahit karena membuat semua potensi yang ada di Majapahit menjadi trend sebagai akibat meningkatnya permintaan terhadapnya.

D. Hubungan Kemiliteran

Sekalipun memiliki pendidikan militer yang mampu melahirkan tokoh seperti Hang Tuah dan memiliki pasukan terbaik di masanya karena mampu menghancurkan pasukan Mongol beserta Raja Khubilai Khan, Majapahit tetap melakukan kebijakan non agresi. Hubungan militer antara Majapahit dengan Yawana (Arab) sebagai negara mitra dan Majapahit dengan negara yang disatukannya juga terus dilangsungkan dengan baik.

  • Hubungan Militer Dengan Yawana

Hubungan kemiliteran antara Majapahit dengan Yawana dilaksanakan dalam bentuk kerjasama peralatan militer. Majapahit melihat Yawana merupakan area penuh gejolak sehingga menjadi pasar bagi senjata yang dibuat Majapahit atau sebaliknya penemuan baru militer yang terlahir di area konfik tersebut membuat Majapahit kemudian merenovasi peralatan militernya.

Salah catatan yang menunjukkan Jawa mengirim senjata ke Yawana dicatat oleh Duarte Barosa.(30) Sekalipun informasi ini merujuk pada masa Demak, namun sangat dimungkinkan telah dilakukan pada masa sebelumnya. Mengingat informasi Omar Thaib seorang sejarawan Turki menyebut adanya pengiriman barang-barang dari Hindia, Sind, Cina ke Suez pada masa lalu sebelum Portugis, Belanda, dan Inggris.

Catatan adanya penemuan militer baru yang terlahir di area konfik, yang kemudian membuat peralatan militer harus direnovasi adalah informasi dari Hikayat Hang Tuah. Dalam Hikayat Hang Tuah, Malaka dicatat mengirim utusan ke Turki untuk membeli meriam ke benua Rom (Turki), karena mendapat informasi benua Rom memiliki meriam jenis terbaru.(31) Bagi Majapahit sendiri, baju perang tipe baju rantai (winaju rante) yang digunakan bagi pasukan Majapahit kemudian,(32) sangat dimungkinkan merupakan renovasi peralatan militer yang biasa digunakan era perang Salib. Hal ini karena baju perang sebelumnya yang dicatat dalam kakawin adalah baju baja.(33) Baju perang tipe winaju rantai akan lebih nyaman digunakan di daerah tropis seperti Majapahit.

  • Hubungan Militer Majapahit Dengan Negara Yang Disatukannya

Ketika menyerang Bali dan Pasai, Majapahit melibatkan pasukan gabungan dengan negara-negara yang disatukannya. Demikian pula ketika Majapahit dicatat menundukkan negara-negara di timur Jawa. Majapahit dicatat mengerahkan balatentara dari Makasar.(34)

Pengerahan pasukan non Majapahit ini menunjukkan hubungan kemiliteran di wilayah yang disatukan Majapahit terus diaktualisasi dan dijaga. Pengerahan pasukan gabungan yang melibatkan berbagai elemen pasukan juga tentu harus memiliki standar operasional yang sama, agar pasukan gabungan dapat berperan maksimal.

Banyaknya operasi militer yang ada di Majapahit juga dapat diminimalisasi dengan melibatkan pasukan gabungan. Dalam Lia Asa Usu dikisahkan begitu bala pasukan Makasar bersama Majapahit berhasil menjalankan misinya, mereka kembali ke wilayahnya. Namun karena sesuatu hal, maka mereka kemudian lebih memilih menetap di Lamalera.(35)

E. Pendekatan Intelijen

Di dalam Sejarah Melayu, ketika pasukan Majapahit gagal menyerang Singapura, pasukan Majapahit ditarik mundur. Beruntung kala itu terjadi perselisihan antara Raja Singapura dengan pembesarnya yaitu Rajuna Tapa. Perselisihan itu menjadikannya ia terpaksa melawan Raja Singapura. Ia lalu mengirim surat ke Raja Majapahit untuk kembali menyerang Singapura, dimana ia akan membantu dari dalam. Raja Majapahit kemudian segera mengirim pasukannya kembali ke Singapura. Benar, dengan bantuan Rajuna Tapa, Majapahit kemudian mampu menundukkan Singapura.

Kepercayaan Majapahit atas bantuan Rajuna Tapa disini tentu tidak lepas dari dukungan intelijen yang ditempatkan di Singapura yang menginformasikan Rajuna Tapa benar berselisih dengan Raja Singapura dan Rajuna Tapa tidak untuk menjebak pasukan Majapahit. Intelijen Majapahit bahkan sangat dimungkinkan memanaskan perseteruan antara Rajuna Tapa dengan Sultan Singapura demi keuntungan Majapahit.

Sistem intelijen yang ditempatkan Majapahit kiranya dilaksanakan seperti penerapan sistem intelijen era kerajaan Medang yang dapat masuk Kmer tanpa diketahui. Dengan sistem intelijen yang diterapkan di Singapura ini, Majapahit dicatat mampu mengalahkan Singapura dari dalam tanpa pengerahan pasukan secara besar-besaran yang beresiko terjadinya biaya tinggi. Dalam menyerang Singapura, Majapahit dicatat mengerahkan 300 kapal tipe Jung atau total kapal yang dikirim 1800 buah.

F. Pendekatan Ekonomi 

Dalam catatan sejarah tahun 1443, Gubernur Canton melaporkan kepada Kaisar Cina  bahwa utusan dari Jawa dicatat memakan biaya negara terlalu banyak. Kaisar Cina kala itu bernama Kaisar Zhengtong. Ia adalah kaisar ke-6 dari Dinasti Ming yang berkuasa tahun 1435 hingga 1449 lalu berkuasa lagi tahun 1457 hingga wafatnya tahun 1464.  Kaisar dicatat dengan mengiba meminta kepada Raja Majapahit agar upeti Majapahit dikirim satu kali dalam 3 tahun.(36)

Pembatasan pemberian upeti ini, menunjukkan bila upeti bukan merupakan bentuk wujud tunduk sebuah negara atau bentuk dari penarikan pajak. Upeti merupakan bentuk pemberian barang-barang berharga kepada sebuah negara. Negara yang menerima juga akan memberikan balasan dengan memberikan barang-barang yang sama. Ketika utusan telah diterima, utusan-utusan yang biasanya diikuti saudagar-saudagar swasta diberi kesempatan berniaga.(37) Catatan pemberian upeti dan balasan atas pemberian upeti juga dicatat dalam Sejarah Melayu dan Hikayat Banjar.(38) Dari sini upeti sebenarnya dapat dikatakan sebagai pengiriman barang perdagangan.(39)

Banyaknya barang perdagangan yang dikirim ke Cina oleh Majapahit dikarenakan Majapahit mampu memproduksi barang perdagangan dengan lebih murah dan lebih lengkap. Baik barang kebutuhan sehari-hari maupun berbagai bahan langka yang ada di daerah tropis.(40) Banyaknya barang dagangan ini menunjukkan bila produksi barang di Majapahit lebih efisien dan lebih murah karena dapat dieksport secara besar-besaran ke Cina. Dan tentu ke wilayah lainnya.

Kemampuan mengelola produksi yang efisien ini menjadi sebuah alat bagi Majapahit guna memperkuat hubungan dengan wilayah yang disatukan, dan menjadikan mereka lebih bergantung kepada Majapahit. Dimana muaranya membuat politik Majapahit diakui oleh wilayah yang disatukannya. Pengakuan itu salah satunya dilakukan oleh Kaisar Zhengtong, Kaisar ke-6 dari Dinasti Ming yang mengatakan bila dirinya adalah rakyat Raja Majapahit.(41)

Kesimpulan

Majapahit dalam menjalin hubungan dengan negara sahabat dan negara yang disatukannya menjalankan pendekatan yang berorientasi pada budaya. Dalam pendekatan ini Majapahit memberi ruang bagi aktualisasi negara lain namun tujuan dari Majapahit sendiri tercapai. Konsep ini dicatat baik melalui pepatah Jawa: Nglurug Tanpa Bandha, Menang Tanpa Ngasorake. Majapahit juga dicatat aktif dalam melaksanakan hubungannya dengan negara sahabat dan negara yang disatukannya. Aktifnya Majapahit untuk menjaga agar citra Majapahit terus terjaga dengan baik.

Catatan 

  1. Makalah ini disampaikan dalam Diskusi Panel Serial ke-7 yang diselenggarakan Yayasan Suluh Nuswantara Bakti di Jakarta tanggal 5 April 2013. Penulis Irawan Djoko Nugroho.
  2. Abdul Rahman Al Ahmady, 1990: 222.
  3. Lihat, Irawan Djoko Nugroho, 2011: 22-23.
  4. Irawan Djoko Nugroho, 2011, hal: 22-23.
  5. Abdul Rahman Al Ahmady, 1990: 222.
  6. Abdul Rahman Al Ahmady, 1990: 222.
  7. Lihat, Irawan Djoko Nugroho, 2011: 23.
  8. Abdul Rahman Al Ahmady, 1990: 223.
  9. P. Groeneveldt, 2010: 30.
  10. Kerajaan Medang terdiri dari gabungan nāgara. Beberapa nama nāgara di era kerajaan Medang adalah Mataram, Mamrati, Tamwlang, Watugaluh dan Wwatan.
  11. Nag. 16.
  12. Sanjaya dicatat dalam naskah Carita de Parahyangan menaklukkan Mananggul, Kahuripan (Jawa Timur), Kadul, Bali-tar, Mālayu, Kĕmir (Kmer), Kĕling (India), Barus, dan Cina, (Lihat, Marwati Djoned Poesponegoro, 2008: 383). Penaklukkan wilayah itu menunjukkan bila Sanjaya juga menguasai zona komersial wilayah tersebut.
  13. M. Djuliati Suroyo, dkk, 2007: 9.
  14. Kidung Harşa-Wijaya pupuh VI. 117 b mencatat wilayah masa Kṛtarajasa Jayawardana sebagai berikut. Sakweh ing satru wus ĕnti dinon denira śrī bhūpati katĕkêng nūşântara akweh log lyan tungkul subhaktya karuhun tang Bali Tatar Tumasik Sampi Koci lan Gurun, Wandan Tañjung-Pura tan opĕn tang Đompo Palembang Makasar prapta sama mawwat sesi ni pura. ‘Seluruh musuh telah habis sama sekali diserang oleh Sri Raja hingga di Nūşântara, sangat luas, dan juga takluk, berbakti, terutama Bali, Tatar, Tumasik, Sampi, Koci, dan Gurun, Wandan, Tañjung-Pura apalagi Đompo, Palembang, Makasar, datang bersama-sama dengan persembahan segala isi negeri’. Lihat C.C. Berg, 1931: 76.
  15. Menurut keterangan Duarte Barosa, peran Jawa demikian dominan dalam perdagangan di Aden.
  16. 15.1.4: ri <Cāmpā> Kāmbojânyat i Yawana mitrêka satatā.
  17. Daging sapi di Jawa Kuno dicatat digunakan dalam sajian upacara penetapan sima, bersama daging kerbau daging rusa dan daging babi hutan. Ini menunjukkan bila sapi di tradisi Jawa Kuno tidak disakralkan seperti tradisi India.
  18. Adiparwa I, hal: 102-103.
  19. Rajagopalachari, 2008: 35. Dalam Mahabharata edisi P. Lal, sayangnya kisah ini tidak dicantumkan. Dalam Mahabharata Edisi Pratap Chandra Roy, C.I.E, larangan minum alkohol juga dibahas. Vaisampayana continued, “The learned Sukra, having been deceived while under wine, and remembering the total loss of consciousness that one of the terrible consequences of drink, and beholding too before him the handsome Kacha whom he had, in a state of unconsciousness, drunk with his wine, then thought of effecting a reform in the manners of Brahmanas. The high-souled Usanas rising up from the ground in anger, then spoke as follows : “The wretched Brahmana who from this day, unable to resist the temptation, will drink wine shall be regarded as having lost his virtue, shall be reckoned to have committed the sin of slaying a Brahmana, shall be hated both in this and the other worlds. I set this limit to the conduct and dignity of Brahmanas everywhere. Let the honest, let Brahmanas, let those with regard for their superiors, let the gods, let the three worlds, listen!’ Having said these words that high-souled one, that ascetic of ascetics, then summoning the Danavas who had been deprived by fate of the good sense, told them these words : ‘Ye foolish Danavas, know ye that Kacha hath obtained his wishes. He will henceforth dwell with me I Having obtained the valuable knowledge of reviving the dead, that Brahmana hath, indeed, become in prowess even as Brahmana himself !’ Lihat Pratap Chandra Roy, C.I.E, The Mahabharata of Krishna-Dwaipayana Vyasa, Translated into English prose from the original Sanskrit Text, Vol 1. Adiparva. Oriental Publishing Co, Calcutta, hal: 189.
  20. Dalam Bibel, makan daging babi yang dilarang adalah babi hutan. Babi selain babi hutan diperbolehkan. Dalam Adiparwa Jawa Kuno sebaliknya. Yang dilarang adalah babi selain babi hutan. Babi hutan diperbolehkan.
  21. Visser dan Mcintosh, 1998.
  22. Lihat perjalanan Hikayat Hang Tuah ke negeri Rom.
  23. Dalam Hikayat Hang Tuah, Raja Malaka datang ke Majapahit untuk menjadi hamba ka-bawah Duli Paduka Betara Majapahit, HHT. VI: 23.
  24. A.R. Gibb, 1983: 277-278.
  25. Lihat Hikayat Hang Tuah.
  26. Lihat Hikayat Raja-Raja Pasai.
  27. Lihat Abu Hamid, “Episode Perjalanan Sawerigading Ke Cina, hal: 87, dalam Matulada, Dkk (Ed), Sawerigading Foltale Sulawesi. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Direktorat Jenderal Kebudayaan Direktorat Sejarah dan Nilai Tradisional Proyek Penelitian dan Pengkajian Kebudayaan Nusantara, 1990).
  28. Lihat Kroniek van Kutai.
  29. Lihat Hikayat Hang Tuah.
  30. Diterjemahkan oleh H.E.J Stanley (1866): Duarte Barbosa, A Description of the Coast of East Africa and Malabar in the Beginning of The 18th Century. Duarte Barbosa adalah keponakan Magellan, yang berkelana di Samudera Hindia dan Indonesia selama 15 tahun. Lihat Paul Michel Munoz, 2009: 396-397.
  31. HHT: XXV
  32. Baju rantai (winaju rante) dicatat digunakan di tradisi Kidung. Lihat Kidung Ranggalawe (7.31) dan (7.107). Pencatatan di tradisi Kidung menunjukkan tipe baju tersebut baru digunakan era Singhasari dan Majapahit.
  33. Baju baja (kawaca) dicatat digunakan di tradisi Kakawin. Lihat misalnya Kakawin Arjunawiwaha (7.6). Pencatatan di tradisi Kakawin menunjukkan tipe baju tersebut baru digunakan era sebelum Singhasari dan Majapahit.
  34. Lihat Didik Pradjoko , M. Hum , 2011:10-14. Lia Asa Usu menceritakan asal usul nenek moyang orang Lamalera dari Luwuk di Sulawesi Selatan yang ikut dalam pelayaran armada Majapahitke bagian timur Nusantara
  35. Didik Pradjoko , M. Hum , 2011: 10-14.
  36. M. Djuliati Suroyo, dkk, 2007: 53.
  37. Irawan Djoko Nugroho, 2011: 46-48
  38. Lihat HB. 14.4 dan SM. 15.1 dan 15.2.
  39. Di dalam Nag.15.3. Upeti yang biasanya berupa produk suatu negara untuk kemudian diganti dengan barang lain seharga, disebut pāhudhama. Sedangkan yang disebut sebagai pajak bagi negara lain disebut utpatti. Namun dalam tradisi Melayu dan Cina istilah tersebut tidak ada. Yang ada hanya istilah upeti.
  40. Ma Huan mencatat bila di Jawa rombongannya menjumpai semua yang diinginkan, disamping berbagai bahan langka yang ada di daerah tropis. Hal mana tidak dijumpai di daerah lainnya.
  41. Groeneveldt, 2009: 54-55.

Referensi:

Abdul Rahman Al Ahmady, “Sawerigading dalam I la Galigo. Catatannya dalam versi Kelantan dan Trengganu serta hubungannya dengan Yuwana di Semenanjung Indonesia”, dalam Matulda, Dkk (Ed), Sawerigading, Folktale Sulawesi, Jakarta: Depertemen Pendidikan dan Kebudayaan, Direktorat Sejarah dan Nilai Tradisional Proyek Penelitian dan Pengkajian Kebudayaan Nusantara, 1990.

A.M. Djuliati Suroyo, dkk, Sejarah Maritim Indonesia 1: Menelusuri Jiwa Bahari Bangsa Indonesia Hingga Abad Ke-17. Semarang: Penerbit Jeda, 2007.

Berg, CC, “Kidung Harsa-Wijaya”. BKI (88): 1-238, 1931

  1. Rajagopalachari, Mahabharata. Sebuah Roman Epik Pencerah Jiwa Manusia, Jogjakarta: IRCiSod, 2008.

Didik Pradjoko , M. Hum , “Migrasi, Asal Usul Nenek Moyang dan Sumber Sejarah: Menguak Sejarah Migrasi Berdasarkan Cerita Lisan Maritim Masyarakat Suku-Suku di Kawasan Laut Sawu Nusa Tenggara Timur”, Konferensi Nasional Sejarah IX , Jakarta, 5-7 Juli 2011.

Groeneveldt, W.P, Nusantara dalam Catatan Tionghoa. Jakarta. Komunitas Bambu, 2009.

H.A.R. Gibb, Ibn Battuta, Travels in Asia and Africa 1325-1354. London: Darft Plubhishers LTD, 1986.

Irawan Djoko Nugroho, Meluruskan Sejarah Majapahit, Yogyakarta: Ragam Media, 2010.

______________        Majapahit Peradaban Maritim, Jakarta: Yayasan Suluh Nuswantara Bakti,  2011.

Kasim Ahmad, M.A,  Hikayat Hang Tuah. Menurut Naskhah Dewan Bahasa dan Pustaka. Kuala Lumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka Kementrian Pelajaran Kuala Lumpur, 1964.

Marwati Djoned Poesponegoro, Nugroho Notosusanto, Sejarah Nasional Indonesia II, Jakarta: Balai Pustaka, 2008.

Paul Michel Munoz,  Kerajaan-kerajaan Awal Kepulauan Indonesia dan Semenanjung Malaysia. Yogyakarta: Mitra Abadi, 2009.

Pratap Chandra Roy, C.I.E, The Mahabharata of Krishna-Dwaipayana Vyasa, Translated into English prose from the original Sanskrit Text, Vol 1. Adiparva. Oriental Publishing Co, Calcutta

Pigeaud, Th.G.Th, Java in the 14th Century, A Study in Cultural History I-III. The Hague, 1960.

Sumber Gambar

https://www.dictio.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*