Dalam sinetron, novel atau gambar-gambar terkait prajurit Majapahit, prajurit Majapahit dilukiskan tanpa baju perang atau baju pelindung. Demikian pula patih Gajah Mada. Mahapatih Majapahit ini pun dilukiskan tidak mengenakan baju perang saat berperang. Hanya seutas kain yang diselempangkan di dada yang dianggap sebagai pakaian paling istimewa.

Para penulis novel terkait Majapahit dan Gajah Mada pun seakan-akan ‘tumpul’ imaginasinya saat melukiskan baju pelindung prajurit Majapahit dan Gajah Mada. Keberanian mereka yang biasanya out of the box sebagaimana cerita yang mereka jalin seakan tidak ada. Fenomena ini seakan menjadi sebuah anakronisme.

Pakaian Perang Prajurit Majapahit

Sebenarnya para penulis novel terkait Majapahit dan Gajah Mada dalam melukiskan prajurit Majapahit dan Gajah Mada tidak sepenuhnya keliru. Mereka tidak mendapat informasi yang memadai dari para bapak dan ibu sejarawan dan arkeolog terkemuka Indonesia. Barangkali para bapak dan ibu sejarawan dan arkeolog terkemuka Indonesia hidup dalam menara gadingnya. Namun barangkali juga mereka tidak tahu. Dan yang terakhir kiranya lebih kuat karena tidak ada hingga sekarang karya mereka terkait hal tersebut.

Pakaian perang yang digunakan para prajurit Majapahit dicatat secara umum dicatat dalam kidung dan kakawin. Pakaian perang itu dapat dijumpai dalam lampiran buku “Majapahit Peradaban Maritim”. Ada tiga jenis pakaian perang yang digunakan pada masa lalu.

NO JENIS ARTI SUMBER
1 Waju Rante Baju yang terdiri atas rantai-rantai besi Kidung : K.R (7.31), (7.107)
2 Kawaca Baju baja Kakawin : Ad (202), BhP (135), RY (3.42), AW (7.6), HW (32.8), BK (3.11), KY (46.4), HWj (42.9), KD (15.7)

Kidung : Mal (5.88), Ww (2.54)

3 Karambalangan Lapis logam di depan dada Kakawin : HWj (5.64)

Kidung : K.R (11.97), Mal (6.90)

Sangat menarik jika ketiga jenis pakaian perang yang tercatat tersebut umumnya merupakan jenis pakaian perang prajurit biasa. Perwira atau komandan utama ternyata memiliki pakaian perang yang berbeda dengan pakaian perang para prajurit biasa.

Pakaian Perang Gajah Mada

Salah satu pakaian perang yang berbeda dikenakan komandan para prajurit adalah pakaian perang Gajah Mada. Secara umum pakaian perang Gajah Mada dicatat dalam Kidung Sundayana pupuh 1. 94-96.

Pupuh 1: 93

Mangke angling rakryan patih Gajah-Mada, ih kitâ patih Sunda, mon ana anunggang, çakaţâpayung kĕtas , dhwajâsiñjang suratnya lwir, dwirada mĕtta, sañjatâgung angiring.

Pupuh 1: 94

Papagĕn dera kaki sarowanganta, atandinga kawanin, patih Sundângucap, iyêngsun kaya ika, ana wong anandang lĕwih, ing abhūşaņa, ngong iku rika kaki.

Pupuh 1: 95

Akarambalangan asusungkul ĕmas, sisimping mas sinangling, tameng tan kawĕdar, bĕk dening nawaratna, ‘buntal tinrapan mas ādi, winuku-wukwa, sasarudhirângrawit

Pupuh 1: 96

Apucak maņik tan-sah pĕdang malyala, ‘garuḍa marĕp uri, apangĕpit keça, saha jong jĕnar karwa, iya isun makapatih, ana ring Sunda, sarowangantâtanding

Menurut keterangan patih Sunda, Gajah Mada mengenakan ‘akarambalangan asusungkul ĕmas’ atau lapis logam di depan dada berhias timbul dari emas, bersenjata tombak berlapis emas, dan perisai penuh dengan hiasan dari intan berlian.

Dari hal tersebut, maka sangat tidak tepat jika Gajah Mada pada saat ini dilukiskan tanpa pakaian perang ketika berperang. Para para penulis novel kiranya perlu mulai melukiskan Gajah Mada yang sebenarnya dan meninggalkan penggambaran yang selama ini keliru.

Nilai Kesejarahan Baju Baja Emas Gajah Mada

Dicantumkannya baju baja emas Gajah Mada dalam Kidung Sundayana atau Kidung Sunda C sebenarnya menimbulkan sebuah pertanyaan. Mengingat isi kidung Sundayana demikian pula isi kidung Sunda tidak memberikan informasi yang benar terkait Majapahit. Namun demikian tetap perlu diakui jika penulis Kidung Sunda tersebut memahami kebudayaan dan tradisi Majapahit dengan baik. Seperti misalnya utusan yang datang di Majapahit ditempatkan di luar Majapahit.

Informasi ini serupa dengan informasi Sejarah Dinasti Ming dimana utusan Cina juga dicatat ditempatkan diluar istana Majapahit. Utusan Cina dicatat ditempatkan 1,5 hari perjalanan dari pelabuhan. Menurut Hikayat Banjar, jarak antara pelabuhan dan istana Majapahit dicatat sejauh 3 hari perjalanan. Terpaut 1,5 hari perjalanan dari informasi Sejarah Dinasti Cina. Dari hal tersebut, dapat dikatakan jika informasi kebudayaan dan tradisi Majapahit dalam Kidung Sunda memiliki kebenaran. Dengan kata lain baju baja emas Gajah Mada memang ada dalam sejarah masa lalu.*

Sumber

  1. Berg, Kindung Sundāyana (Kidung Sunda C), Soerakarta, Drukkerij “De Bliksem”, 1928.
  2. Irawan Djoko Nugroho, Meluruskan Sejarah Majapahit, Yogyakarta: Ragam Media, 2010.
  3. Irawan Djoko Nugroho, Majapahit Peradaban Maritim, Jakarta: Yayasan Suluh Nuswantara Bakti,
  4. Irawan Djoko Nugroho, Hubungan Mancanegara Era Majapahit. Makalah ini disampaikan dalam Diskusi Panel Serial ke-7 yang diselenggarakan Yayasan Suluh Nuswantara Bakti di Jakarta tanggal 5 April 2013.
  5. Zoetmulder, P.J. Kamus Jawa Kuno-Indonesia. Vol. I-II. Terjemahan Darusuprapto-Sumarti Suprayitno. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama, 1995.

Sumber Gambar

  1. https://id.wikipedia.org/wiki/Berkas:Relief_of_Indonesian_History,_Monas.JPG
  2. http://www.wikiwand.com/id/Tameng

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*