Penulisan angka dalam bahasa Jawa Kuno bila mengacu pada literature pada masa lalu, ternyata tidak menggunakan simbol. Sekalipun simbol angka di Jawa Kuno juga telah dikenal.

Karena tidak menggunakan simbol, maka angka dalam bahasa Jawa Kuno menjadi sangat unik. Terutama dalam pengucapannya. Tiap penutur bahasa Jawa Kuno pada masa lalu memiliki bacaan yang kadang tidak sama untuk menyebut sebuah angka. Misalnya saja angka 21 disebut dengan salikur namun juga disebut dengan rwang puluh tunggal.

Demikian pula angka yang diadopsi dari bahasa Sansekerta. Ternyata pengadopsian tersebut dapat memiliki arti yang ganda. Untuk mengetahui keunikan pengucapan angka dalam Bahasa Jawa Kuno, berikut ini ditampilkan angka dalam Bahasa Jawa Kuno beserta sumber teks literaturnya.

 Angka Jawa Kuno

 Dibawah ini adalah angka dan pengucapannya dalam bahasa Jawa Kuno berdasar Kamus OJED, karya Zoetmulder.

1          siji – (Sor 4.77: salah siji tan iloni)

2          rwa, ro, roro – (KHWj 1.18: sang rwa bineda)

3          tĕlu –  (Ad.6: tĕlung atus tĕlung puluh tĕlu, 333)

4          pat, pāt – Ad.5: wwalung puluh pat (84)

5          lima

6          nĕm, enĕm

7          pitu – (L. 8.6: telas tabeh pitu)

8          wwalu, wolu – (Kor.62: wolu ngaran ing asta)

9          sanga – (Ad 5: nemang puluh sanga, 69)

10        sapuluh

Untuk angka belasan, pengucapannya pada setiap angka ditambah kata akhiran wĕlas ‘belas’.

Misalnya angka sebagai berikut.

  1. 14 diucapkan pat wĕlas.
  2. 17 diucapkan pitu wĕlas.
  3. 19 diucapkan sanga wĕlas.

Contoh kalimat.

  1. Yata inajarakĕn ing Aşţadaśaparwa, wwalu wĕlas caritanya, pĕjah nirawaśeşa irikang wwalu wĕlas wĕngi. ‘Itu semua termuat dalam Aşţadaśaparwa, 18 buah ceritanya, semua mati tiada bersisa dalam waktu 18 malam, (Siman Widyatmanta, 1968:5).

Untuk angka dua puluh, dalam bahasa jawa Kuno disebut likur, Zoetmulder, 1995: 596.  Pengucapan pada setiap angka 20 ke atas hingga 29 ditambah kata akhiran likur ‘dua puluh’.

Misalnya angka sebagai berikut.

  1. 25 diucapkan limalikur, (Siman Widyatmanta, 1968:8)
  2. 26 diucapkan nĕmlikur.
  3. 28 diucapkan wwalulikur.

Namun demikian untuk angka 20 kadang ditulis rwang puluh dan 21 kadang ditulis dengan rwang puluh tunggal (Siman Widyatmanta, 1968:8).

Sedangkan untuk angka tiga puluhan, ratusan dan ribuan dan seterusnya, setiap angka ditambah partikel ng kemudian diikuti keterangan puluh, atus, iwu dan seterusnya. Misalnya angka sebagai berikut.

  1. 30 diucapkan tĕlu-ng-puluh
  2. 900 diucapkan sanga-ng-atus
  3. 5000 diucapkan lima-ng-iwu.

Contoh kalimat.

  • Kunang śloka ning Bhīşmaparwa, limang iwu wwalung atus wwalung puluh pât. ‘Sloka Bhīşmaparwa, lima ribu, delapan ratus delapan puluh empat (8.884)’, (Siman Widyatmanta, 1968:7).
  • Kunang kwehning kudanya, nmang ayuta, nmang atus, limang puluh wiji. ‘Jumlah kudanya enam juta enam ratus lima puluh ekor (6.000.650)’, (Siman Widyatmanta, 1968:5).

Khusus untuk angka 1 (siji) pada angka 11, diucapkan dengan kata: sawĕlas. Demikian pula angka 100, 1000 dan seterusnya, dimana angka awalnya adalah 1 (siji), maka kata siji hanya disingkat dengan kata sa kemudian ditambah akhiran puluh, atus, iwu dan seterusnya. Penggunaan akhiran puluh, atus, iwu dan seterusnya tidak mendapat partikel ng.

Misalnya angka sebagi berikut.

  1. 10 diucapkan sapuluh bukan sa-ng-puluh
  2. 100 diucapkan satus bukan sa-ng-atus
  3. 1000 diucapkan sa-iwu bukan sa-ng-iwu

Dalam pengucapan angka awalnya adalah 1 (siji) untuk angka 1000, pengucapan kata sa-iwu dapat diucapkan dengan kata sewu. Disini huruf a dan i terjadi proses nasalisasi. Seperti kata satai kadang diucapkan dengan kata sate.

Partikel ng selain digunakan untuk puluhan, ratusan, ribuan dan seterusnya, juga digunakan untuk angka satuan jika diikuti kata keterangan. Misalnya, Yapwan śloka ning Prasthânikaparwa: sâtus rwang puluh tigang siki. Śloka Prasthânikaparwa, seratus dua puluh tiga (123), (Siman Widyatmanta, 1968:4).

Di luar hal hal tersebut terdapat juga istilah angka yang khas di luar standar baku seperti tersebut di atas. Misalnya angka 21 dalam bahasa Jawa Kuno disebut salikur. Misalnya kata: Ekawingśati ksatriya, salikur kweh ning ratu pĕjah de nira sagajâśwarathapadâtinya. Ekawingśati ksatriya, dua puluh satu orang radja terbunuh olehnya, beserta dengan gajah, kuda dan keretanya, (Siman Widyatmanta, 1968:3-4).

Adopsi Angka Sansekerta di Jawa Kuno

Secara umum angka dalam literature Sansekerta berbeda dengan angka dalam literature Jawa Kuno. Namun demikian beberapa angka dalam literature Sansekerta diadopsi sebagai bagian dalam literature Jawa Kuno. Pengadopsian angka literature Sansekerta ke dalam literature Jawa Kuno memiliki dua kategori. Pertama seperti arti awal dalam literature Sansekerta. Kedua berbeda maknanya dengan literature Sansekerta.

Pertama. Pengadopsian yang seperti arti awal dalam literature Sansekerta. Misalnya kata sebagai berikut.

  • Tri ‘tiga’ (Skt) diadopsi dalam bahasa Jawa Kuno dengan arti yang sama yaitu tiga. Contoh: sang tri tinunggalakĕn (Sum. 13.1), lihat Zoetmulder, 1995: 1274.
  • Catur ‘empat’ (Skt) diadopsi dalam bahasa Jawa Kuno dengan arti yang sama yaitu empat, lihat Zoetmulder, 1995: 165.
  • Sapta ‘tujuh’ (Skt) diadopsi dalam bahasa Jawa Kuno dengan arti yang sama yaitu tujuh. Contoh: rĕp prāpta n ghatiteki sapta karĕngō ri huwus ira amingrwani ng gati, Sut. 88.3, lihat Zoetmulder, 1995: 1033.
  • Aşţa ‘delapan’ (Skt) diadopsi dalam bahasa Jawa Kuno dengan arti yang sama yaitu delapan, lihat Zoetmulder, 1995: 70.
  • Daśa ‘sepuluh’ (Skt) diadopsi dalam bahasa Jawa Kuno dengan arti yang sama yaitu sepuluh. Contoh: gaja tunggal aśwā daśa (BY 10.17), lihat Zoetmulder, 1995: 202.

Kedua. Pengadopsian yang berbeda dengan arti awal dalam literature Sansekerta. Misalnya kata sebagai berikut.

  • Tridasa ‘tigapuluh’ (Skt) dalam Jawa Kuno berarti tigabelas. Contoh: humerakĕn tridaśawarşa, AbhW 45.8, lihat Zoetmulder, 1995: 1274.
  • Laksa ‘100.000’ (Skt) dalam Jawa Kuno berarti 10.000, lihat Zoetmulder, 1995: 558. Contoh: Nawendriyâgnimukhaśȗnyaśaśangkasangghah, sangang yuta, limang kĕti, tĕlung laksa, sangang iwu, limang puluhNawendriyâgni mukhaśȗnyaśa śangka sangghah, Sembilan juta, lima keti, tiga laksa, sembilan ribu, lima puluh (9.539.050), (Siman Widyatmanta, 1968:5).

Catatan.

Dalam bahasa Jawa Kuno, angka 60.000 kadang tidak ditulis nĕmang laksa namun juga nĕmang puluh iwu. Misalnya, Hana ta ya pangnyomulu wetan, śatayojanam âyatam, satus yojana dawânya, kahanan sang saşţisahasra Wâlakilya, ṛşi siddha sira, sângguşţa pangadĕg ny awak nira, nĕmang puluh iwu kweh nira. ‘Ada salah satu cabangnya yang menganjur ke timur, śatayojanam âyatam, panjangnya 100 yojana, menjadi tempat Walakilya sebanyak 60.000 orang; mereka resi-resi yang sempurna, sakti :  ukuran badannya hanya sebesar ibu jari, semua berjumlah 60.000 orang’ (Siman Widyatmanta, 1968:56).

Angka-Angka Besar

Dalam Jawa Kuno dicatat sebuah angka yang besar. Misalnya dicatat dalam Bhīşmaparwa 25: satus iwu laksa koti prĕmananya. Satus iwu laksa koti berarti 100.000.0000.0000000 / 10.000.000.000.000.000 atau sepuluh kuadriliun, jika koti  berarti 10 juta (Zoetmulder, 1995: 513). Namun juga dapat berarti 100.000.0000.00000  / 100.000.000.000.000  atau seratus triliun, jika koti berarti 100.000 (Zoetmulder, 1995: 513).

Istilah Laksa

Kata Laksa, memang merupakan sebuah kata yang sangat unik. Ia dapat berarti 100.000, namun namun juga berarti 10.000. Sebagaimana keterangan Adi Pratomo mengacu pendapat Coedes, Laksa berarti 10.000 berdasar acuan Dictionary ed. Wilkinson, 1901-1903 (13 abad kemudian). Dan Laksa berarti 100.000 mengacu pendapat Kulke. Hanya saja acuan Kulke tidak disebutkan.

Dalam OJED nya Zoetmulder, Laksa ternyata adalah kata Sansekerta. Artinya 100.000. Namun ketika diadopsi dalam Jawa Kuno, Laksa berarti 10.000. Ketika dicari secara seksama penggunaan kata Laksa dalam teks, ternyata Laksa dijumpai dalam teks Adiparwa. Yaitu: Nawendriyâgnimukhaśȗnyaśaśangkasangghah, sangang yuta, limang kĕti, tĕlung laksa, sangang iwu, limang puluh. ‘Nawendriyâgni mukhaśȗnyaśa śangka sangghah, Sembilan juta, lima keti, tiga laksa, sembilan ribu, lima puluh (9.539.050), (Siman Widyatmanta, 1958:5). Dari hal itu, maka dapat dikatakan jika penggunaan kata Laksa dalam bahasa Jawa Kuno memang berarti 10.000.

Dari hal tersebut, Jawa menjadi satu dari sedikit bangsa pada masa lalu yang memiliki angka-angka besar. Adapun salah satu teks yang menyebut angka besar tersebut adalah BhP 25: satus iwu laksa koti prĕmananya.

Berikut Tabel Angka Jawa

Angka Sansekerta Jawa Kuno Jawa
10 Daśa Puluh puluh, doso
100 Atus, Śata hatus, soto
1000 Sahasra Iwu hewu, sasra
10.000 Laksa Lakso
100.000 Laksa, Koti (Kĕti) Kati
1000.000 Yuta Yuta
10.000.000 Arwuda, Koti Wandro
100.000.000 Boro
1000.000.000 Parti
10.000.000.000 Partomo
100.000.000.000 Gulmo
1000.000.000.000 Kerno
10.000.000.000.000 Wurdo

 

Angka Baca Contoh
0
1 Siji Sor 4.77: salah siji tan iloni
2 rwa, ro, roro KHWj 1.18: sang rwa bineda
3 tĕlu Ad.6: tĕlung atus tĕlung puluh tĕlu (333)
4 Pat, pāt Ad.5: wwalung puluh pat (84)
5 lima
6 Nĕm, enĕm
7 pitu L. 8.6: telas tabeh pitu
8 Wwalu, wolu Kor.62: wolu ngaran ing asta
9 sanga Ad 5: nemang puluh sanga (69)
10 sapuluh

 

Sumber:

  1. Siman Widyatmanta, Adiparwa. Vol. I dan II. Cetakan Ketiga. Yogyakarta: U.P. “Spring”, 1968.
  2. Zoetmulder, P.J., Kamus Jawa Kuno-Indonesia. Vol. I-II. Terjemahan Darusuprapto-Sumarti Suprayitno. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama, 1995.
  3. https://lh5.googleusercontent.com/-YYXyBGF_YCY/TW4945yj4KI/AAAAAAAAB6w/9Obz7170yF4/s1600/numeric+jawa.jpg

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*