(Sebuah Tanggapan Atas Makalah Ir. Achmad Chodjim)

Ir. Achmad Chodjim, MM dalam sebuah makalahnya mengatakan bila pengertian agama antara masa kini dan masa lalu memiliki perbedaan. Menurutnya, agama dalam serat-serat kuna tidak pernah dipakai sebagaimana yang dialami dewasa ini.

Lebih lanjut ia mengatakan bahwa: “Dalam bahasa Jawa Kuna kita tidak mendapatkan entri agama dalam arti seperti sekarang. Entri agama dalam Ramayana kakawin bermakna ilmu pengetahuan, seperti pada kalimat “Prihen temen wara-wrahen ring agama” (Usahakan benar-benar, berilah ajaran tentang ilmu pengetahuan). Entri agama dalam bahasa Jawa Kuna juga berarti kitab hukum atau undang-undang. Jadi pada zaman kuna di Nusantara ini, agama dalam pengertian kepercayaan terhadap Tuhan atau Dewa serta ajaran dan kewajiban yang bertalian dengan kepercayaan, belum ada, (Achmad Chodjim, 2014: 1).

Menurut Achmad Chodjim kembali, kosa kata āgama berasal dari bahasa Sansekerta yang menurut Olaf Herbert Schumann kata agama secara khusus dipakai di kalangan yang cenderung melakukan ajaran tantrisme. Disitu agama berarti memperoleh pengetahuan yang terdapat dalam sastra-sastra agama dan mengandung pengetahuan tentang kehidupan manusia ditengah-tengah kosmos dan cara mengendalikan kuasa-kuasa yang bekerja di dalamnya. Dengan kata lain agama adalah pengetahuan tentang hukum, baik hukum untuk mengatur manusia maupun untuk mengendalikan kuasa-kuasa kosmos agar manusia dapat hidup selamat, (Achmad Chodjim, 2014: 1).

Pendapat Achmad Chodjim diatas tentu sangat menarik. Lepas dari uraian panjang lebarnya terkait penggunaan kata agama hingga era Mataram, ada satu hal yang kiranya perlu menjadi catatan pendapat tersebut.

Kamus Versi Mardiwarsito

Sebagaimana penjelasannya, Achmad Chodjim menyebutkan bila sumber pendapatnya tentang agama didasarkan dari Kamus Jawa Kuna-Indonesia versi Mardiwasito yang diterbitkan oleh Penerbit Nusa Indah-Flores tahun 1981, (Achmad Chodjim, 2014: 1). Bila mengacu pada kamus versi Mardiwasito, maka pendapat Achmad Chodjim dapat dibenarkan.

Namun demikian, sayangnya kamus itu bukan merupakan kamus standar dan lengkap. Terdapat kamus Jawa Kuna lain yang menjadi standar penerjemahan kata atau kalimat Jawa Kuna serta lebih lengkap dari versi Mardiwasito. Kamus itu adalah kamus versi Zoetmulder yang berjudul Old Javanese-English Dictionary. Versi bahasa Indonesianya pun telah ada sekalipun tidak selengkap versi Inggrisnya. Versi bahasa Indonesia diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama terjemahan Darusuprapta dan Sumarti Suprayitna, dua orang dosen senior Filologi UGM tahun 1995.

Dalam kamus Jawa Kuna versi yang lebih lengkap tersebut, agama atau āgama adalah sebuah kata dari bahasa Sansekerta yang berarti doktrin atau aturan tradisional yang suci, himpunan doktrin semacam itu, atau karya suci, (Zoetmulder, 1995:12). Salah satu contoh yang ditampilkan Zoetmulder adalah kata Sīwâgama. Kata Sīwâgama berdasar kamus tersebut menjadi berarti doktrin atau aturan tradisional yang suci milik pemeluk Siwa, atau karya suci bagi pemeluk Siwa. Disini agama dalam pengertian kepercayaan terhadap Tuhan atau Dewa serta ajaran dan kewajiban yang bertalian dengan kepercayaan, telah ada. Bukan belum ada sebagaimana penjelasan Achmad Chodjim.

Āgama menurut versi Zoetmulder bukan sekedar ilmu pengetahuan dalam arti luas, namun lebih khusus menyangkut doktrin peribadatan dalam arti yang lebih spesifik terutama berkaitan dengan pengertian kepercayaan terhadap Tuhan atau Dewa serta ajaran dan kewajiban yang bertalian dengan kepercayaan.

Banyak entri kata yang dijadikan rujukan Zoetmulder terkait kata agama. Misalnya kata: Āgamapramāņa yang berarti agama sebagai jalan untuk mendapatkan pengetahuan, kesaksian kitab suci. Āgamaśāstra berarti karya-karya suci dan Āgamawidhi berarti aturan-aturan (hukum) tradisi suci. Semua entri kata yang menggunakan kata agama, artinya bukan ilmu pengetahuan dalam arti luas.

Agama Versi Achmad Chodjim, Betul atau Salah

Mengingat rujukan yang digunakan Achmad Chodjim terkait agama, bukan merupakan kamus standar dan lengkap, maka dapat dikatakan jika pengertian agama versi Achmad Chodjim adalah salah. Seharusnya Achmad Chodjim dalam melakukan terjemahan tidak menggunakan kamus Mardiwasito namun menggunakan kamus Zoetmulder.

Dengan menggunakan kamus non standar dan tidak lengkap, penafsiran menurut paparan Achmad Chodjim selanjutnya menjadi keliru. Bila kekeliruan itu terjadi untuk diri sendiri, maka tentu tidak bermasalah. Namun bagaimana bila kekeliruan itu disampaikan kepada masyarakat. Sangat dikhawatirkan masyarakat yang tidak mempelajari bahasa Jawa Kuna akan ikut keliru mengikuti arus pemaparan yang ada. Atau pun mereka membenarkan yang keliru dan menyalahkan yang benar dengan semangat fanatisme. Kalau sudah begitu, bagaimana?

Sumber:

  1. Achmad Chodjim, Pendekatan Agama Pada Budaya Maritim Nusantara, Makalah disajikan pada Diskusi Panel Serial yang diselenggarakan oleh YSNB, Jakarta, Sabtu 3 Mei 2014.
  2. Zoetmulder, P.J., Old Javanese-English Dictionary. Vol. I-II. ‘s Gravenhage: Martinus Nijhoff, 1982.
  3. Zoetmulder, P.J., Kamus Jawa Kuno-Indonesia. Vol. I-II. Terjemahan Darusuprapto-Sumarti Suprayitno. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama, 1995.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*